Senin, 28 Desember 2009

Saat Perbedaan tak Lagi Indah

Sakitnya hati yang tercabik karena telah ditolak..
Tapi ternyata lebih sakit lagi yang telah menolak.

Lho.. kok bisa ya?

Every day must meet him, padahal kemarin udah menolak. Bersiaplah karena bakalan ada karung goni bermuatan 30 ton siap menghantam! Bukan karung goni dalam keadaan real, tapi tumpukan rasa bersalah kita.

Perubahan sikapnya yang mendadak, terkadang lebih buruk, tidak jarang pula lebih baik karena pengharapan cintanya akan diterima suatu hari.

Susah ya,
Apalagi kalau dalam keluarga sangat mendukung untuk menolak, sedangkan dia masih asyik-asyik saja mengharapkan kita.
Yang salah siapa?

Dalam menjalin hubungan pasti sering kita dengar, orang tua berbicara
"Nduk, kalau milih pasangan harus tetap ingat bibit, bebet, dan bobot ya Nduk?"

Padahal aku juga belum jelas apa ketiga makna kata itu.

Tapi sekarang, aku agak ngerti. Bukan bermaksud membeda-bedakan kaum, hanya saja untuk menghindari ketimpangan sosial maka alangkah baiknya kalau calon tidak terlalu timpang.

Agama hanya pakaian, suku merupakan pelangi, kekayaan hanya penutup, sarjana atau bukan hanya.. yah... idealis!

Tapi masyarakat tidak butuh itu!

Manusia dilahirkan dengan visi dan misi masing-masing. Tentu penulis juga sadar kita berkedudukan sama di hadapanNya. Tapi penulis hidup di Indonesia, dengan bermacam-macam kultur dan budaya. Agama tidak bisa dicampur-adukkan. Karena jelas, visinya sudah berbeda!

Kesadaran buat melepaskan kebahagiaan jauh lebih mulia daripada mencintai itu sendiri. Kesadaran dan kesabaran hanya dimiliki oleh jiwa yang telah dewasa.

Biar orang bilang, perbedaan itu indah! Ternyata tidak selamanya berbeda itu indah!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentarnya sementara dimoderasi ya 😁 dan jangan tinggalkan link hidup. Nanti BW baliknya lewat profil teman-teman. Terima kasih untuk tidak menggunakan "ANONIM".

Recommendations by Engageya