Kamis, 04 Februari 2010

Si Kecil "Sang Semut Merah"

Siapa yang tidak mengenal semut rangrang? Ya, semua orang mengenal semut jenis ini karena keberadaannya yang seringkali menempel di pohon dan sesekali menggigit mereka yang mengganggu sarangnya.

Semut rangrang juga sering digunakan sebagai pestisida alami bagi pertanian organik. Dalam jumlah yang cukup jenis semut ini mampu menyerang hewan yang berukuran lebih besar sekalipun. Contohnya tikus, tikus sama sekali tidak menyukai daerah yang banyak dihuni oleh semut rangrangnya.

Selain dapat meningkatkan unsur karbon dalam tanah, semut rangrang juga diyakini mampu menjaga suhu dan kelembaban lingkungan pada kadar sesuai sehingga tanaman yang dihinggapi semut rangrang jauh lebih subur ketimbang tanaman lain.

Bagi pecinta burung, telur semut rangrang atau yang biasa kita kenal dengan kroto juga berkhasiat mampu meningkatkan kualitas suara (kicau) burung dan memperhalus bulu karena di dalam telur tersebut terdapat kandungan protein yang cukup tinggi sehingga mampu meningkatkan metabolisme dalam tubuh burung tersebut.

Dengan pengambilan kroto terus menerus, akan dikhawatirkan Sumber daya Alam (SDA) berupa telur semut rangrang akan berkurang seiring pengambilan terus menerus tanpa perkembangbiakan yang seimbang. Mengembang biakkan semut rangrang memang tidaklah mudah. Akan tetapi apa salahnya jika ikut mencoba mengembangbiakkan cara ini.

Pertama memang kita harus bekerja keras mencari sarang ratu semut dengan membelah satu demi satu sarang semut tersebut. Setelah mendapatkan sarang ratu semut, potong cabang tempat semut bersarang dan letakkan di cabang inang yang baru. Tidak ada salahnya juga diberi bangkai serangga dan cairan manis agar semut-semut tersebut betah di tempat tinggal mereka yang baru. (SM, 22 Januari 2010).

Jadi andaikan kroto diambil maka tetap ada ratu semut rangrang yang akan terus memproduksi telur-telur yang baru sebagai regenerasi dari semut rangrang tersebut.

Memang ada sedikit kendala yaitu jika muncul musuh dari semut merah yaitu semut hitam. Seringkali kita harus tetap mengawasi sarang semut yang baru. Pengganggu dari luar akan memaksa semut rangrang lari dan mencari sarang yang baru. Dengan demikian perkembangbiakkan semut rangrang tidak hanya berhenti sampai tahap pembuatan sarang baru, tetapi juga pengawasan terhadap siklus hidup semut merah tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentarnya sementara dimoderasi ya 😁 dan jangan tinggalkan link hidup. Nanti BW baliknya lewat profil teman-teman. Terima kasih untuk tidak menggunakan "ANONIM".

Recommendations by Engageya