Jumat, 16 Juli 2010

Keikhlasan untuk Kebahagiaan yang Tertunda

Teringat cerita jaman anak-anak, dari majalah Bobo kesayanganku dulu. Cerita tentang anak Indian yang mempunyai boneka kesayangan yang selalu menemaninya ke mana-mana. Dari mulai bangun tidur sampai tidur kembali. Hingga akhirnya desa Indian tersebut mengalami kekeringan, dan menurut Dukun dari desa tersebut satu-satunya cara agar hujan turun kembali adalah dengan melakukan pengorbanan, yaitu pengorbanan boneka kecil milik gadis mungil anak Kepala Suku. Singkat cerita, demi kemakmuran di negerinya sendiri, gadis kecil itu rela mengorbankan benda kesayangannya.

Bukan berarti saya mengiyakan untuk melakukan pengorbanan jika kita ingin turun hujan. Dalam Islam pun telah diajarkan tata cara meminta hujan.

Bukan itu, tapi something different yaitu sebuah "Pengorbanan". Seorang gadis kecil rela berpisah dengan boneka kesayangannya demi melihat kebahagian orang lain. So, kenapa terkadang kita  sebagai orang dewasa malah seolah-olah bersikap dramatis dan enggan untuk melihat orang lain berbahagia? Bahkan termasuk untuk orang yang kita sayangi? Bukankah jika kita menyayangi seseorang maka justru kita harus merelakan dia bahagia? Seperti gadis kecil itu yang menyayangi rakyatnya sehingga dia rela mengorbankan kebahagiaannya sendiri?



Pernah ku dengar seperti ini, "Janji Tuhan kepada kita, Jika kita merelakan kebahagiaan seseorang niscaya Dia akan menyimpan sesuatu kebahagiaan untuk kita yang lebih besar". 

So ikhlaskan yang terjadi. Insya Allah, Dia akan selalu bersama kita. Bukankah keikhlasan kita akan menyimpankan kebahagiaan untuk kita? Meski itu tertunda. Tapi percaya, janji Tuhan akan selalu ditepatinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentarnya sementara dimoderasi ya 😁 dan jangan tinggalkan link hidup. Nanti BW baliknya lewat profil teman-teman. Terima kasih untuk tidak menggunakan "ANONIM".

Recommendations by Engageya