Kamis, 22 Juli 2010

Sebelum Puasa di Kudus

Kudus, sebagai kota kecil di Jawa Tengah bagian utara memiliki banyak ciri khas. Di sini, saya hanya ingin sedikit mengulas detail dari Dandangan. Banyak blog sudah menceritakan tentang apa arti dari dandangan itu sendiri.

Pentingkah dandangan? Saya yang setiap hari lewat jalan Sunan Kudus mungkin juga sudah merasa bosan akan kemacetan yang dibuat pada saat dandangan, juga akan merasa sepi jika di Kudus tanpa dandangan. 

Tapi ironis sekali, ada suara keluar dari penduduk Kudus sendiri, "Mau ngapain ke Dandangan? Mau lihat orang desa jalan-jalan?" Apa ada yang salah dengan orang Desa? Kita hidup bersama, harusnya saling menghargai keberadaan masing-masing. Lagi, perayaan sebelum puasa ini cuma ada setahun sekali. Kenapa kita harus malu dengan kebudayaan sendiri? 

Seperti di kota-kota lain di Jawa Tengah, Semarang juga memiliki tradisi sebelum pelaksanakan puasa yaitu "Dugderan". Pada hari yang sama, di Kabupaten Klaten, Boyolali, Salatiga, bahkan Yogyakarta, banyak umat Islam yang menyambut datangnya Ramadhan dengan cara mandi di sumber-sumber air dan kolam pemandian dalam acara ”padusan”. Makna dari padusan adalah membersihkan diri lahir dan batin untuk menyambut datangnya puasa. 

Sebetulnya Dandangan sendiri memliki historis, konon upacara rakyat Kudus sudah ada sejak lama, ketika Sunan Kudus Syaikh Dja’far Sodiq masih sugeng, Menurut cerita, sejak zaman Syeh Jakfar Shodiq, salah satu wali songo penyebar agama Islam di Jawa, setiap menjelang bulan puasa, ratusan santri Sunan Kudus berkumpul di Masjid Menara guna menunggu pengumuman dari Sang Guru tentang awal puasa. Para santri tidak hanya berasal dari Kota Kudus, tapi juga dari daerah sekitarnya seperti Kendal, Semarang, Demak, Pati, Jepara, Rembang, bahkan sampai Tuban, Jawa Timur. Pada hari menjelang puasa, setelah berjamaah salat ashar, Sunan Kudus langsung mengumumkan awal puasa. Pengumuman itu dilanjutkan dengan pemukulan beduk yang berbunyi “dang-dang-dang”. Suara beduk yang bertalu-talu itulah yang menimbulkan kesan dan pertanda khusus tibanya bulan puasa. Berawal dari suara dang-dang, setiap menjelang puasa, masyarakat Kudus mengadakan tradisi Dandangan. 

Secara etimologis (ilmu tentang asal-usul kata) kata ”dandangan” mungkin berasal dari kata ”dandang” atau beduk yang ditabuh bertalu-talu oleh Syeh Ja’far Shadiq. Namun, kata tersebut juga bisa diasumsikan berasal dari kata ”ndang-ndang” (Bahasa Jawa) yang berarti ”cepat-cepat”. Kata cepat-cepat itu bisa dimaknai sebagai selekasnya menyiapkan makan sahur menjelang awal puasa esok hari. 

Sedikit saduran dari http://moxeeb.wordpress.com/2008/08/25/dandangan/ 

Dan sepertinya tahun ini, dandangan di Kab. Kudus akan diselenggarakan di jalanan biasa, sekitar pusat Menara Kudus, so jika mau lewat daerah situ, hati-hati ya dan pelan-pelan saja karena banyaknya pejalan kaki yang kebanyakan anak-anak dan orang tua. Sambil lihat kanan-kiri, siapa tahu ada barang antik yang dijual di situ. 

So, lestarikan budaya yang ada, sebagai salah satu perayaan untuk menyambut bulan suci Ramadhan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentarnya sementara dimoderasi ya 😁 dan jangan tinggalkan link hidup. Nanti BW baliknya lewat profil teman-teman. Terima kasih untuk tidak menggunakan "ANONIM".

Recommendations by Engageya