Senin, 20 September 2010

Sebagian Nafasku, dari Ibu

Ibu,

Seorang wanita biasa yang akan selalu aku puja selama umur hidupku. Ibuku bukan berasal dari sosok wanita ningrat. Ibu juga bukan seorang professor ataupun dari kalangan selebritis.

Ibu hanyalah wanita yang dengan ikhlas meninggalkan pekerjaannya demi menjaga anak-anaknya.



Tapi siapa aku?

Ketika ada penghitungan dosa, mungkin dosa terbesarku adalah kepada Ibu.

Bagaimana mungkin dulu aku sejahat itu.. Dengan kelelahan, beliau datang bersepeda jauh-jauh dari rumah menuju SDN Galih Pawarti, Bandung, sekolahku dulu hanya untuk menengokku, padahal aku tahu saat itu Ibu masih terganggu dengan TBC nya yang secara normal mungkin tak kuat mengayuh sepeda terlalu jauh tapi apa yang aku lakukan? Teganya aku malah meminta Ibu untuk pulang. Rasanya ingin menangis saja kalau melihat aku kecil yang sebegitu kejamnya terhadap Ibuku sendiri, Ibu yang sudah membesarkan aku. Tak tega semakin aku mengingat Ibu yang saat itu menangis di rumah.

Maaf Ibu, Tyas kecil banyak berhutang maaf untuk Ibu.

Ketika beranjak dewasa, ketika para gadis mulai jatuh cinta. Aku sama sekali tak mengerti dengan cara Ibuku melarang hubunganku dengan seseorang. Rasanya, saat itu, semua yang aku lakukan jadi serba salah. Setelah beberapa waktu, baru sedikit demi sedikit aku paham, Ibu memang punya insting tersendiri untuk menentukan kelayakan calon pasangan anaknya.

Maaf Ibu, lagi-lagi aku tak mengerti dengan cara kebijakanmu.

Dan aku selalu ingin menyanyikan lagu untuk Ibu,
"Terima kasih Bunda, untuk segalanya.. Kau berikan lagi, kesempatan itu. Tak kan terulang lagi, semua… Kesalahanku… yang telah menyakitimu"
Maaf ya mas Afgan, aku mengubah sedikit liriknya

Bagiku, Ibu adalah segalanya bagiku.

Menurutku Ibuku adalah pelukis, karena dari goresan-goresannya di buku usang milikku dulu, aku jadi mengenal dunia.

Mungkin tiada perancang busana yang mampu menyesuaikan bentuk tubuhku kecuali Ibu, sampai-sampai aku tak pernah PD pergi sendiri ke mall meskipun itu hanya untuk membeli baju. Selain itu Ibu memang suka menjahit, dan selama 13 tahun aku memakai seragam sekolah, aku bangga memakai seragam buatan Ibuku sendiri.

Ibu juga pelatih kebugaranku, guru Yogaku.. Hehe  aku ingin badanku seperti tubuh beliau, elastic dan sehat di usianya yang sekarang.

Ibu sebagai pahlawan kami, tak pernah lelah berjuang untuk mengajarkan anak-anaknya agar tetap bersemangat, tak kenal menyerah juga terus untuk berdoa. Masih ingat ajaran Ibu, ketika aku lari pontang-panting mencari perusahaan untuk penyelesaian tugas akhirku, saat itu Ibu yang selalu berdoa setiap detik setiap waktu demi keberhasilan tugas anaknya. Beliau yang selalu menghiburku saat ku menangis setelah ditolak beberapa perusahaan. Ibu, jika saja saat itu aku tidak mendapat dukunganmu, mungkin aku sudah menyerah saat itu juga.

Ibu, letnan kami yang sangat tegas, tak pernah mengajarkan kami untuk bermalas-malasan di manapun itu. Aku berasal dari keluarga militer sehingga dalam keluarga kami, Ibu tak kalah seperti Bapak. Kedisiplinannya dan juga ketegasannya, membuat kami begitu menyayanginya. Bayangkan saja, jika pendidikan yang diberikan kepada kami tidak begitu keras, mungkin mental kami tak akan sekuat ini, karena baginya, dunia luar akan lebih keras daripada dunia di dalam rumah. Kami juga tak pernah diajarkan untuk takut, karena rasa takut hanya untuk mereka yang bersalah. “Selama kita tidak benar-benar merasakan kesalahan, maka buang rasa takutmu jauh-jauh itu!” pesan Ibu kepada kami.

Dan inilah, bagian favoritku. Meski terkadang tak suka diganggu saat memasak, tapi aku selalu ingin berada di dekatnya saat memasak. Lebaran kemarin, akhirnya aku diberi kesempatan untuk membuat cookies bersama dan karena  sama-sama menyukai Chocolatos, maka kami pun mencoba membuat Cookies Manis Coklat Chocolatos. Hasil karangan kami berdua. Aku ingin handal seperti koki yang satu ini, dialah Ibuku.

Sosok wanita yang selalu aku anggap sempurna dan seseorang yang telah memberikan sebagian nafasnya untukku. Karena aku tak mungkin berdiri di sini jika bukan karenamu, Ibu.

Bukan bermaksud untuk membanggakan diri atau pun mengagumi diri sendiri, tapi dari sini aku kembali mengingat betapa perjuangan seorang Ibu untuk kita. Dan kini, tugas kita berjuang untuk Ibu, seperti kata Gita Gutawa, “Kan kubuktikan, ku mampu penuhi maumu”.

Akan selalu ada di hati kami,
Ibu.
comments

7 komentar:

  1. T_T bikin kangen ibu.....hikz

    BalasHapus
  2. Jaga ibu dg sebae2kna. . .n Ingt pesen2na.

    U d' best mom.

    BalasHapus
  3. Jaga ibu dg sebae2kna. . .n Ingt pesen2na.

    U d' best mom.

    BalasHapus
  4. bunda... maafkan anakmu ini...

    BalasHapus

Komentarnya sementara dimoderasi ya 😁 dan jangan tinggalkan link hidup. Nanti BW baliknya lewat profil teman-teman. Terima kasih untuk tidak menggunakan "ANONIM".

Recommendations by Engageya