Sabtu, 21 Mei 2011

Cerita Kecil dari Kak Ci

Terdiam di sudut,

Kupegang erat bantalku mencoba menutup mata. Tirai kamarku bergerak seakan ada yang sengaja meniupnya.

"Ya Tuhan, semoga yang aku lihat ini tidaklah nyata"

Wajah pucatnya dan sudut pandang kosong mencoba untuk mendekatiku tapi terasa enggan. Mungkin karena ada sesuatu yang ingin disampaikan tapi sulit untuk diungkapkan.

*****


Beberapa tahun yang lalu, entah tahun berapa saat itu. Kak Ci, seorang dokter di sebuah rumah sakit yang menangani bagian emergency. Keluar dari sebuah ruang kamar menuju ruang ICU. Pasien akan ditangani oleh Kak Ci, entah bagaimana aku bisa mengetahui bahwa Kak Ci adalah namanya tapi dia menggambarkannya demikian.

Kak Ci keluar dari ruang ICU dan berbisik pada salah seorang keluarga pasien dan setelah selesai berdiskusi Kak Ci kembali masuk ke dalam ruang operasi.

Beberapa jam setelah itu, ruang operasi tampak tenang. Keluarga yang lain berharap akan berita bagus. Ada dua anak dan 3 orang cucu. Kak Ci keluar dari kamar seraya menggelengkan kepalanya tanda kedukaan.

Tangisan dari seluruh keluarga yang menunggui pasien memecah keheningan ruang tunggu saat itu.

*****

Kak Ci menatapku, tanpa beban. Tapi...

*****

Seorang dari keluarga pasien mendatangi Kak Ci dengan amplop coklat diikat dengan benang merah.

Kak Ci tidak menjelaskan untuk apa ampop coklat itu, dia terus melanjutkan ceritanya

*****

"Saat itu, padahal aku sudah berkata,"Kami punya obat tapi tinggal satu persediaannya dan ada pasien lain yang juga memerlukannya. Bagaimana?"" kata Kak Ci.

"Mereka.."

tanpa perlu bertanya, Kak Ci sepertinya mengerti apa yang akan aku katakan selanjutnya.

"Malam itu, hujan deras mengguyur penjuru kota termasuk rumah sakit."

Kak Ci selesai bertugas dan naik ke dalam mobilnya. Entah karena hujan sehingga jalanan menjadi licin atau karena yang lain.

"Aku tergelincir turun ke bawah hingga dasar jurang dan akhirnya sampailah aku di sini"

Kak Ci menatapku tajam, bahkan sampai ke dalam rusuk-rusukku. Dinginnya malam menambah semakin mengerikannya kisah Kak Ci.

Hari-hari setelah itu karena dianggap kecelakaan, Kak Ci seolah dilupakan hingga keluarga dari Kak Ci meminta untuk diadakan penyelidikan. Rem mobil Kak Ci didapatkan terpotong, bekas pisau memotong rapi rem mobil.

Kepolisian akhirnya menetapkan tersangka dari kecelakaan tersebut yaitu keluarga pasien yang menginginkan kematian dari pasien itu.

Ada penyesalan dari raut Kak Ci, meski wajahnya yang ayu tak lagi berwarna merah karena tidak mengandung sel darah merah lagi tapi tampak jelas Kak Ci merasa menyesal.

Setidaknya dia (pasien) bisa tidur dengan tenang. Sementara aku??

Suara bilal yang mengumandangkan adzan Subuh memecahkan diskusi kami. Kak Ci menghilang cepat beberapa detik setelah aku memalingkan wajah.

Maaf Kak Ci, aku hanya mampu mendengarmu bercerita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentarnya sementara dimoderasi ya 😁 dan jangan tinggalkan link hidup. Nanti BW baliknya lewat profil teman-teman. Terima kasih untuk tidak menggunakan "ANONIM".

Recommendations by Engageya