Kamis, 19 Mei 2011

Senja Berikutnya


Aku sudah lupa bagaimana terjadinya, tapi saat itu..

Maghrib di pinggiran sungai Bantul, motor yang aku boncengi menabrak timbunan pasir. Kami terseret 5 meter dari motor, sedangkan dia (kakakku) terseret hampir 8 meter.


Motor terguling dan aku..

Tiba-tiba duduk terdiam, sepertinya aku lupa siapa saya ini. Bingung dan juga linglung.

Terang sekali dan sepertinya ada satu jalan mirip pintu terbuka dan menuju padang rumput hijau.

Jarak pandang hanya sampai radius 2 meter. Ramai di sekitarku, mengelilingi siapa mereka Sepertinya tak ada  yang aku kenal.

Ada bercak-bercak darah tak jauh dari tempatku duduk. Darah siapa itu gerangan? Ada yang kecelakaankah? pikirku.

"Ade.. Ade.. Kamu gak apa-apa?", suara ini khas bagiku.

Lama aku pandangi, ada seorang laki-laki berlari menuju ke arahku.

Iya, aku kenal. Dia kakakku, aku mengenalnya baik. Berdiriku melihat ke arahnya. Tampak ketakutan yang amat dalam dari raut wajahnya. Takut dengan Ibu, mungkin. Tapi kakak, aku tahu kau menyayangiku, saat itu.

Kakak memelukku erat.

Tubuh kecilku perlahan berdiri. Sedikit demi sedikit cahaya terang menghilang dan cahaya berubah menjadi senja di Jogjakarta.

Tuhan, terima kasih sudah mengijinkanku melihat senja-senja berikutnya.
comments

1 komentar:

Komentarnya sementara dimoderasi ya 😁 dan jangan tinggalkan link hidup. Nanti BW baliknya lewat profil teman-teman. Terima kasih untuk tidak menggunakan "ANONIM".

Recommendations by Engageya