Minggu, 14 April 2013

Dipingit Dulu..

Pernah mendengar kata dipingit? Dipingit identik dengan pernikahan meski tidak melulu berkaitan dengan hal tersebut sedangkan dipingit menurut KBBI yang berasal dari kata dasar pingit yaitu,
pingit/pi•ngit/ v, berpingit/ber•pi•ngit/ v berkurung di dalam rumah dan sebagainya:
Definisi dipingit di atas ternyata tidak serta merta dilakukan sebelum menikah karena nyatanya ada juga yang melakukan  pingitan setelah pra nikah. Maka saya bagikan waktu pelaksanaan pingitan dalam prosesi pernikahan.

Pingitan Pra Nikah

Orang Jawa yang akan menikah itu seharusnya dipingit dulu, yaitu dengan tidak diperbolehkan bertemu dengan calon istri/suaminya terlebih dahulu sampai menjelang akad nikah. Buat apa? Itu kan tradisi kuno??

Tenang dulu sob, pikiran kita sama. Aku juga mikirnya gitu, lha percuma aja dipingit kalau komunikasi masih terus berjalan. Kan ada sms? Whatsapp? Bbm? belum lagi media social chat lainnya?

But this is based on my true story, so listen to me. Dipingit itu sebetulnya buat menghindari adanya perdebatan antara calon manten, hehe sorry ya Jawa banget. Orang kalau mau menikah itu akan muncul pemikiran masing-masing. Dimulai perbedaan pendapat. Itu baru dari kedua calon, belum lagi orang tua si calon manten, jadi sudah ada 6 ide di sini (2 calon manten ditambah 2 masing-masing orang tua jadi 2+2+2=6). Belum lagi kalau muncul pihak ketiga yaitu Om, Tante, Pakdhe, Budhe, Tetangga, Teman jauh. Wah jadi rese bener dah! Hehe bercanda!

Kalau kata calon suami saya nih, "Kita harus membangun komunikasi terus menerus, jika ada masalah kita bicarakan baik-baik secara bersama-sama".

I think that is nonsense! Karena di sini statusnya masih calon ya belum jadi suami. Perbedaan adat istiadat kita masih sangat jauh berbeda. Jika ingin punya adat istiadat yang sama kenapa nggak nikah sama orang sekampung aja ha?! Yang sekampung saja masih belum tentu sama, tergantung dari dukuh yang sama atau tidak.

Sebetulnya dipingit menjauhkan dari pertengkaran-pertengkaran kecil pra nikah. Kenyataannya cuma saya yang melakukan pingitan sedangkan calon suami tidak. Masih calon ya statusnya saat itu. Beliau masih sibuk wara-wiri sehari sebelum pernikahan digelar dan masih sempat menanyakan susunan acara besok pagi. Hadeeeh.. -___-

Jadi sekalipun dipingit adalah tradisi kuno, yang mungkin menurut orang Islam aliran garis keras, mungkin akan dikatakan sebagai bid’ah karena hal seperti itu tidak berfaedah tapi menurut aku yang orang biasa dan jauh dari pesantren ini, dipingit itu perlu. Buat menjauhkan kedua perbedaan pendapat yang muncul sebelum hari H.

Komunikasi tetap perlu tapi seperlunya saja.

Karena yang terjadi, menjelang hari H suasana apapun jadi SRWT alias semrawut, pikiran kita mendadak jadi kemrungsung. Gaya bicara yang seharusnya santai jadi alot dan bersitegang. Mungkin karakter yang asli mulai bermunculan juga bisa terjadi, hehe.

Jadi sebaiknya bagi kamu yang mau menikah, gunakan waktu sebaik-baiknya. Hindari berdebat karena perdebatan itu muncul oleh hal-hal kecil yang sebetulnya sangat amat tidak penting sekali! halah hiperbola! Kalau mau komunikasi ya seperlunya saja, sering-sering ketemu juga tidak baik. Jadi yah.. Kamu sendiri yang bisa ngatur .

Alhamdulillah walaupun asalnya banyak yang bersitegang, pernikahan kami ternyata berlangsung secara sakral.


Pingitan Pasca Nikah

Setelah saya menikah tidak menjadikan saya bebas ke mana-mana pasca ijab kabul. Nyatanya keluarga mertua saya yang masih kental tradisi budaya Jawa murni memaksa kami untuk tidak pergi ke luar rumah sebelum sepasar.

Sepasar merupakan hitungan seminggu dalam penanggalan kalender Jawa. Jadi di Jawa ada 5 pasaran dengan jumlah hari yang sama yaitu hari Senin sampai Minggu tapi yang membedakannya adalah pasaran hari tersebut. Pasaran ada 5 pasar, yaitu Legi Pahing Pon Wage Kliwon. Jika kamu menikah saat hari Jumat Legi maka sampai jatuh di hari berikutnya di pasaran Kliwon, kita hitung Jumat Legi – Sabtu Pahing – Minggu Pon – Senin Wage – Selasa Kliwon, maka sampai Selasa Kliwon kita tidak boleh keluar dari rumah. Barulah hari Rabu nya kita sudah bebas melakukan aktivitas.

Pada umumnya pihak pria akan menyelenggarakan pesta pernikahan juga (acara ngunduh mantu) setelah sepasar tapi saat itu dari pihak mertua maunya memboyong pengantin perempuan sehari setelah ijab kabul di rumah mempelai perempuan.

Sangat disayangkan ya, jika saya melihat dari sudut pandang dari keluarga wanita setelah menyelenggarakan pernikahan yang cukup melelahkan jiwa dan raga tentu kami harus berbenah diri membereskan rumah belum lagi kalau ada beberapa tamu yang baru bisa datang keesokan harinya malah tidak bisa bertemu dengan sang nganten karena sudah keburu diboyong keluarga suami. Apalagi perasaan ibu saya waktu itu ya, baru ditinggal alm Bapak sekarang ganti anak gadisnya diambil orang.

Makanya ada juga suku tertentu yang boleh melaksanakan pernikahan setelah setahun pasca keluarga tersebut berkabung.

Berbeda sama orang Jawa asli memang, bahkan ada juga yang ketika Bapaknya meninggal anak gadisnya langsung dinikahkan saat itu juga di depan jenazah sang Bapak. Entah apa maksudnya? Yang saya lihat mereka tidak memperhatikan perasaan sang Ibu yang masih sedih karena ditinggalkan oleh suaminya. Belum lagi kalau dari keluarga besan malah langsung memboyong menantunya. Kualat teu?

Bersyukur sih, keluarga kami masih diberikan kesempatan buat menyelenggarakan Walimatul Ursy buat tamu undangan kami sendiri. Karena ada juga pihak lelaki yang setelah ijab kabul langsung membawa pengantin putri ke kediaman lelaki tanpa mengindahkan perasaan dari keluarga pengantin putri.

Saat menulis ini saya sudah mempunyai satu anak putra. Jadi catatan saja buat saya dan suami kelak, kalau nanti anak lelaki kami menikah kami tidak akan memaksakan langsung membawa menantu kami ke kediaman kami untuk acara ngunduh mantu sebelum sepasar.

Beruntung saya memiliki ibu mertua yang baik hati, meskipun berat dan harus dimarahi dulu akhirnya saya diperbolehkan keluar rumah juga meskipun belum ada sepasar karena memang saat itu ijin cuti menikah saya sudah selesai.

Baca juga nih tentang Ibu Mertua saya : Ibu Suamimu Adalah Ibumu Juga dan Ibumu Adalah Ibu Suamimu Juga

Yang dikhawatirkan beliau sebetulnya adalah biasanya pengantin membawa sawan. Jadi takutnya kalau saya amit-amit terjadi sesuatu di luar rumah. Makanya kenapa beliau melarang kami ke luar rumah sebelum jatuh sepasar.

Pada hari sepasar yang terakhir, ibu mertua membuat berkatan (baca : nasi dalam kotak berkat) lagi sebagai berkat sepasar. Sebagai tanda syukur karena sudah melewati sepasar pernikahan anaknya.

Bukan cuma sang pengantin saja yang dipingit melainkan keluarga orang tua sang pengantin juga tidak melakukan aktifitas jual beli bagi yang punya usaha. Biasanya jika ingin membuka toko lagi, sang empunya hajat akan mengundang tetangga sekitar untuk melakukan Rasulan (Selametan) barulah keesokan harinya membuka toko kembali. Tapi nyatanya waktu itu sih toko bangunan milik mertua saya masih buka seperti biasa pada hari ketiga setelah pernikahan kami :p.

Semua kembali kepada pribadi masing-masing, apakah ingin melakukan tradisi tersebut atau tidak.

Selamat menikmati masa-masa dipingit #eh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentarnya sementara dimoderasi ya 😁 dan jangan tinggalkan link hidup. Nanti BW baliknya lewat profil teman-teman. Terima kasih untuk tidak menggunakan "ANONIM".

Recommendations by Engageya