Senin, 27 April 2015

Honeymoon ala Backpacker (Surakarta Destination) part 2

Waktunya sarapan.. Pengen menikmati sarapan ala kota Solo. Yuk, ke Nasi Liwet Wongso Lemu yang sudah terkenal sejak 1955. Nah lho.. kok tertutup semua warungnya? Padahal sudah pukul 9.00. Belakangan diketahui, Nasi Liwet Wongso Lemu bukanya mulai pukul 18.00 ya..  Jadi kita mampir saja ke Warung Soto TRIWINDU. Cukup terkenal juga lho, soto sapinya juga enak. Puas di perut, puas di kantong. Harga semangkok soto sapi dihargai 20K IDR.


Awalnya mau ke Keraton Surakarta dulu tapi berubah rencana karena posisi kami berada di dekat istana Mangkunegaran. Naaah.. bagi yang belum pernah ke Solo, pintu masuk istana Mangkunegaran (gerbang) memang selalu ditutup. Kalau mau masuk, lewat bangunan sebelah kanan. Tapi saat itu kami juga belum tahu kalau pintunya ternyata sudah buka. Ya elaaah, dari tadi berdiri di sana sambil mikir ini kapan ya bukanya. Untuk hari biasa istana Mangkunegaran dibuka pukul 08.00-14.00

Kami diawe-awe (disapa) bapak tukang becak. Kami minta diantar saja ke Keraton Surakarta. Dari depan Mangkunegaran sampai ke Keraton ditarik 15K IDR.

Keraton Surakarta dan Keraton Mangkunegaran dulunya adalah dua istana berbeda dengan dua pemerintahan. Jadi dahulu kala, kalau rakyat Kasunanan (begitu menyebutnya untuk rakyat kerajaan Keraton Surakarta) jika mau menyebrang ke wilayah kerajaan Mangkunegaran harus pakai visa.

Di dalam keraton Surakarta, hanya diperbolehkan lewat depan pendopo. Kita cukup membayar 15K IDR untuk dapat masuk ke area sekitar Pendopo plus Museum Kasunanan. Sepertinya sekarang tiketnya langsung dijadikan satu antara area istana juga museumnya. Dari jalan masuk, kita sudah melihat Menara Kasunanan yang sampai sekarang masih dipakai Raja Paku Buwono untuk bersemedi, biasanya setiap malam jumat.

Pendopo yang digunakan Sultan untuk bertapa

Di pendopo Kasunanan terdapat 4 pilar utama. Pada malam tertentu diadakan tarian Cagar Buwono yang dilakukan oleh 8 orang penari dan katanya penari ke-9 dilakukan sendiri oleh Nyi Roro Kidul.



Keluar dari area istana, kita masuk ke museum Kasunanan. Di dalamnya terdapat sejarah berupa kehidupan rakyat Jawa pada jaman dahulu mulai dari kebudayaan, cara bercocok tanam, sampai ke perihal kapal besar untuk armada angkatan laut.

Keluar dari Kasunanan kami diantar bapak tukang becak menuju lokasi selanjutnya. Sekitar jalan istana memang tersimpan memori jalanan khas kota lama Jawa, sisi kanan kiri tembok tinggi tapi masih kokoh.


Sudah sampai Kasunanan rasanya rugi kalau tidak ketemu sama Kebo Bule Kyai Slamet. Kita mampir dulu ke Alun-alun utara. Ada yang unik dari kebo bule ini, mereka akan pergi sendiri setiap pagi lalu akan ngandang setiap pukul 9.00. Kebo bule ini akan diarak setiap malam 1 Sura keliling sekitar Jl Slamet Riyadi.


Untuk selanjutnya kami diantar pemandu wisata kami (yaitu Bapak tukang becak) ke Kampung Wisata Batik Kauman. Di sana terdapat para produsen batik tulis Solo yang akan memperlihatkan cara membuat batik tulis secara langsung. Di sini kita bisa memperoleh Batik Solo asli (bukan batik Pekalongan )dan menurut bapak tour guide kita, di sini lebih bagus dan lebih murah daripada di pasar Klewer. Note : ada harga ada rupa lho ya tapi di sini justru kainnya lebih bagus dan lebih tebal dengan print batiknya yang lebih jelas jadi otomatis harganya malah lebih mahal daripada di pasar Klewer.

pict by solografi.com

Sudah selesai beli batiknya, jangan lupa mampir pasar Klewer. Meskipun lokasinya di Solo tapi hampir semua dagangannya berasal dari Pekalongan. Jadi batiknya ya Batik Pekalongan.

Sudah setengah hari saatnya kami beristirahat buat lanjut perjalanan ke malam terakhir kami di Surakata dengan menonton pertunjukkan Wayang Wong Sriwedari  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentarnya sementara dimoderasi ya 😁 dan jangan tinggalkan link hidup. Nanti BW baliknya lewat profil teman-teman. Terima kasih untuk tidak menggunakan "ANONIM".

Recommendations by Engageya