Senin, 20 April 2015

Ibu Suamimu Adalah Ibumu Juga dan Ibumu Adalah Ibu Suamimu Juga

"Ibu suamimu adalah Ibumu juga dan Ibumu adalah Ibu suamimu juga" kata bijak yang aku dapatkan ketika menikah tahun 2013 dulu dari seorang yang bijak pula dan sudah berpengalaman mempunyai 4 mertua (karena nikahnya sudah dua kali) hehe.

Baru beberapa hari setelah menikah saya sudah kena semprot ibu Pi (Ibu Piyanti nama mertua saya tercinta hehe). Bagaimana tidak menikah menurut orang Jawa harus menunggu sepasar (seminggu dalam hitungan kalender Jawa yang kalau dikalenderkan Masehi berarti 5 hari) baru boleh keluar rumah. Nah, itu saya kan cuma dapat cuti seminggu, 3 hari buat di rumah sendiri mengurus pernikahan sendiri (kan Bapak sudah alm jadi apa-apa harus diurus sendiri sama Ibu sama adek) dan 3 hari buat di rumah suami. Haha tapi apa boleh dikata, kan memang cuti menikah cuma dapat segitu Bu, maafin ya Bu..

Foto saya waktu jadi nganten dikasih air minum "selamet" biar ngantennya selamet lahir batin


Tapi sebelum berangkat kerja kala itu, cuma dipeseni.. "Wes diati-ati selamet kabeh"

Kejadian ini yang bikin saya selalu ingat sama semprotannya, hamil kurang 3 minggu dari jarak melahirkan, Ibu marah-marah lagi karena soal rencana akikah anak. Pasalnya karena USG anak kami cowok jadinya kambing akikah itu harusnya 2, tapi karena saya sendiri belum akikah awalnya mau dibarengin tapi malah dimarahi Ibu karena nantinya akan terlalu banyak daging kambing yang harus disebar, dan itu akan dibagikan kepada siapa saja. Ada benarnya juga pendapat beliau. Walaupun pada akhirnya akikah anak lebih diutamakan dahulu.Tapi tetap saja kritikan beliau bikin saya takut dan stress jadi karena ini saya mengajukan cuti hamil jauh-jauh hari supaya bisa tenang di rumah Ibuku sendiri. Bumil kan harus menghindari stress berlebihan hehe halah berlebihan sekali aku ini. 

Sebetulnya saya ini termasuk yang sering kena semprot tapi toh itu semua demi kebaikan kami juga. Mungkin cara beliau yang berbeda dari cara Ibuku sendiri menasehati. Toh Ibu mertuaku juga Ibuku dalam versi lain.

Bagaimana? Medeni kan Ibu mertua saya? Hehe nggak juga ah.

Kita tidak pernah tahu apa yang dipikirkan oleh orang tua kita, seringkali kita salah menduga. Pernah suatu hari saat masih jadi nganten anyar saya berangkat kerja kan memang pagi buta, pukul 05.30 sudah berangkat. Karena saya merasa jadi menantu, ngenger lagi, tidak bisa bantuin apa-apa, bersih-bersih dan masak jadinya saya selalu berangkat tanpa sarapan karena takut membebani beliau. Padahal waktu itu ternyata Ibu mertua saya masak pagi-pagi buta ternyata memang memasakkan saya, sampai beliau menangis karena dikira aku tidak cocok dengan masakan beliau. Ya Allah.. Maafin Tyas lagi ya Bu.

Makanya jangan bersuudzon dulu sama Ibu Mertua kita ya Bu :)

Ibu mertuaku, Ibu Pi walaupun cuma lulusan MI (sebetulnya sudah sampai ke tingkat MTs tapi karena harus menikah dan keluar dari sekolah jadi ijazah beliau cuma sampai tingkat MI) tapi beliau ini mampu menyekolahkan ketiga anaknya sampai tingkat sarjana. Bahkan ketika ada orang mau meminang anak perempuannya yang masih SMP waktu itu, ditolak mentah-mentah karena Ibu ingin anaknya sekolah yang tinggi lebih dulu agar tidak seperti beliau.

Dalam usianya yang sudah lebih dari setengah abad (Kebetulan usia Ibu dan Ibu Pi sama persis, bahkan lebih tua Ibuku beberapa bulan) Ibu Pi mulai sering mengeluh sakit, dari tekanan darah tinggi, jantung, bahkan sekarang gula darahnya meningkat tajam. Berat badan Ibu sudah semakin menyusut, tapi itu sama sekali tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap bantu Bapak berjualan di toko dan terkadang masih memasak di rumah (kalau tidak kecapean). 

Semoga Dua Kartini dalam hidupku selalu dilimpahkan kesehatan, keberkahan, kesejahteraan, kebahagiaan dan diberikan rejeki yang selalu cukup seumur hidupnya. Aaamiin.

Salam sayang dari anakmu yang selalu kena semprot Bu, hehe


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentarnya sementara dimoderasi ya 😁 dan jangan tinggalkan link hidup. Nanti BW baliknya lewat profil teman-teman. Terima kasih untuk tidak menggunakan "ANONIM".

Recommendations by Engageya