Sabtu, 22 Agustus 2015

dan.. Perjuangan Itu Masih Berlanjut, demi ASI demi Baby Han

Sudah 6 bulan perjalanan aku belajar memompa ASI, dipotong 3 bulan menyusui langsung di rumah. Pertama kali sampai di kantor setelah istirahat cuti hamil dan melahirkan itu berasa kosong dan hampa. Bagaimana tidak? aku sudah terbiasa bersama bayiku seharian, menyusuinya sesuka hatinya. Sekarang harus melepasnya ke pelukan dot. Oh noo.. *mimik penghayatan dimulai*

Kenapa harus dot? Bagaimana dengan resiko bingung puting? Nanti reaksinya setelah hampir lama berjalan lho.

Ah,.. Sudah pernah kuliah bareng sama ibu yang ketitipan cucunya. Sudah pakai drama pula. Sampai akhirnya bagaimanapun jadi aku yang mengalah, sebetulnya bukan mengalah sih tapi lebih menelaah kekurangan diri sendiri. Waktu itu baru sehari ditinggal, baby Han langsung tidak mau menyusu langsung, wah aku langsung suudzon sama dot. Begitu drama dimulai, aku mulai disalahin ibu, sudah diuyek belum PDnya? Sudah cuci tangan belum? Maag-mu sedang gak kumat kan? Iya, terkadang saat maag, ASIPku berubah rasa menjadi kecut. Dari bau saja sudah menyengat. Karena itu, kadang dia menolak minum ASIP, ya itu tadi karena kadar lipase tinggi. Satu-satunya cara, sebelum masuk kulkas direbus dahulu ASIPnya, jangan sampai mendidih betul tapi hanya sampai muncul buih kecil langsung diangkat.

Nah, kalau kerja bagaimana? Disambung sufor? Hmm, ya pakai ASIP itu seadanya. Alhamdulillah masih mencukupi.

Jadi selama aku kerja ini kulkas pak kepala teknik sudah menyelamatkan ASIPku, selesai memompa lalu aku titipkan di kulkas teknik lalu sore hari aku bawa pulang menggunakan cooler bag. Ya, terkadang aku gak titip juga sih, langsung aku taruh di coolerbag aja kalau lagi malas.

Kulkas di Bagian Teknik

Tapi akhir-akhir ini, aku merasa hasil pompaku makin sedikit . Mungkin baby Han sudah 9 bulan tapi... Ah masak iya? Kan kemarin aku memang sedang kecapean ditambah stress Ibu menyusui tidak boleh stress ya, ingat tingkahnya yang menggemaskan buat menghilangkan stress. Orang-orang yang menyebalkan tidak usah diingat-ingat. Minum suplemen kalau memang perlu. Alhamdulillah kemarin mulai banyak lagi, setidaknya.

Aku perlu berjuang lebih giat lagi. Sudah jauh-jauh ke pasar. Nyarii kacang kulit, minum kacang hijau. Daaan.. paling sedih nih, menelan telur ayam kampung mentah, mentahnya ditebelin haha soalnya memang perih sih tapi ya demi baby Han yang unyu-unyu. Yang aku rasakan dibanding teman-temannya yang lain, Alhamdulillah baby Han tergolong bayi yang tidak mudah sakit. Sekalinya sakit itu panas habis imunisasi DPT. Diem seharian, rewel juga. Tapi kemarin alhamdulillah habis campak tidak panas, cuma hangat sedikit, tapi ya diem juga seharian. Eh iya Buibu imunisasi juga penting ya, setidaknya sedia payung sebelum hujan.

Mungkin aku bukan pejuang ASI sejati tapi setidaknya aku berjuang. Doakan kami sampai lulus S2 jadi sarjana ASInya ya, kalau bisa lanjut sampai S3. Ibunya saja anak ASI sampai 30 bulan kok, mosok anaknya tidak.

Yuk berjuang! Semangat!


comments

2 komentar:

  1. Cemunguthhhhh... GO for ASI...ASI is the best

    BalasHapus
  2. Semangaaat yaaa ...smoga sukses menyusuinya, eh mbak aku juga stay di Muria Kudus looo :)

    BalasHapus

Komentarnya sementara dimoderasi ya 😁 dan jangan tinggalkan link hidup. Nanti BW baliknya lewat profil teman-teman. Terima kasih untuk tidak menggunakan "ANONIM".

Recommendations by Engageya