Kamis, 10 September 2015

Sterilisasi vs Walik Dadah

Akhir-akhir ini, beberapa rekan saya yang telah melalui kehamilan beberapa kali (lebih dari dua kali), dan mereka dianjurkan untuk sterilisasi atau tubektomi.

Apa itu tubektomi?

Tubektomi adalah proses pengikatan saluran telur dengan cara mengoperasi dinding perut dengan tujuan menghambat pengeluaran sel telur sehingga tidak terjadi pembuahan. Yaitu dengan mengikat atau memotong atau juga memasangkan cincin pada saluran telur (tuba falopi), maka pengeluaran sel telur akan menjadi terhambat. Akhirnya sel sperma tidak akan bertemu dengan sel telur.

copyright: Bagian-bagian rahim. diambil dari alat peraga sist.reproduksi perempuan BKKBN (foto by HS.2011)

Beberapa hal positif jika memilih tubektomi, yaitu di antaranya

  1. Sangat efektif, karena merupakan metode kontrasepsi permanen.
  2. Tidak mempengaruhi proses pemberian ASI
  3. Tidak bergantung pada faktor senggama
  4. Akan lebih bermanfaat bagi anda yang memiliki riwayat kehamilan beresiko karena akan terhindar dari keadaan tersebut
  5. Dilakukan dengan pembedahan sederhana, dapat dilakukan dengan anestesi lokal
  6. Tidak ada efek samping dalam jangka panjang, serta
  7. Tidak mempengaruhi keadaan fungsi seksual karena tidak ada efek pada produksi hormone ovarium.


Akan tetapi tubektomi juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu 
  1. Metode ini merupakan metode kontrasepsi permanen yang tidak dapat dipulihkan kembali, kecuali dengan operasi rekanalisasi
  2. Anda mungkin akan menyesal di kemudian hari karena memilih metode ini. Ini bisa terjadi jika anda belum memiliki keyakinan yang benar-benar mantap memilih metode ini.
  3. Akan mengalami rasa sakit dan ketidaknyamanan jangka pendek setelah dilakukan pembedahan
  4. Risiko komplikasi dapat meningkat jika dilakukan anestesi umum
  5. Dibutuhkan dokter spesialis ginekologi atau dokter spesialis bedah jika yang dilakukan adalah proses laparoskopi
  6. Tidak dapat melindungi anda dari infeksi menular seksual, termasuk HIV/AIDS.

Ada beberapa alasan yang mengharuskan seseorang untuk tubektomi, bisa saja karena sudah yakin untuk tidak ingin memiliki anak lagi atau ada karena alasan medis yang sangat mengkhawatirkan jika si ibu sampai hamil lagi.

Pada kasus saudara saya, beliau sudah menjalani operasi sectio caesar (sc) tiga kali. Yang pertama dilakukan secara insisi transversa rendah (low transverse incision), lalu pada kelahiran kedua yaitu dengan membuka lagi jahitan pada operasi sc pertama, nah yang ketiga ini dilakukan secara longitudinal incision atau jahitan vertikal. Dikatakan oleh obgyn saudara saya, bahwa pada operasi ketiga pasti ada pelekatan rahim, maka dari itu jika sampai si ibu hamil lagi dikhawatirkan akan terjadi komplikasi. Jangan dikira orang yang melahirkan secara sc dikatakan mudah, cari enaknya saja. Oh tidak? Sudah tahu kan betapa ngerinya proses kelahiran secara sc? Tetapi jika anak pertama sc, akan dimungkinkan kelahiran kedua dst dilakukan secara normal, sudah pernah saya rangkum di sini.

Lalu rekan saya yang satunya karena kehamilannya bermasalah dan sangat dikhawatirkan jika sampai hamil lagi. Memang sebagai catatan, beliau melahirkan anak keempatnya (kehamilan ketujuh) ini juga bisa dikatakan takdir, karena sebelumnya beliau sudah ikut KB spiral. Tapi mungkin Yang Maha Kuasa punya maksud lain.

Berbicara mengenai KB, katakan saja tubektomi adalah tindakan KB secara medis, untuk mencegah kehamilan lagi. Lalu bagaimana dengan KB tradisional?

Sudah pernah dengar "Walik Dadah"? Walik Dadah merupakan pijat perut (rahim) yang dilakukan oleh dukun beranak (paraji), bertujuan untuk menaikkan rahim dari posisinya sehingga sperma akan "kejauhan" untuk mencapai final (ovarium). Tentunya harus dilakukan oleh orang yang benar-benar berkompeten dalam bidangnya. Bagaimana mengujinya? Lihat dari testimoni orang-orang sekitar kita.

Jangan dikira paraji jaman sekarang belum kena edukasi ya. Mereka sudah terlatih oleh tenaga medis, dan memang ada pelatihannya, bahkan ada sertifikat pelatihannya juga. Karena banyaknya masyarakat kita yang masih percaya paraji, biasanya sih cuma untuk memijat bayi yang keseleo atau terkilir, atau cuma untuk memandikan bayi yang belum lepas ari-ari (puputan). Saya saja diajari ibu paraji bagaimana cara memberikan bedak di sekitar selangkangan bayi. Konon katanya banyak ibu muda yang memberi tabur bedak sembarangan jadi menutupi saluran kencing anak kita. Tidak boleh sembarangan dan jangan sampai "ndeblok-ndeblok".

Saya memang punya langganan ibu paraji, beliau saya kenal dari rekomendasi teman saya yang walik dadah sama beliau. Dahulu sebelum tidak kunjung hamil, saya berniat untuk berikhtiar lewat ibu paraji, agar dibantu membenarkan letak rahim saya jika bermasalah, bisa saja saat kecelakaan dulu secara tidak sengaja rahim saya bergeser. Alhamdulillah selang beberapa lama kami diberi karunia tersebut. Okey kembali lagi dengan walik dadah tersebut. Ibu paraji pernah bercerita, ada salah satu pasien yang ditanganinya, karena terlalu sering pijat rahim ke sana kemari mencari alamat tapi malah secara tidak sengaja rahimnya jadi naik sehingga sulit hamil. Beliau berkata, "ini kalau walik dadah tidak apa-apa mbak, tapi kalau mau hamil akan sulit soalnya terlalu banyak yang menangani jadinya rahimnya tidak karu-karuan." kasihan juga mbaknya. Semoga lekas hamil ya mbak. Walau bagaimanapun, hamil atau tidaknya semua kembali kepada keputusanNya.

Tentu saja banyak pro kontra mengenai walik dadah ini. Saya pribadi lebih menyukai Walik Dadah daripada harus sterilisasi. Bagaimanapun Walik Dadah masih memungkinkan seseorang memiliki anak lagi. Tentu saja dua hal di atas berbeda jauh sama sekali, sterilisasi memang akan dianjurkan tenaga medis khususnya obgyn ya jika ada situasi tertentu mungkin seperti rekan saya di atas. Akan tetapi jika boleh memilih untuk berKB yang aman, mungkin saya akan memilih Walik Dadah. Bagaimana denganmu?

sumber referensi:
1. https://tentangkb.wordpress.com/2011/10/08/tentang-tubektomi-1/
2. https://tentangkb.wordpress.com/2011/10/18/tentang-tubektomi-2/
3. https://tentangkb.wordpress.com/2011/10/24/tentang-tubektomi-3/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentarnya sementara dimoderasi ya 😁 dan jangan tinggalkan link hidup. Nanti BW baliknya lewat profil teman-teman. Terima kasih untuk tidak menggunakan "ANONIM".

Recommendations by Engageya