Rabu, 25 November 2015

NIKMATI ROMANTISME MALAM DI SOLO BERSAMA WAYANG WONG SRIWEDARI

Malam terakhir perjalanan kami berdua di Solo akan kami habiskan untuk menonton Wayang Wong di Gedung Wayang Wong Sriwedari yang terletak di Jl Brigjen Slamet Riyadi No 275, Surakarta. Untuk sampai kemari dari Terminal Tirtohadi Surakarta kita bisa menumpang dengan Bus Batik Solo Trans, tapi bus ini hanya beroperasi sampai pukul 17.00 WIB saja. Atau bisa juga alternatif taxi ataupun becak. Bagi kami yang naik bus antarkota, daripada turun di Terminal Tirtohadi kami lebih memilih turun di Halte Kleco agar langsung bisa menyusuri Jl Slamet Riyadi ini. Lebih mudah lagi jika naik kereta api turun di Statiun Purwosari langsung cari Batik Solo Trans ataupun alternatif transportasi lainnya.





Dari hotel kami menginap dan setelah menikmati lezat dan gurihnya Nasi Liwet Wongso Lemu rupanya masih terlalu pagi untuk pergi ke Taman Sriwedari karena katanya pertunjukan dimulai pukul 20.00 WIB. Tapi tidak ada salahnya juga untuk melihat-lihat sekitar Taman Sriwedari.




Pada malam hari transportasi yang tersedia hanya becak dan taxi. Itupun taxi hanya mangkal di tempat tertentu, sedangkan becak hampir di setiap perempatan di sepanjang Jl Slamet Riyadi selalu ada untuk mengantarkan pengunjung.



Tapi karena saat itu musim penghujan, para tukang becak jarang yang berlalu lalang mengemudikan kendaraannya, jadi kita harus menghampiri beliau sendiri. Meski hujan, untunglah saat itu ada yang bersedia mengantar ke tempat tujuan kami.



Jika kita ingin melihat pagelaran Wayang Wong maka sebaiknya kita mengatakan tujuan kita adalah Gedung Wayang Wong Sriwedari karena rupanya Taman Sriwedari itu sangat luas. Terdapat wahana permainan untuk anak-anak di dalam Taman Sriwedari. Saya baru ngeh kalau ternyata Gedung Wayang Wong Sriwedari ini letaknya bukan berada di dalam Taman Sriwedari, bagi kami yang baru pertama kalinya ke Solo ini tentu saja akan mengira kalau Gedung Wayang Wong Sriwedari berada di dalam Taman Sriwedari padahal aslinya kita tidak perlu masuk ke Taman Sriwedari untuk mencapai gedung tersebut. Gedung Wayang Wong Sriwedari letaknya terpisah dan berada di belakang Taman Sriwedari. Untuk mencapainya dari depan pintu Taman Sriwedari kita ambil jalan/gang di sebelah kirinya masuk kira-kira 100 meter ke dalam.



Benar rupanya, meski pertunjukan dimulai pukul 20.00 WIB tapi para pengunjung setia sudah standby dari pukul 19.00 WIB. Penjualan karcis dibuka mulai pukul 19.30 WIB, yaitu 30 menit sebelum pertunjukan dimulai. Karcisnya pun hanya dibanderol Rp 3.000,- saja. Murah meriah untuk sebuah pagelaran super megah.


Lokasi depan Ged Wayang Wong Sriwedari, pict by Ndaru Prod

Wayang Wong Sriwedari ini buka setiap hari kecuali hari Minggu, dari pukul 20.00 WIB sampai selesai dengan lakon yang berbeda setiap harinya. Betapa susahnya jika dibayangkan, para pemain harus menghapal naskah dan dialog yang berbeda setiap harinya. Rata-rata pemain berusia di atas 30 tahun, kemarin waktu kami di sana rupanya ada salah satu pemain muda baru yang berusia 18 tahun. Masih kinyis-kinyis tapi sudah piawai memainkan lakon sebagai Lesmana yang kemayu. Tariannya juga sudah seperti penari profesional yang memiliki jam terbang tinggi.


Cukup mengherankan juga, ternyata Wayang Wong ini masih mempunyai penggemar setia mulai dari berbagai kalangan serta umur. Rata-rata sih memang orang yang mampu bercakap dengan Bahasa Jawa, minimal mengerti Bahasa Jawa Ngoko. Ekspektasi saya, penggemar Wayang Wong pastilah orang yang cukup umur, kira-kira seusia orang tua kita tapi ternyata dugaan saya salah. Banyak anak-anak remaja yang rela antri di belakang agar bisa ikut menonton Wayang Wong ini. Dan mereka itu pergi rombongan bersama teman-teman mereka. Jadi bukan remaja yang terpaksa menonton karena diajak orang tua tapi mereka remaja yang cinta budaya Jawa Tengah dan mereka menyukai hiburan tersebut.



Di luar gedung, di dekat loket pembelian karcis terdapat jadwal pertunjukkan lakon Wayang Wong Sriwedari selama satu minggu ke depan, dan cerita malam ini yaitu Petruk Dadi Werkudara ditulis tangan dengan besar di sebuah kertas berukuran F4 dan diletakkan dalam meja berkaca di tengah-tengah latar Gedung Wayang Wong Sriwedari.







Jangan harap ada penjual asongan yang menjual makanan berlalu lalang seperti kita akan menonton pertandingan sepakbola. Karena latar gedungnya yang kecil, jadi penjual makanan hanya berjualan di sekitar gedung. Adapun penjual lesehan hanya menjual batu aki dan gelang krecek serta barang antik lainnya yang dijajar rapi di atas lesehan tikar yang mereka bawa sendiri.


Setelah tiket sudah terjual habis dan jam tepat berada di angka 8, pintu gedung pertunjukan pun dibuka. Maklum saja ini malam minggu jadi penonton pasti lebih banyak dari malam-malam biasanya. Ada dua orang petugas berdiri di depan pintu masuk mengambil sobekan karcis. Yah walaupun tiga ribu rupiah tetap harus dikontrol juga kan, siapa tau ada penyelinap *halah


Dari pintu masuk yang terang benderang, kami masuk ke dalam gedung pertunjukan yang gelap dan besar, hanya panggung pertunjukkan dengan latar belakang panggung khas pagelaran wayang wong yang tersorot oleh lampu. Semua sudah mengambil posisi pada bangku kursi masing-masing. Ya kursi kayu mirip kursi pada jaman kuliah saya dulu berjajar dari baris no 3 sampai ke belakang. Hanya bedanya kursinya ada busanya, cuma sandarannya saja yang terbuat dari kayu. Sedangkan kursi baris no 1 dan 2 yang bertuliskan kursi VVIP terbuat dari kursi yang empuk baik kursi maupun sandarannya. Lho kalau karcisnya seharga Rp 3.000 jadi yang kursi VVIP berapa harganya? Sepertinya yang dimaksud mungkin kursi khusus tamu undangan jika ada, seperti tamu pejabat ataupun tamu penting lainnya. Jika gedung tersebut berisi penuh mungkin kira-kira mampu menampung 200 orang penonton lebih. 15 baris di sebelah kanan dan 15 baris sebelah kiri serta ke belakangnya hampir 10 baris atau bahkan lebih. Belum lagi kursi penonton yang berada di lantai 2.



gambar dari FP Sosialisasi Wayang Wong Sriwedari


Meskipun gelap rupanya para penabuh gamelan telah menyambut kami dengan langgam khas Jawa. Ah ini rupanya, benar-benar pengalaman live pertamaku menyaksikan kemegahan panggung wayang wong. Tembang demi tembang ditabuhkan untuk kami meski tanpa nyanian dari para sinden, sepertinya beliaunya belum pada naik ke atas panggung. Tapi tembang-tembang gamelan tersebut tetap membawa jantung kita berdetak keras. Musiknya melantun dengan kencang, mungkin dikarenakan iramanya menggema ke seluruh ruangan. Kira-kira 15 menit barulah para sinden berdatangan. Cantik-cantik dandanan khas wanita berkebaya dan memakai sanggul yang besar serta dengan suara melengking khas sinden menambah keharmonisan lantunan langgem Jawa. Jangan dibayangkan betapa ribetnya mereka harus duduk dengan jarit melilit kaki mereka.



Kami dibawa ke dalam alam bawah sadar sampai-sampai tidak sadar bahwa jam sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB dan pertunjukkan belum dimulai juga. Neng nong neng gong.. kali ini lebih keras dan berirama semakin intens. Gending Pangkur memulai dengan keluarnya para penari yang membawakan Tari Gambyong sebagai awal dimulainya pertunjukan wayang wong. Biasanya Tari Gambyong memang dilakukan sebagai awal suatu acara atau sebagai tarian penyambutan tamu.



gambar diambil dari FP Sosialisasi Wayang Wong Sriwedari


Tok terotok tok tok.. Sutradara mulai membacakan prolog lakon malam ini, Petruk Dadi Werkudoro dalam bahasa Jawa krama inggil. Sesekali saya sempat bertanya pada suami arti dialog para tokoh tersebut sampai akhirnya meneruskan sendiri ceritanya berdasarkan gerak-gerik para wayang sambil memperhatikan LCD yang sedang menyala. Bagi Anda yang kurang memahami Bahasa Jawa krama inggil halus jangan khawatir, karena di dalam gedung wayang wong ini di bagian sebelah kanan dan kiri panggung ada layar lebar LCD bertuliskan alur cerita menggunakan Bahasa Indonesia. Hanya saja saat itu cuma LCD di sebelah kanan saja yang dinyalakan. Microphone model gantung berjumlah 5 buah cukup terdengar jelas asal kita konsentrasi. Lagipula sepertinya mereka juga bersuara keras jadi agak membantu meski microphonenya melambai-lambai.



Sesuai cerita Petruk Dadi Werkudoro (Petruk Jadi Werkudara), bercerita awal mulainya Werkudara diajak oleh Sengkuni untuk bergabung dengan pihak Kurawa, karena sikap tegas dan tak pernah menarik ucapan dari mulutnya mengakibatkan Werkudara akhirnya bergabung dengan Kurawa sehingga Wisanggeni menjadi geram. Kemudian Petruk diminta oleh Wisanggeni untuk berdandan persis dan menjadi Werkudara dengan tugas-tugasnya. Lambat laun Werkudara asli curiga lalu memergoki Petruk yang berulah dengan menjadi dirinya sehingga akhirnya dia sadar bahwa tindakannya selama ini salah hingga Werkudara kembali ke pihak Pandawa.


gambar dari FP Sosialisasi Wayang Wong Sriwedari


Jika selama ini Sengkuni dalam film dan tokoh perwayangan digambarkan dengan karakter yang menyebalkan, dalam pementasan wayang wong ini kita diperlihatkan sosok Sengkuni yang berbeda. Sengkuni digambarkan sebagai tokoh banyolan dengan sifatnya yang tetap menyebalkan karena berpihak pada keponakannya Kurawa. Sengkuni bersama-sama dengan para Punakawan mampu menghibur para penonton dengan banyolan khas pewayangan.



Di tengah-tengah pementasan cerita, inilah yang paling ditunggu-tungu oleh penonton yaitu sesi Goro-Goro. Kalau dalam makanan mungkin saya akan menyebutnya sebagai desert. Kenapa tidak, jika sejak awal Punakawan berkecimpung dalam alur cerita dengan serius maka kali ini mereka secara murni akan menghibur penonton dengan nyanyian mereka. Tembang Jawa apapun yang Anda minta akan mereka nyanyikan dengan piawai. Mengenai suara, jangan salah karena suara mereka tidak kalah dengan Didi Kempot. Untuk request tentu saja tidak salahnya kalau setelah itu Anda juga memberikan uang tips kepada mereka. Saat itu banyak penonton dengan usia kisaran mahmud (mamah muda) dan yahmud (ayah muda) yang rupanya adalah ikatan alumni UGM (Universitas Gajah Mada) yang sengaja datang untuk menonton wayang wong ini. Bagus juga ya jika ikatan alumni seperti ini daripada hanya digunakan untuk nongkrong-nongkrong di warung makan dan mengobrol, kenapa tidak mencoba untuk nonton bareng pertunjukan wayang wong? Saya melirik suami yang tersenyum, entah kebetulan atau tidak, kok bisa ya penontonnya juga sesama alumni. Tapi sepertinya sih beda angkatan ya :D Sebagian banyak yang merequest lagu campur sari. Kalau yang ini saya tahu betul lagu-lagunya karena kebetulan alm Bapak dulu koleksi lagu campur sarinya bisa dikatakan lumayan lengkap. Dan yang lebih menyenangkan lagi dari sesi Goro-Goro adalah karena mereka menggunakan Bahasa Jawa Ngoko sesekali diselingi Bahasa Indonesia.





Sesekali dalam tembang-tembang tersebut, mereka melemparkan lawakan-lawakan yang ringan tapi sesuai dengan jamannya dan memang lagi in sekarang ini.



Setelah selesai bernyanyi dengan para penonton, pertunjukkan kembali dimulai. Kali ini lebih santai karena hampir mendekati ujung cerita, Punakawan tetap kembali muncul dalam cerita terutama Petruk. Ya iyalah kan memang dialah tokoh utamanya. Kemunculan Punawakan di akhir cerita juga masih diselingi candaan-candaan ringan sehingga penonton yang dari awal sedari tegang mengikuti arah alur cerita mulai tertawa rileks.





Hingga tanpa sadar, ternyata pertunjukan telah selesai dengan ditandai adanya gunungan di layar putih menutup panggung pertunjukan dan cahaya yang menyorot panggung telah dipadamkan tapi iringan musik gamelan masih terus berbunyi mengantarkan kepergian para pengunjung. Lampu dalam gedung pertunjukkan pun mulai dinyalakan menandai bahwa pertunjukkan telah selesai. Pertunjukkan malam itu dikemas dengan rapi dan ditutup dengan apik.



Kami pun siap meninggalkan gedung pertunjukkan Wayang Wong Sriwedari.



Keluar dari pintu utama, jam sudah menunjukkan pukul 00.00 tepat. Banyak jasa transportasi yang menawarkan jasa. Kebanyakan sih rupanya adalah becak bokingan para pengunjung langganan. Ada juga jasa ojek. Masih banyaknya bapak tukang becak yang menawarkan jasa termasuk adalah anugerah. Simbiosis mutualisme. Memang harganya sedikit lebih mahal daripada ketika kami berangkat kemari tapi tidak ada salahnya juga mengingat ini sudah larut malam sembari melihat keindahan malam di sepanjang Jalan Slamet Riyadi.



Angin malam dan sepinya jalan utama di Solo ini akan selalu mengingatkan kami pada Wayang Wong Sriwedari bahwa romantisme tidak harus selalu berada di tempat yang mewah melainkan dengan menonton Wayang Wong pun akan terasa romantis bila bersamanya.



Bila ada waktu dan biaya, kami ingin kembali ke sana melihat pertunjukkan Wayang Wong Sriwedari. Kali ini bukan hanya berdua melainkan juga dengan anak kami.



Bagi yang ingin mengunjungi pagelaran Wayang Wong Sriwedari ini ada baiknya jika Anda :
  1. Karena waktunya malam hari, cari tahu kondisi jasa transportasi yang menuju ke penginapan Anda. Biasanya sih becak dan ojek tetap ada kok, jadi jangan khawatir soal transportasi.
  2. Sebaiknya saat berangkat katakan tujuan dengan jelas bahwa yang Anda tuju adalah Gedung Wayang Wong Sriwedari, karena salah-salah malah akan diturunkan di depan Taman Sriwedari ;)
  3. Bawa persediaan makanan dan minuman sendiri karena penjual makanan di sekitar Gedung Wayang Wong Sriwedari jumlahnya sedikit.
  4. Jangan lupa bawa keluar kembali sampah sisa makanan dan minuman Anda karena di dalam tidak ada tempat sampah.
  5. Usahakan untuk tidak melakukan hal berikut di dalam gedung pertunjukkan
  • Jangan merokok, karena ini tempat umum
  • Jangan menyalakan flash kamera ya, jika ingin memotret atau merekam cukup nyalakan dalam mode malam saja.
  • HP mohon disilentkan juga, mengingat pagelaran ini masih menggunakan microphone gantung.
Terima kasih Wayang Wong Sriwedari, kalian mewarnai perjalanan cinta kami.




Tulisan ini diikutsertakan dalam LOMBA BLOG VISIT JAWA TENGAH 2015
Tema : Seni Budaya Jawa Tengah
dan dinyatakan sebagai pemenang 



comments

4 komentar:

  1. aku paling suka klo mnikmati kesenian daerah macam ini,....trutama yg ada nari narinya

    BalasHapus
  2. selamat ya jadi pemenang jangan lupa sering2 ke solo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak insyaAllah doakan ya ;) masih banyak daerah di Solo yg belum terekspos oleh kami ^___^

      Hapus

Komentarnya sementara dimoderasi ya 😁 dan jangan tinggalkan link hidup. Nanti BW baliknya lewat profil teman-teman. Terima kasih untuk tidak menggunakan "ANONIM".

Recommendations by Engageya