Rabu, 10 Februari 2016

Foto Anak yang Sebaiknya Jangan Dipajang di Facebook atau Social Media Lainnya.

Pemberitaan di media akhir-akhir ini sering membuat para orang tua semakin khawatir terhadap lingkungan sosial juga lingkungan tempat tinggal. Terutama yang memiliki anak laki-laki karena bagaimanapun anak laki-laki harus tetap dilindungi sebagaimana melindungi anak perempuan.

Menurut Bunda Elly Risman, seorang psikolog ahli parenting terkenal, anak laki-laki rentan terkena dampak pornografi dan lebih sering menjadi sasaran empuk para penggiat aksi pornografi dan pornoaksi dikarenakan mereka :
  1. Laki-laki lebih dominan otak kiri,
  2. Karenanya, otak kiri menjadikan mereka lebih fokus daripada perempuan,
  3. Hormon Testoteron lebih banyak, dan
  4. Alat kelamin berada di luar sehingga menjadikan lebih mudah distimulasi.
Padahal pendidikan anak seharusnya meliputi tiga hal, terdiri dari 3 S yaitu Smart, Sensitive, Spiritual. Anak diharapkan dapat cerdas untuk memilah informasi-informasi yang diterimanya, maka peran kedua orang tua diperlukan dalam hal ini. Peran Ayah dalam mengasuh anak juga penting karena sesungguhnya dalam pembentukan otak, peran ayah penting sebagai penyeimbang antara otak kanan dan otak kiri. Kurangnya peran ayah menjadikan anak kurang peka terhadap lingkungan sosial, menjadikan anak lebih depresi dan akan berlari ke seks bebas, naudzubillahi min dzalik.

Setelah anak diajarkan untuk dapat memilah infomasi yang tepat untuk anak seusianya, maka dibenamkan ke dalam hatinya bahwa informasi yang salah tersebut juga harus tidak boleh dilakukan sehingga hatinya menjadi sensitive terhadap hal-hal yang mengerikan sehingga diharapkan dapat menjauhinya.

Agama juga sangat perlu ditanamkan sejak dini karena agama adalah benteng terkuat untuk melawan ketidaknormalan dalam masyarakat.

Maka dari itu, karena saya juga memiliki seorang anak laki-laki menjadikan saya lebih waspada terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan sosial media. Sosial media membuka wawasan kita tapi belum mampu menfilter untuk ukuran seorang anak. Apalah kamu Ran, anak masih bayi sudah berbicara semacam ini. Justru itu, mohon maaf bagi teman-teman sebelumnya karena sempat beredar di timeline saya foto di sebuah studio berisi foto anaknya yang masih bayi. Sudah tahu kan, kebanyakan photography bayi jarang yang memakai baju. Dan benar saja, 4 dari 5 fotonya semua adalah foto naked, ah kan lucu ini bayi juga. Iya lucu buat kita yang berpikiran normal. Oh maaf berarti saya memang menganggap pendukung dan pelaku eL Ge Be Te tidak normal.

Silakan saja jika ingin memfoto anaknya seperti itu tapi lebih baik jika disimpan untuk koleksi pribadi, tidak untuk dipajang di social media. Apalagi facebook yang mungkin saja juga digunakan oleh pedofil.

Selain itu, Badan Penasihatan, Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4)  juga sudah menyampaikan pernyataan pers sebagai berikut: Pertama, meminta pemerintah agar mengambil sikap dan langkah tegas sesuai hukum dan konstitusi untuk tidak memberi pengakuan dan melegalisasi perilaku homoseksualitas dan perkawinan sesama jenis di seluruh wilayah Indonesia.

Kedua, meminta pemerintah agar menertibkan pihak-pihak yang secara sengaja menampilkan, mengampanyekan, menyebarluaskan pembenaran, mengajak kepada perilaku dan gaya hidup LGBT yang merusak jiwa generasi muda serta mengajak masyarakat untuk meninggalkan perbuatan menyimpang tersebut.

Ketiga, mengimbau kepada pers dan media massa, termasuk media sosial, untuk berperan aktif dalam menjaga dan melindungi ketahanan keluarga dan kehidupan masyarakat Indonesia dari bahaya LGBT.

Keempat, mengimbau seluruh keluarga dan masyarakat Indonesia untuk memperkuat pendidikan dan menciptakan suasana keluarga yang kondusif, dimana komunikasi orang tua dan anak harus dibangun secara baik, setiap orang tua wajib mengenal lingkungan dan teman-teman anaknya serta membekali anak dengan ajaran dan nilai-nilai agama yang kuat.

Kelima, mengajak para orang tua, guru di sekolah dan organisasi sosial/keagamaan untuk mengambil peran dalam mencegah, melindungi, atau membantu anggota keluarga, anak didik dan generasi bangsa yang terlanjur menempuh jalan sebagai LGBT untuk kembali kepada jalan hidup yang normal, wajar dan bermartabat melalui pendekatan secara manusiawi dan penanganan yang intensif.

Keenam, mengimbau para pemuda dan remaja sebagai tunas bangsa agar menghindari atau membatasi pergaulan dari lingkaran komunitas perilaku LGBT.

Tahukah kita, bahwa sekarang jika kita menulis sesuatu di facebook yang bertentangan dengan eL Ge Be Te akan dihapus oleh facebook?

Atau sudah updatekah aplikasi whatsapp mu? Di situ juga mendukung eL Ge Be Te lho.

LGBT masuk WA

Lantas kalau mendukung, kita tidak memakai aplikasi tersebut? Ya masih pakailah. Emang kenapa kalau mendukung, kan hak Mark juga kan sebagai pemilik aplikasi tersebut, dengan memakai 2 aplikasi tersebut bukan berarti kita juga mendukung eL Ge Be Te. Asal diketahui ya, Whatsapp sekarang sudah resmi menjadi milik Mark juga, CMIIW. Aku itu nulis cuma ngasih tahu aja kalau menulis tentang yang bertentangan dengan LGBT bakal dihapus oleh facebook, karena telah melanggar HAF (Hak Asasi perFacebookan).

Mau lanjut pakai atau nggak, WTF.

Lho eL Ge Be Te apa sama pelakunya dengan pedofil? Kebanyakan penjahat pedofil adalah pelaku eL Ge Be Te juga, coba cek jumlah pelaku kejahatan di Indonesia yang akhirnya kena hukuman mati. Semua korban adalah anak lelaki. Pelakunya perempuan? Laki-laki juga kan? Bukan eL Ge Be Te itu namanya? Sama atuh neng.. Bukan beda lagi?!! Mulai dari sekarang, jangan karena mereka adalah anak lelaki lalu lantas menganggap mereka sudah aman dari tindak kejahatan. Setidaknya JANGAN menginformasikan hal-hal berikut jika ingin memposting segala sesuatu yang berhubungan dengan anak kita.
  • Nama lengkap anak kita di facebook atau social media lainnya.
  • Alamat lengkap kita di social media.
  • Sedang berada di suatu tempat atau log in menggunakan area.
Juga untuk postingan foto, ada beberapa tambahan yang mungkin sebaiknya JANGAN DIUPLOAD ke social media. Jadi berikut saya bagikan foto anak yang sebaiknya jangan dipajang di facebook atau social media lainnya.

Foto Tanpa Busana (Naked Photo)

Seperti yang sudah saya bahas sebelumnya ya, jadi sebaiknya hindari foto yang bertelanjang apalagi sampai terlihat kemaluannya di foto. Seringkali ketika anak mandi terlihat menggemaskan jadi para orang tua berlomba-lomba memfoto anaknya yang sedang mandi. Memangnya sedang ikut lomba foto shampo bayi? Kalau menang dapat hadiah, kalau kalah? Fotonya diambil siapa? Dipakai siapa? Sudah sampai sini kita memikirkannya?

Foto yang memperlihatkan paha juga terasa aneh ketika dipajang di blog apalagi sampai dijadikan background blog. Untung aja diingatkan sama Innnayah (N~nya tiga ya).

Foto Mencantumkan Detail Pribadi

Jaman dulu ketika baru punya anak kan bangga banget ya, dimaklumi saja ya karena begitu itu memang mamah muda maunya anaknya juga ikutan eksis tanpa memperdulikan lingkungan sekitar. Nama lengkap anak ditulis, tanggal lahir ditulis (yang ini sih sebetulnya tidak apa-apa ya), sampai alamat dan lokasi pengambilan foto.

Kalau sudah TK nanti, saya juga akan meminimalisir posting foto anak lengkap dengan atribut seragam sekolahnya juga lokasi sekolah. Apalagi kalau sampai terlihat tulisan jalan ataupun nomor alamat sekolahan.

Foto Adegan Memalukan

Seperti kita para orang tua, seandainya Bapak-Ibu kita dulu memajang foto kita yang hampir terjatuh di kubangan air pasti kita juga menggerutu mengapa foto memalukan seperti itu dipajang orang tua di album kenangan kita. Sama juga dengan anak kita. Mungkin saat mereka dewasa nanti mereka akan meminta pertanggungjawaban kita.

Foto Anak bersama Anak yang Lain

Jangan foto anak kita bersama anak lain semisal anak jin #abaikan. Biasanya sih di masyarakat jarang yang mempemasalahkan kalau anaknya difoto bersama anak kita, malah kalau saya pribadi malah sering meminta copyan fotonya sebagai kenang-kenangan kalau mereka sudah dewasa nanti bahwa jaman kecilnya pernah main sama temannya. Tapi jika memungkinkan lebih baik meminta ijin sama orang tuanya terlebih dahulu, boleh tidak anaknya diambil fotonya. Kan nggak lucu juga misal kita sudah memposting ternyata disuruh menghapus lagi karena mamanya, Jessica Iskandar tidak mau anaknya terpampang di social media.

Jadi kira-kira begitulah Foto Anak yang Sebaiknya Jangan Dipajang di Facebook atau Social Media Lainnya. Semoga kita sebagai orang tua semakin cerdas dan juga semoga anak-anak kita terhindar dari marabahaya apapun.

comments

8 komentar:

  1. kalau yang naked gitu saya juga sering mikir, predator anak dimana-mana, dalam kepala mereka anak-anak gak cuma 'lucu'

    BalasHapus
  2. Makasih sharenya, duh sekarang kejahatan dimana-mana ya, harus selalu waspada.

    BalasHapus
  3. Sekarang uda serem banget pergerakan lgbt dan pronografi, benar2 mengambil langkah bebas. semoga aku nanti bisa jadi ibu yang cermat dan bijaksana.makasih tips2nya ya mba

    BalasHapus
  4. Sudah pada tahu sih akibatnya, tapi tetap aja kan pada masang foto & nama anaknya. Apalagi kalau ikut lomba blog atau endorse :)

    BalasHapus
  5. Dug, jleb banget nih buat aku. Masih sering posting foto2 anak. Kudumulai dihilangin nih. Ngeriii... :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga masih mbak cuma pilah-pilah saja lah postingannya :)

      Hapus
  6. Blogwalking mbak, maaf cuma mampir dimari thx

    BalasHapus
  7. Hmmm PR banget nih ya mak....

    Saya pas kena bgt dg peran pengasuhan ayah bagi keseimbangan otak kanan dan kiri anak-anak itu mak, karena ayah juga lah yang lebih cocok mengajarkan anak laki-laki utk toilet training.

    Anak-anak emang rentan jadi korban pelecehan seksual,kekerasan dan amit-amit semua itu.. semoga perlindungan anak makin baik dilakukan oleh orang tuanya dan masyarakat sekitar spt tetangga pun lebih care dan waspada.

    Banyak juga lho mak kontes foto lucu dan berhadiah dilakukan oleh brand ternama di tv dan majalah, ga melulu di med sos.

    BalasHapus

Komentarnya sementara dimoderasi ya 😁 dan jangan tinggalkan link hidup. Nanti BW baliknya lewat profil teman-teman. Terima kasih untuk tidak menggunakan "ANONIM".

Recommendations by Engageya