Rabu, 24 Februari 2016

Panggillah yang Tersayang dengan Panggilan yang Tersayang.

Panggilah yang Tersayang dengan Panggilan yang Tersayang. Beberapa waktu yang lalu sempat viral kan di facebook mengenai tata cara memanggil pasangan dengan panggilan yang pantas. Intisari dari artikel tersebut adalah melarang memanggil pasangan kita dengan panggilan menyerupai mahram, semisal suami memanggil istri dengan panggilan Ibu, Mamah, atau bahkan Dek. Zihar hukumnya, dilihat dari kacamata sang penulis. Penulis artikel tersebut.

Berikut kutipan dari tulisan yang sempat booming sampai sekarang,
“Di zaman sekarang, banyak pasangan yang dengan sengaja memanggil istri/suaminya dengan panggilan-panggilan "kekerabatan" yang sering diasumsikan sebagai panggilan kesayangan. seperti istri yang memanggil suaminya dengan panggilan ABANG, KAKAK, PAPI, ABI, Dll, begitu juga sebaliknya, suami memanggil istrinya dengan sebutan ADIK, MAMI, UMI, Dll. Untuk menambah kemesraan dan panggilan kesayangan bagi pasangan mereka ini sudah lumrah terjadi bagi siapa saja. Akan tetapi, tahukah anda, jika tanpa diketahui, dan disadari, panggilan-panggilan tersebut ternyata mengandung konsekwensi hukum dalam Islam. panggilan tersebut bagian dari penyerupaan mahram dalam Islam, dan membuat yang dipanggil atau yang memanggil terkena konskwensi hukum layaknya hubungan mahram (haram untuk dinikahi). dalam Islam, dikenal dengan istilah ZIHAR.”

Entah mengapa ujug-ujug beliau memutuskan panggilan tersebut menyerupakan mahram dalam Islam. Baiklah begini, saya memanggil Mas kepada suami saya bukan berarti saya menganggap dia kakak lelaki saya. Saya memanggil Mas karena panggilan Mas itu adalah panggilan terhadap laki-laki yang berusia lebih dewasa daripada kita sebagai bentuk penghormatan. Bukan lantas saya menganggap dia sebagai saudara lelaki saya.

Okey balik lagi peran lelaki (pasangan hidup) kita dalam kehidupan kita. Mungkin kita menganggap dia adalah sebagai sosok pemimpin, sosok panutan hidup, sebagai pengganti ayah, sebagai saudara laki-laki. Tanpa istilah-istilah panggilan di atas bukankah kita secara tidak langsung menyerupakan beliau dengan mahram kita?

Lalu?

Semua kembali kepada niat kita masing-masing. Ketika menulis ini saya juga mulai menerapkan sedikit demi sedikit niat yang ada di dalam batin saya, bahwa lelaki yang hidup bersama dengan saya adalah sosok seorang suami, pemimpin dan sosok ayah dari anak. Bukan sosok ayah saya tapi sosok ayah dari anak saya.

Memanggil suami ketika sedang sendirian ataupun ada banyak orang saya tetap memanggilnya mas, tapi ketika ada anak bukan lantas saya berubah memanggilnya dengan Ayah/Bapak, paling ketika memanggilkan anak kepada ayahnya “Itu lho Nang, Bapak pulang”.

Begitu juga dengan suami saya,

“Nang tuh.. tuh.. itu lho Ibu baru sholat”

Padahal anak saya kalau tidur dibangunin pasti nangis “Mah.. Mamah.. Mah..” hahaha

Beda lagi ketika berhadap-hadapan dengan suami, pantang bagi saya memanggil beliau dengan “kowe (kamu)”, mungkin tidak semua keluarga menerapkan ini ya. Saya mencontoh Ibu ketika memanggil alm Bapak dulu ketika berbicara berhadapan, Ibu pasti memanggil Bapak dengan Panjenengan/Njenengan. Jadi semisal contohnya ya.

Njenengan sudah makan Mas?

Merupakan kalimat indah bila dilihat dari tata bahasanya dibanding ketika kita mengucapkan,

Kowe wes makan Mas? [Kamu sudah makan Mas?]

Arti sama tapi dilihat dari tata bahasanya sangat berbeda sekali. Kowe adalah panggilan kamu dalam bahasa Jawa, tapi yang digunakan adalah Jawa Ngoko. Sedangkan Njenengan/Sampean digunakan untuk memanggil orang kedua tapi lebih halus, maka disebut Jawa Krama Inggil. Panjenengan biasa digunakan untuk memanggil orang yang lebih tua, semisal kepada kakak kita atau orang tua kita atau orang lain yang usianya lebih tua daripada kita. Sedangkan sampean digunakan untuk memanggil orang kedua yang sederajat dengan kita, misal seumuran atau seusia kurang lebih selisih sedikit dengan kita. Sedangkan kowe biasa digunakan untuk yang lebih rendah (bisa usianya atau derajatnya) daripada kita, misal kepada anak kecil. Derajat yang saya maksud adalah derajat pekerjaan semisal panggilan kepada rewang (pembantu) pada jaman dahulu, ketika kerajaan di Jawa masih berjejer-jejer. Untuk sekarang rasanya tetap tidak sopan untuk memanggil orang yang pekerjaannya lebih rendah daripada kita dengan panggilan kowe apalagi kalau dia lebih tua daripada kita.

Saya memanggil Ibu juga dengan Njenengan.

Oke itu jelas dan harus.

Sejak kapan harus diajarkan kepada anak kecil? Sejak dia mulai belajar bicara. Karena saya dulu juga begitu. Sekalipun tidak terbiasa memanggil dengan Njenengan tapi menghilangkan kata Kowe akan lebih indah. Semisal,

Mah, kowe nggak ngaji? 

Iiih dengernya juga bagaimana ya. Akan lebih indah kalau kita ganti kowe menjadi :

Mah, Mamah nggak ngaji?

Beda kan? Yang Orang Jawa Priyayi pasti ngerti, yang bukan Orang Jawa yuk belajar Tata Krama Bahasa Jawa bareng-bareng,

Begitu pula dengan alm Bapak dulu, meski Ibu lebih muda tidak lantas alm Bapak memanggil Ibu dengan kowe, Bapak tetap memanggil Ibu dengan Sampean terkadang juga Njenengan.

Yah terhadap anak muda juga Bapak dulu suka memanggil dengan Njenengan meskipun itu belum begitu kenal. Tanya saja sama cowok-cowok yang dulu pernah mampir ke rumah. Eh? Cowok-cowok? Sekelas kales ke rumahnya ;)

Begitu sekelumitnya panggilan kepada orang-orang yang tersayang. Agak sedikit rumit jika belum terbiasa tapi jika dibiasakan mulai dari sekarang akan nampak perbedaan harga diri kita, karena tata bahasa kita adalah menunjukkan identitas kita bukan?

Bayangkan saja, sering terjadi di masyarakat adalah memanggil pasangan dengan memanggil panggilan anak atau bahkan cucu mereka terhadap pasangan mereka sendiri jadi semisal memanggil suami dengan sebutan “Mbah”. Sejak kapan suaminya menikah dengan Mbahnya?

Sedih rasanya kalau sampai itu terjadi pada saya sendiri, dipanggil oleh suami dengan panggilan Mbah/Yangti meskipun saat itu nanti kami sudah mempunyai cucu misalnya.

Bagaimanapun saya pribadi tetap ingin dihargai sebagai seorang istri.

Kan aneh Mbak kalau suaminya yang sudah tua nanti masih dipanggil Mas? Ya nanti ganti dipanggil dengan nama lengkap, Pak Mofa. Tapi sepertinya saya lebih nyaman dengan tetap memanggilnya Mas.

Panggilan kehormatan seperti itu jika dibiasakan sehari-hari akan menular pada kebiasaan kita memanggil orang lain. Semisal panggilan terhadap tetangga kita yang lebih tua. Hayo ngaku, siapa yang suka memanggil tetangganya dengan sebutan Mbah/Eyang padahal beliau seusia orang tua kita. Jangan berdalih karena memanggilkan anak kita ya. Apa kita bersama anak kita saat memanggilnya dengan sebutan Eyang? Apa sudah minta persetujuan sama yang dipanggil? Iya kalau yang dipanggil ridhlo. Kalau nggak?

Saya sedikit tersentil ketika ada seorang tetangga yang nggremeng (menggerutu-red) karena ada seorang ibu muda sering memanggil beliau dengan panggilan Eyang. Beliau merasa risih karena merasa anaknya tidak pernah melahirkan ibu muda tersebut, sementara saat bercakap hanya ada mereka berdua.

Padahal di kampung Mbah saya, banyak orang yang memanggil orang tua usia lanjut dengan Mbah tapi begitulah adat istiadatnya. Mungkin orang-orang yang telah dewasa sekarang, sejak jaman anak-anak sudah memanggil mbah sama beliau-beliau.

Panggilan kehormatan di atas merupakan panggilan dalam kehidupan orang Jawa tapi yang kesehariannya menggunakan Bahasa Indonesia juga tidak luput dari tata krama. Kita kan tinggal di Indonesia ya, masih banyak adat ketimurannya dan justru itu yang tidak boleh luntur dari urat nadi kita, kesopanan.

Jadi panggilah orang tersayang dengan panggilan yang tersayang ya.
comments

6 komentar:

  1. Sama suami manggil papah. Anakku cuma 2 jadi gampang, sisulung dipanggil mbak, si bungsu dipanggil dik. Panggilan nggak perlu rumit dibahas, yang paling mendekatkan keluarga saja. Kalau orang lain perempuan yang sudah tua kupanggil bu, meskipun sudah nenek2. Kalau masih muda atau sedikit diatasku kupanggil mbak, kurasa itu cukup sopan.
    Kalau di Riau lebih banyak lagi lo untuk perempuan. Yang umum dik, kak tante & nenek. Ibu atau bu malah jarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau Mbak Lusi tinggal di daerahku bisa disebut priyayi mbak, karena cara menghormati terhadap orang lain.
      Beberapa orang ada yang sensi lho mbak dipanggil mbah karena seharusnya dia seumuran dengan ibu kita, *curhatan tetangga

      Hapus
  2. Hahaha setuju sama komen mba Lusi. Sebagai orang jawa kita sudah terbiasa gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada juga org Jawa yg seperti aku ceritakan di atas lho Nay, memanggil Ibunya dengan kata "kowe"

      Hapus
  3. Iya, lebih suka di panggil dengan panggilan kesayangan misalnya, sayang or honey lebih intim dan intens, hahaha...
    daripada dipanggil bunda, hiiksss

    BalasHapus

Komentarnya sementara dimoderasi ya 😁 dan jangan tinggalkan link hidup. Nanti BW baliknya lewat profil teman-teman. Terima kasih untuk tidak menggunakan "ANONIM".

Recommendations by Engageya