Senin, 15 Februari 2016

Resto Kecil Mak'e, Sang Penyelamat Para Ibu

Sebagai kota yang terkenal dengan sebutan kota Kretek menjadikan Kab Kudus banyak diisi oleh industri rokok sehingga otomatis banyak berdiri pabrik-pabrik rokok. Jam produksi pabrik-pabrik rokok biasanya dimulai pukul 06.00 pagi dan terkadang jam 12 siang ada beberapa pabrik yang sudah selesai beroperasi, tidak jarang juga yang baru selesai jam 14.00 atau bahkan jam 16.00 ketika sedang banyak lemburan. Bukan hanya pabrik rokok yang didominasi para pekerja perempuan melainkan juga sektor perekonomian yang lain ada pula yang membuat jam operasi dimulai pukul 06.00 pagi semisal pabrik elektronik bahkan SPPEK. Jam produksi yang sangat pagi menyebabkan tidak sedikit para ibu yang tidak sempat membuatkan menu sarapan untuk keluarga di rumah. Belum lagi ketika sudah siang beberapa ibu ada juga yang membeli sayur yang sudah matang.

Terima kasih mass market

Adalah mak'e, seorang wanita paruh baya yang berjualan di warung kecilnya mulai pagi setelah adzan Subuh hingga siang hari. Warna cat warung yang dominan hijau meski hanya berplester semen di lantainya selalu siap menolong para ibu yang ingin menyiapkan sayur matang untuk keluarganya. Enam tahun saya bekerja di perbatasan Kudus - Jepara baru setahunan berlangganan makan siang di Mak'e, biasanya titip sama teman pabrik. Belinya sih juga di Mak'e. Pabrik saya yang terletak di perbatasan kota dan didominasi persawahan membuat saya kesulitan mencari tempat makan yang enak dan murah. Jaman dahulu warung makan milik mak'e ini terkenal sebagai tempat nongkrong para lelaki sehingga menyebabkan saya menjadi enggan untuk beli makan di sana. Baru kemudian saya diberitahu oleh menantu beliau yang juga teman sepabrik saya bahwa ketika jam makan siang justru warung mak'e sekarang banyak dikunjungi para wanita. Ah ternyata benar saja, kalau kita tidak membuktikan sendiri kita tidak akan pernah tahu.





Warung Mak’e tidak hanya menyediakan lauk sayur mayur yang sudah matang, melainkan juga menerima titipan jajan tradisional dari pedagang-pedagang yang ingin menitipkan dagangannya di warung. Ketika pagi hari, sayur matang yang dijual biasanya berupa kotokan tahu, semur tahu, ca bung, ada juga sayur mangut. Kotokan tahu adalah sayur yang terdiri dari santan dan irisan tahu, orang Jawa memang identik dengan sayur ini. Sementara sayur mangut terdiri dari ikan manyung yang diawetkan dengan cara diasap. Biasanya ikan panggang dijual sudah berupa irisan daging ikan yang ditusuk pake batang bambu.

Sementara saat siang hari, masakan akan lebih bervariasi tapi tetap dengan menu khas pedesaan yang selalu membuat rindu pulang kampung. Kita akan lebih sering menemui sayur asam, sayur bayam (sayur bening), nasi sop, ada juga masakan khas Mak’e yaitu bakso combor. Hanya saja saat siang, lauknya lebih bervariasi dari gimbal urang (peyek udang), tahu, tempe dan jenis ikan-ikanan lainnya. Terkadang ketika sedang  tidak membuat bakso combor ternyata Mak’e sudah menyiapkan hidangan istimewa lainnya yaitu opor ayam. Ada juga Garang Asem khas Kudus.


Garang Asem khas Mak e
Garang Asem

Sayur Bening Resto Kecil Mak'e
Sayur Bening

Dalam setahun Mak’e jarang libur kecuali Sabtu – Minggu karena pada hari itulah para pekerja pabrik rokok juga libur. Terkecuali puasa, saat puasa biasanya Mak’e akan berjualan menjelang buka puasa dan akan libur full seminggu sebelum Idul Fitri. Selama libur dari kegiatan membuat sayur matang itulah dimanfaatkan Mak’e untuk membuat panganan khas Idul Fitri biasanya berupa bolu kering atau semprit deso (kue semprit yang bentuknya memanjang terbuat dari tepung beras dan berwarna coklat).
bolu kering
Bolu Kering


Terkadang saat memasak, Mak’e dibantu oleh Diana putri bungsu beliau saat Diana sedang tidak ada job merias pengantin, tidak jarang juga menantunya ikut serta membantu. Meskipun begitu tatkala sedang bekerja sendirian, Mak’e mampu menangani semuanya sendirian. Karena itulah bisa dikatakan beliau adalah wanita handal dan tangguh. Akan lebih baik kalau saja Mak’e juga mempunyai asisten yang siap membantu beliau dalam urusan menghidangkan makanan.

Makanya terkadang untuk beberapa pelanggan yang biasa makan di tempat beliau (kebanyakan sih teman-teman pabrik sendiri) selalu disuruh untuk mengambil makanan sendiri ketika Mak’e sedang sibuk.

Berkat Mak'e pula saya belajar berdamai dengan diri sendiri dan dengan orang yang pernah sedikit bersinggungan dengan saya. Kebaikan dan kelezatan masakan Mak'e ternyata mampu mencegah perselisihan dua orang yang bahkan belum pernah bertemu sama sekali. Bagaimana bisa?

Simak Cerita di : Menulis Sebagai Terapi Tukang Nyinyir

Terima kasih mass market, terima kasih Mak'e, masakanmu menjadi penyelamat kami para Ibu.
comments

8 komentar:

  1. Warung seperti ini yang membantu bagi karyawan ya, mba. Wah jadi pengen pulang Kudus :)

    BalasHapus
  2. Wah garang aseeem *lap iler
    Semoga usaha UKM yang seperti ini bisa maju dengan partisipasi kita menabung ya

    BalasHapus
  3. Dengan adanya BTPN dengan program pemberdayaannya, semoga usaha mak'e bisa lebih maju lagi ya :)

    BalasHapus
  4. Masakan seperti ini malah yang enak, gak bosen, tapi efek rindu kampung halamannya berbahaya.. hehe.. top deh ^^

    BalasHapus
  5. garang aseemmm donggg makk,,hihi

    BalasHapus
  6. Aku suka masakan ibu2 begini. Pasti enak.

    BalasHapus
  7. jadi inget dulu pas ngekos, beli makanan di warung yang kayak gini, makanan rumahan :)

    BalasHapus
  8. Aku belum pernah mkn garang asem

    BalasHapus

Komentarnya sementara dimoderasi ya 😁 dan jangan tinggalkan link hidup. Nanti BW baliknya lewat profil teman-teman. Terima kasih untuk tidak menggunakan "ANONIM".

Recommendations by Engageya