Rabu, 30 Maret 2016

Jika Allah Memanggilku untuk yang Kedua Kali



Sebetulnya.. Sisa hidupku yang sekarang adalah bonus jika saja waktu itu entah oleh siapa aku berhasil dikeluarkan dari bawah truk sebelum nyaris terlindas oleh truk molen bermuatan adukan semen. Badanku yang mungil tiba-tiba jatuh dari motor yang kukendarai dan terseret masuk ke bawah lorong truk yang masih berjalan. Bahkan jejak roda-roda truk molen masih menempel di jaket yang aku kenakan. Masih jelas diingatanku saat itu, sepulang kerja pukul 16.30 WIB tepatnya Juli 2010 kepalaku sudah nyaris persis di bawah ban belakang truk tersebut. Aku bahkan masih sempat melihat besarnya ban siap menggilas tempurung kepalaku ini. Tinggal menunggu detik demi detik ragaku bukan lagi milikku dan aku ikhlas saat itu, hanya satu yang aku sesalkan jika aku benar-benar pergi saat itu. Aku belum meminta maaf pada Ibu.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.  Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imran : 185)


Namun sekarang, justru aku benar-benar takut akan kematian. Bagaimana aku melihat kala Bapakku menghadapi maut, meskipun saat itu Bapak terlihat ikhlas juga. Sayangnya takutku tak diimbangi dengan kesombonganku selama ini. Keduanya berbanding terbalik, seolah aku masih lama menanti waktu untuk dipanggil kembali. Bahkan kita tak pernah tahu, bisa saja besok atau setelah aku menyelesaikan tulisan ini aku menghadap Illahi untuk mempertanggung jawabkan tugas-tugasku yang terakhir.

Hanya saja aku tahu bahwa Khaliq ku Maha Pemurah, mungkin Dia akan memberitahuku beberapa saat sebelum waktunya pulang. Pulang ke pangkuanNya yang damai dan tentram. Ya Allah, jika waktuku telah kembali padaMu, ijinkan aku untuk melakukan sesuatu terlebih dahulu, sesuatu yang terbaik untuk orang-orang terdekatku, yang tersayang. Aku ingin membahagiakan mereka dengan mengajak jalan-jalan meski itu cuma keliling pasar malam Dandangan, atau cuma sekedar membeli jenang yang dijual persis di depan Menara Kudus. Aku juga ingin memberikan sesuatu untuk anakku, jika dia meminta sesuatu yang sekiranya aku mampu untuk belikan. 

Menitipkan anakku pada Ibuku jika diperkenankan meskipun aku tahu suamiku lebih mampu sebetulnya untuk menjaga dan merawat Han. Hanya saja aku tidak ingin menghalanginya untuk menikah lagi, bahkan jika diperbolehkan aku sendiri yang ingin mencarikan istri sebagai penggantiku karena bagaimanapun istri barunya adalah ibu sambung anakku juga. Kebahagiaan dan masa depan anakku juga menyangkut peran mereka berdua. Aku percaya masih banyak wanita baik hati yang mau menerima anak tiri seperti anak kandungnya. Maafkan Ibu Nak, jika terpaksa Ibu titipkan kamu kepada Ibu baru atau kepada Nenekmu karena rupanya waktuku bersamamu tidak cukup lama Nak.

Aku akan berpikir cara meminta maaf terutama kepada Ibu dan suamiku tanpa membuat mereka merasa sedih dan curiga atas permintaan maafku ini. Bagaimanapun dosaku mungkin tidak terampuni tapi setidaknya aku tulus meminta maaf jika selama sebagai anak dan istri, aku sangat jauh dari sempurna. Seringkali permintaan maaf yang dilakukan tanpa melakukan kesalahan sebelumnya ditolak seseorang karena seolah pertanda sebagai pamit untuk selama-lamanya. Itulah mengapa meminta maaf sering dijadikan pertanda.

Bila fisikku masih kuat, aku juga ingin mengunjungi sahabat-sahabatku ke rumahnya. Meminta maaf jika banyak kesalahan, bercerita panjang lebar dengan tetap menghindari percakapan yang mengundang dosa. Membuat mereka tertawa dan tersenyum adalah modal sedekah juga buatku nanti. 

Membayar hutang-hutang pada mereka atau pada kerabat juga tetangga jika masih ada hutang. Bagaimanapun, aku tak ingin ditagih nanti saat di akhirat. Hutang dibawa sampai mati, naudzubillah. Alhamdulillah sampai saat ini, aku tidak memiliki hutang yang berupa uang tapi janji juga adalah hutang. Maka sekali lagi aku akan meminta maaf sebesar-besarnya pada mereka jika ternyata aku tidak sanggup melaksanakan janji-janji yang pernah aku ucapkan. Aku juga ingin menyiapkan uang untuk pemakamanku sendiri, segala tetek bengeknya mulai dari kain mori, bunga, sabun, minyak wangi, papan untuk makamku, juga batu nissan. Walaupun aku tahu masjid di tempatku memberikan santunan berupa perlengkapan untuk mengurus jenazah, hanya saja batu nissan dan papan untuk di dalam makam harus kusiapkan sendiri. Tidak lupa jika masih ada sisa rejeki, dipersiapkan untuk uang tahlilan. Uang tersebut akan aku masukkan dalam amplop yang berbeda-beda lalu aku tuliskan satu per satu kegunaan uang dalam amplop tersebut. Semoga kepergianku tak merepotkan keluargaku yang ditinggalkan.

Selama hidup mungkin aku belum bisa memberikan warisan berupa harta, baik itu tanah ataupun mobil. Yang aku punyai hanya sedikit ilmu dan sebagian ilmu aku titipkan di blog pribadiku. Maka jika masih ada sedikit waktu, akan aku berikan password seluruh sosial mediaku. Semoga ahli warisku amanah dan jika memang harus ditutup maka aku ikhlas jika mereka yang menutupkannya untukku sepeninggal aku nanti.

Di malam-malam terakhir juga selagi nafas masih bisa kugenggam, aku ingin beribadah secara khusyuk agar ketika Malaikat Izrail datang kedua kalinya padaku, aku lebih siap. Semoga nanti aku masih lancar mengucap lafadz “La Ilaha Illallah, Muhammadur Rasulullah.” Jika nafasku sudah sangat amat teramat pendek ijinkan aku terus melantunkan namaMu Ya Rabb..




comments

22 komentar:

  1. Wah itu rasanya gimana mbak saat menjelang detik detik mau terlindas ban mobil molen pasti sangat sangat menakutkan sekali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. entahlah.. waktu itu tidak berpikir apa-apa, tak ada rasa takut atau bagaimana. Cuma berpikir "Oh ini waktunya, tapi aku belum minta maaf sama Ibu"

      Hapus
  2. Allahu akbar. Aku merinding bacanya. Semoga Allah mengijinkan kita terus mendampingi keluarga. Aamiin.

    BalasHapus
  3. Heuheu...hidup kedua mba. Mengharukan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak disangka ya Nay aku masih diberi kesempatan hidup sampai sekarang.

      Hapus
  4. Subhanallah Mba Rany. Speechles membayangkannya.kehidupan kedua. Mba Ranny semoga terus dikuatkan dan semakin dekat dgn krluarga..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamiin. Makasih Mbak Ira buat doanya. Semoga sekeluarga Mbak Ira juga selalu dilimpahi kesehatan

      Hapus
  5. Duh merinding bacanya mba...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, alhamdulillah Mbak aku berhasil menuliskannya jadi plong sekarang rasanya.

      Hapus
  6. semoga kita wafat dalam keadaan husnul khotimah...

    BalasHapus
  7. Duuh..ngeri banget sih, mb Rani. Allah masih melindungi dan memberi kesempatan untuk hidup. Semoga suatu hari kita kembali padaNya dalam keadaan khusnul khotimah :)

    BalasHapus
  8. satu hal yang saya pikirkan setelah meninggal nanti adalah anakku Mbak Rani, entah kenapa saya gak ikhlas bila anakku harus dirawat wanita lain selain oleh mama & mertuaku :(

    semoga kita diberi kematian terindah yah Mbak, amin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya antara ikhlas dan nggak ikhlas Mbak. Semoga kita masih diberi kesempatan melihat anak-anak kita tumbuh dewasa dan mandiri ya Mbak Ira. Aamiin.

      Hapus
  9. semoga kita dapat dipanggil sang pencipta dalam keadaan baik. Aamiin Ulasannya sangat menarik. Senang sekali dapat berkunjung ke laman web yang satu ini. Ayo kita upgrade ilmu internet marketing, SEO dan berbagai macam optimasi sosial media pelejit omset. Langsung saja kunjungi laman web kami ya. Ada kelas online nya juga lho. Terimakasih :)

    BalasHapus
  10. Masya Allah Mba Rani.. Ga bisa ngebayangin rasanya lihat roda truk molen di dekat kepala kita. Aduh ngeri banget. Alhamdulillah ya Mba, Allah memberi kesempatan ke dua. Semoga kita khusnul khotimah semua..aamiin.. Semoga kita dpt mengisi akhir hidup kita dg hal-hal yg lebih bermanfaat. Aamiin..

    BalasHapus
  11. Terimakasih tulisannya Mba, Melimpah berkah segala urusannya,, aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Ya Robbal Alamin Mbak Desi

      Hapus
  12. ya Alloh. bagaimanapun mati itu tetap mengerikan. setidaknya sampai saat ini bagi saya.

    BalasHapus

Komentarnya sementara dimoderasi ya 😁 dan jangan tinggalkan link hidup. Nanti BW baliknya lewat profil teman-teman. Terima kasih untuk tidak menggunakan "ANONIM".

Recommendations by Engageya