Rabu, 02 Maret 2016

Menulis Sebagai Terapi Tukang Nyinyir

Menulis Sebagai Terapi Tukang Nyinyir

Menulis sebagai Terapi Tukang Nyinyir. Saya membuat blog ini sekitar tahun 2009 akhir, di mana saat itu niatnya cuma buat punya blog. Tak pernah ada niat sampai memonitize blog bahkan sampai saat ini pun belum, karena takut ditolak google! Haha. Karena hanya niat ingin punya blog, apalagi namanya masih berembel-embel blogspot.com rasanya ya aras-arasen (malas-malasan) kalau menulis, selain isinya cuma curhat dan tips murahan kala itu. Haha barulah tersadar, justru artikel dari jaman-jaman dahulu yang menduduki peringkat 10 teratas. Sedangkan saat itu, menulis artikel 300 kata saja sudah merasa capek. Sebetulnya passion aku menulis benar tidak sih? Duileh.. Tentu saja dengan artikel yang tidak sampai 500 kata, bounce rateku jeblok. Sampai sekarang juga masih jeblok. Tapi lumayan sudah turun 1%, biar 1% juga alhamdulillah.


Lalu sejak bergabung dengan komunitas blogger, semangat menulisku menjadi bangkit. Mulai menggali segala tetek bengek tentang dunia blogging, apa itu Alexa, pageview, kloutscore, domain authority, google analytics. Berganti domain ternyata memang menjadikan semangat ngeblog bertambah lagi, apalagi kalau sampai bisa balik modal. Alhamdulillah.

But stop thinking about that first. You'll never found that writing is so fun. Menulis itu menyenangkan bukan? Bagi yang suka menulis tentu saja. Kita memang perlu mengetahui hal-hal pakem di atas tapi tidak serta menjadikan patokan. Sejak rajin menulis, benar saja alexa saya bisa ramping dalam kurun 6 bulan tanpa saya sadari. Kalau kata Candice, temanku dari Filipina sering mengatakan "Practice make perfect". Semakin rajin menulis, konten tulisan akan semakin berbobot. Doanya sih begitu, kita aminkan bareng-bareng nyok!

Did you know, jaman dahulu kala di negeri antah berantah #lah, saya ini orang yang hobi nyinyir dan nyinyirnya kebangetan sampai suka mengurusi urusan orang lain. Astagfirullah.

Bahkan sampai urusan kendaraannya pun saya pengen ikut ngatur #bohong #abaikan.

Karena sifat buruk itulah, sedikit demi sedikit beberapa orang mulai menjauhiku dan memilih untuk hidup bersama orang lain tapi justru di situlah aku berbahagia, karena dia meninggalkanku lalu hingga akhirnya menjadi petunjuk jalan bagiku untuk menemukan orang yang lebih tepat bagiku, insyaAllah semoga sakinah mawaddah warohmah, Aamiin Allahuma Aamiin. *lho kok malah berdoa*

Meskipun kebiasaan nyinyirku hanya terhadap orang terdekatku yang di mana perilaku mereka yang suka berkencan dengan suami orang (maaf), menjadikan aku kala itu menjadi BFF hunter yang suka membuntuti kemanapun teman saya pergi saat itu. Bahkan ketika managernya telepon menanyakan sahabatku apakah dia bilang mau kemana, kami hantui sahabat kami dengan meneleponnya terus menerus, lalu telepon diangkat dalam keadaan suara telepon sunyi bergema seperti di dalam sebuah kamar. Astagfirullah, suudzon dimulai. Iya kami, jadi saat itu selain saya, ada juga sahabat saya yang punya hobi sama, yaitu suka nyampurin urusan orang lain -__-

Hingga suatu hari lagi, ada telepon dari seorang perempuan. Bicara babibu panjang lebar dengan nada tinggi lalu menuduh saya berkencan dengan suaminya. Ya Allah, apa lagi ini.

Kenapa bukan pacar gelap suaminya yang dilabrak? Kan perginya sama dia?

Ikut prihatin denganmu Nduk, semoga sudah berakhir ya segala-galanya. Hiduplah berbahagia dengan keluargamu yang sekarang. Tidak usah diingat-ingat lagi kejadian yang dulu-dulu lagi.

Belum sirna masalah satunya, muncul lagi masalah yang sama dengan pelaku (PELAKU??!) yang berbeda. Kambuh lagi penyakitnya (baca: saya), masih suka ngintilin segala sosial medianya. Apakah kalian tahu, behaviour semacam ini biasanya kumat-kumatan. Jadi ketika mereka disakiti oleh pacar gelapnya mereka akan cari perlindungan dan nasehat kepada orang-orang yang menentang hubungan mereka tapi ketika pacar gelapnya bersikap manis lagi, mereka tidak akan mendengarkan kita lagi. Boro-boro mendengarkan, aktivitas mesra mereka aja mereka privasi kok. Apapun yang kita lakukan sepertinya tidak ada faedahnya, percuma dinasehatin panjang lebar sampai mengorbankan waktu kalau akhirnya nasib berada di tangan pacar gelap.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam  bersabda: “Siapa yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.” – HR Muslim

Usaha pertama kedua sudah gagal total termasuk masa muda yang habis buat jadi orang yang sok bijak dan care terhadap mereka. Sudah. Sudah selesai. Hayati lelah bang..

Tutup kasus di atas dengan hati. Stop, saya tak mau lagi memikirkan mereka.

Belum berhenti sampai di situ, ada lagi perempuan tanpa intro langsung ke reff melabrak by telephone lagi. Bilang saya mau merebut calon suaminya dan alhamdulillah mereka tidak jadi nikah sekarang. Haha. Rasain! *otak tengil*

Fitnah yang kedua kalinya ini menjadikanku berfikir, ooh.. Jadi begitu cara Allah memberitahu saya, bahwa tindakan saya salah selama ini. Terlalu mencampuri urusan orang lain itu SALAH sekalipun perbuatan mereka salah menurut kitab suci.

Seberapa buruknya perilaku orang lain, saya disadarkan akan sesuatu. Bahwa keputusan benar atau salah adalah semata milik Tuhan.

Energi yang masih terus berkoar-koar yang biasanya terpakai untuk mencampuri urusan orang lain, akhirnya bingung mau dipakai buat apa. Hahaha.

Sampai akhirnya aku kembali di blog ini, mulai sedikit demi sedikit membenahi diri dan tulisan. Kan aneh juga kalau dalam sebuah artikel, ternyata ujung-ujungnya adalah nyinyir juga. Bergabung bersama blogger-blogger lain menjadikan aku banyak mendapat wawasan baru dan menjadikan semangat ngeblog bertambah.

Menulis ternyata mampu membawa energi positif bagi aku pribadi. Menjadikan energiku yang masih berkibar-kibar ditampung dalam wadah, meskipun tulisannya kebanyakan curhat juga. Setidaknya aku mendapat cipratan energi positif dari sesama blogger lainnya, alhamdulillah saya bergabung dengan orang-orang yang benar. Tidak bisa dibayangkan juga kalau blogger yang saya gauli adalah pembenci R1, kerjanya nyinyir aja di sosial media atau bahkan di blog. Yaelah, lama-lama kan takut nular juga. Aku ingin sembuh, setidaknya dari penyakit hati suka nyinyir. Maka, menulis adalah wadahnya.

Tak lagi nyinyir (InsyaAllah doakan ya biar tetap istiqomah) karena faktor usia dan naluri keibuan juga, rasanya malu sama anak kalau ternyata ibunya punya perangai yang sangat buruk. Semoga blog ini berkembang ke arah yang lebih baik. Semoga semakin menambah informasi yang bermanfaat daripada sekedar melakukan aktivitas pengintilan terhadap orang lain. Hahaha.

Salam.

comments

13 komentar:

  1. Alhamdulillah ya Mbak, blog bisa menampung semangat yg berkobar-kobar buat ngintilin urusan orang lain itu :D
    Btw saya kadang juga suka stalking akun sosmed adik tuh, soalnya kadang dia suka gak jujur sama kakak-kakaknya. Gimana tuh ya? Penyakit juga? Kan demi kebaikan dia juga *eh kok malah membela diri :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayaknya bukan penyakit ya kalo demi kebaikan :D *ingin membela diri juga

      Hapus
  2. setuju sama kalimat "menulis ternyata mampu membawa energi positif"

    saya juga merasakan hal ini Mbak Rani :)

    BalasHapus
  3. Jadi sebelum tekan share, sent atau publish saya juga suka mikir dulu. Kira-kira jadi masalah, ga? Kadang suka gatel pengen komen tapi lagi-lagi mikir kalau saya digituin gimana. Pengalaman saya pernah dibully sama teman kerja bikin saya mikir ga enak digituin. Yuk ah mbak, semangat! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang dibully sangat amat tidak menyenangkan ya Teh Efi

      Hapus
  4. Tapi maksudnya baik kan mbak? Mau menyadarkan orang lain

    BalasHapus
  5. huahahaha... Nyinyir juga terapi loh... Kidding... Bikin capek diri sendiri aja walau kdg masih jg saya lakukan :))))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Ria, nyinyir sebetulnya juga terapi dalam bentuk dunia lain :))) aku juga kadang masih nyinyir Mbak, sama. Yah manusia.

      Hapus
    2. Iya Mbak Ria, nyinyir sebetulnya juga terapi dalam bentuk dunia lain :))) aku juga kadang masih nyinyir Mbak, sama. Yah manusia.

      Hapus

Komentarnya sementara dimoderasi ya 😁 dan jangan tinggalkan link hidup. Nanti BW baliknya lewat profil teman-teman. Terima kasih untuk tidak menggunakan "ANONIM".

Recommendations by Engageya