Rabu, 20 April 2016

Tanda-Tanda Alam Bisa Datang dari Han (Juga)

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Al Jaatsiyah 13)

Sebelum langit runtuh dan bumi bergemuruh, kita sebagian manusia masih sibuk dengan rutinitas masing-masing. Padahal di luar sana, alam sedang memberi pertanda. Warna air laut yang berubah, rasa air gunung yang mendadak asin, bahkan airnya mendadak menjadi hangat. Hewan-hewan juga telah sibuk mempersiapkan untuk bermigrasi.

Tidak hanya tentang bumi yang bergemuruh, bisa jadi juga pertanda yang lain. Suara burung gagak yang terus menerus memanggil, mengingatkan akan ada di antara kita yang dipanggil pulang ke Rahmatullah. Bersegeralah tobat, sahut gagak itu.

Selain manusia, makhluk Allah yang lain sesungguhnya juga sering memberi pertanda, hanya untuk orang yang mau berpikir dan merenung. Seperti kejadian kemarin sore itu.

Sore itu, kami masih asyik menonton televisi. Hanya Ibu bergumam, "Ini bau apa ya kok dari tadi tidak hilang-hilang padahal masaknya sudah selesai dari tadi."

Memang seperti bau asap, tapi ini biasa di rumah kami karena dapurnya tidak mempunyai ventilasi langsung keluar untuk membuang asap-asap dari kompor. Jadilah setiap selesai memasak, kami harus berbetah diri dahulu sampai asapnya benar-benar keluar.

Sedangkan saya masih asyik terus memperhatikan Han karena Han tidak pernah mau diam.

Kakinya aktif tidak mau berhenti barang satu detik saja. Han mulai menunjuk-nunjuk sesuatu lagi, kali ini di sebelah saya tapi tidak ada apa-apa di sebelah saya. Tidak ada gombal ataupun mainan favorit dia.

“Iya.. Suruh jangan main di sini ya Nang” kataku kepada Han.

Han masih menunjuk lagi, kali ini di tempat yang berbeda dan Han semakin mengoceh sambil menunjukkan sesuatu. Terus saja tapi saya masih belum ngeh maksud anak saya ini. Menjelang maghrib sudah biasa jika makhluk astral mulai berkeliaran ke sana kemari, begitu sih kata ustadz saya dulu. Apalagi kalau adzan, mereka suka berlarian seperti orang ketakutan. Mungkin ustadz saya dulu pernah melihat para setan berlarian bertubrukan satu sama lain, ah siapa tahu.

Tidak mau berhenti sampai di situ, Han lalu meminta saya untuk menggendongnya.

Rutinitas biasa, menjelang maghrib Han selalu minta ke kamar untuk minta ASI dilanjutkan bercanda dengan Ibunya ini. Tapi kali ini bukan kamar lagi yang ditunjuknya melainkan ke arah dapur.

“Lho Nang, kok minta susu lho.. Nenen saja ya.” Pintaku.

Akhirnya saya yang mengalah pergi ke arah dapur, hendak mengambil termos dan langsung melongo begitu saja melihat kompor yang masih menyala.

“Ibu, mau goreng apa ya? Kok kompornya masih menyala?” tanyaku pada Ibu.

Padahal minyak goreng di atas wajan masih menganga panas karena kompor masih hidup. Astagfirullah rupanya Ibu kelupaan karena belum dimatikan dan beruntungnya minyak goreng yang di situ masih banyak, belum sampai habis.

Barulah kami sadar, sedari tadi ada makhluk baik yang berusaha memberi tahu kami lewat Han bahwa ada marabahaya di dapur.

Betapa mengerikannya jika tidak ada dia, bagaimana nasib kompor juga rumah kami, terutama kami bertiga. Alhamdulillah, terima kasih ya Nang, terima kasih juga untuk makhluk baik yang aku bahkan belum tahu siapa namamu .
comments

7 komentar:

  1. Duh Mba..serem bayangin yg akan terjadi seandainya Han ngga minta dibikinin susu.. Harusnya pas kecium bau asap langsung tengok kompor, hehehe..

    Dan soal burung gagak, kirain itu cuma mitos mba.. Tapi orang dulu memang suka mengait-ngaitkan sih ya.. Sama burung hantu juga. Saya suka takut kalau ada burung hantu malam2.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya, kitanya kurang peka :(

      Kalau yg suaranya nuk..nuk..nuk.. Itu bukan burung hantu tapi konon itu katanya cenunuk a.ka pocong. Kalau denger suara nuk.. Nuk.. Nuk.. Nggak usah banyak tanya, langsung lari aja kayak aku. HahaHa

      Hapus
    2. Ih serem seriusan tuh mba?soalnya rumahku kan kiri kanan depan belakang pohon bambu kalau malem suka ada suara nuk nuk hehehe jadi parnoo ;/

      Hapus
    3. "katanya" aja sih Mbak Herva.. alhamdulillah aku nggak pernah ketemu suara nuk nuk nuk :D

      Hapus
  2. Alhamdulilah y Mba masih dikasi perlindungan lewat Han :) ceritanya bikin saya deg-degan hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Herva.. Alhamdulillah..

      Hapus
  3. memang terkadang sebelum ada sesuatu kejadian itu terasa sudah ada tanda tanda dan ada sedikit bisik bisik yang hadir contohnya ceritanya mbak rani ini. allhamdulilah akhirnya tak terjadi sesuatu apapun, hehe

    BalasHapus

Komentarnya sementara dimoderasi ya 😁 dan jangan tinggalkan link hidup. Nanti BW baliknya lewat profil teman-teman. Terima kasih untuk tidak menggunakan "ANONIM".

Recommendations by Engageya