Jumat, 26 Agustus 2016

Mengembangkan Hobi atau Bakat Kedua?

http://www.ranirtyas.com/2016/08/hobi-atau-bakat-kedua.html
Hari ini siapa sih yang tidak ingin mendapatkan pundi-pundi uang dari hobinya? Malah sesuatu yang sangat diidam-idamkan.

Alhamdulillah saya pribadi mendapatkan sedikit tambahan dari salah satu hobi saya yaitu menulis meski tidak menentu. Tetapi setidaknya ada perasaan bangga terhadap hobi saya tersebut bahwa hobi yang saya miliki bernilai positif dan tidak serta merta menghambur-hamburkan uang.

Tetapi hobi saya sebetulnya tidak sama dengan background pendidikan saya yaitu matematika murni.

Apakah saya salah jurusan dulunya?

Seandainya saya dulu mengambil jurusan yang sejalan dengan hobi saya yaitu katakanlah Sastra Inggris atau Sastra Indonesia atau bahkan jurnalistik apakah saya mampu bertahan dengan hobi saya sekarang?

Saya akan menjawab mungkin tidak.

Entahlah karena bisa jadi di tengah perjalanan saya akan merasakan kebosanan yang sangat karena mempelajarinya terlalu dalam. Terbukti dari kesenangan saya terhadap matematika, dulu saya suka sekali terhadap matematika, semua yang berhubungan dengan angka selalu berusaha saya utak-atik sampai ketemu hasilnya, tidak boleh tergantikan oleh ilmu yang lain. Baik itu fisika ataupun ekonomi akuntansi, tetapi waktu membuktikan bahwa saya ternyata sudah sangat jenuh terhadap matematika. Sesuatu yang sangat ditakutkan para dosen saya dulu. Atau mungkin justru bukan di situ hobi saya sesungguhnya.

Hampir mirip dengan kesayangannya Han, Om Aji. Adik lelaki saya satu-satunya ini justru tidak menyesal karena tidak bersekolah sesuai passion utamanya. Hobi adik lelaki saya itu bermain musik, cita-citanya saat itu adalah menjadi guru musik. Iya sesederhana itu, bukan ingin menjadi pemain musik internasional atau apalah itu.

http://www.ranirtyas.com/2016/08/hobi-atau-bakat-kedua.html
Han, Om mu ada salah satunya di sini lho!

Tetapi jalan untuk mencapai cita-citanya saat itu, terhalang oleh takdir.

Keluarga sudah sangat mendukung saat itu, adikku diijinkan mengambil studi sesuai kemauannya melalui jalur SPMP (mirip Ujian Masuk) yang mana saat itu tinggal mengikuti ujian praktek. Memang untuk jurusan seni musik dan seni tari diperlukan tes khusus ujian praktek, tetapi kami tidak menemukan waktu dan tempat lokasi ujian praktek tersebut. Padahal dia sudah lulus ujian tertulisnya.

Sudah begitu dia hanya menuliskan satu jurusan yang diidam-idamkan, padahal masih bisa memilih 1 jurusan lagi. Tidak lolos ujian SPMP, dia mencoba lagi ikut ujian SPNMPTN, kasusnya pun sama lagi. Tempat dan lokasi ujian praktek tidak disebutkan di situs manapun.

Mungkin kalau saat itu saya punya channel anak Seni, bisa saja saya meminta tolong untuk dicarikan informasi di mana lokasi ujian prakteknya.

Hingga akhirnya frustasi karena yang diinginkan tak lagi ada harapan. Kini dia cuma ingin sekolah yang sesuai dengan skillnya selain menurut pada passionnya. Adik lelaki saya itu akhirnya mengambil jurusan IT di universitas swasta di depan kompleks perumahan kami.

Bersyukur adik saya kuliah di situ dan mengembangkan bakatnya yang lain karena ternyata ada hikmah di belakang semua kejadian itu. Menginjak semester ke-7 saat dia seharusnya menyusun skripsi, Bapak saya jatuh sakit selama 2 bulan hingga akhirnya pulang ke pangkuanNya untuk selamanya.

Jika adik saya tidak bersekolah di kota yang sama, jika dia harus kost di kota lain siapa yang akan membantu kami riwa-riwi mengurus Bapak? Siapa yang akan membiayai keperluan dia yang seabrek jika harus menginap dan memerlukan transport.

Dia tak pernah menyesal sama sekali, bahkan justru bakatnya yang inilah yang sering membantunya untuk mendapatkan penghasilan yang lain.

Sementara itu saya jadi berpikir, bagaimana jika anak saya nanti ingin mengembangkan hobinya menjadikan itu sebuah cita-cita maka saya mungkin akan berpesan, "Nak kamu bisa mengembangkan hobimu kapan pun yang kamu mau, tetapi kesempatan untuk mempelajari hal lain akan jarang datang kesempatannya. Karena hobi bisa dipelajari kapanpun kamu mau sampai kamu bosan, tetapi jangan sampai kamu berhenti menyukai hobimu karena kamu terlalu lelah mempelajarinya."

Belajar sesuai passion dan hobi memang sangat diperlukan tetapi apa benar itu satu-satunya hobi / passion mu yang sesungguhnya?

Tetapi saya juga tidak akan menghalangi langkahnya untuk mempelajari hobinya lebih dalam karena memang yang banyak terjadi adalah hobi yang menolong kita untuk hidup.

Seperti Mak Tanti yang bercerita lewat website KEB, mengubah hobi menjadi rejeki sehingga akhirnya Mak Tanti bisa jalan-jalan ke KL berkat hobinya. Tapi apa benar Mak Tanti dulu sekolah seni? Entahlah? Belum nanya juga, hahaha tetapi bakat juga hobi itu masih tetap hidup di dalam diri Mak Tanti. Itulah yang perlu kita tiru, tetap mengembangkan hobi meskipun tidak melalui jalur akademik karena akan selalu ada jalan untuk mempelajari hobimu, syukur-syukur hobimu itulah yang membukakan pintu rejeki untukmu.

Salam Sayang.
comments

7 komentar:

  1. hahahhah mak Tanti ngga pernah sekolah seni, kecuali seni tari!

    BalasHapus
  2. alhmdulillh sampai saat ini aku belum bosen sm nulis mak, soalnya klok gk nulis ada yg kurang gt, apalgi kalau hati lg maknyonyor, abis nulis langsung lega, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apaa ini mbaa..maknyonyor hwhwhw

      Hapus
  3. wah...cerita ttg adiknya seru. Memang sudah digariskan yah, sekolah dekat walopun semuala tidak sesuai passion. Sukses u adiknya... :)

    BalasHapus
  4. wah saya gak banyak komentar deh cuma mau ngucapin sukses aja untuk adiknya :)

    BalasHapus
  5. Aku paling seneng lihat wall-nya mak tanti, gambare asik2.

    BalasHapus
  6. Aki dulu mau masuk jurisan Bahasa ga dibolehin, disuruh masuk IPA. Karena aku anak yang baik ya nurut aja wkwkwk... menyesal? Awalnya sedikit menyesal, tapi setelah menyadari bahwa semuanya bisa dipelajari asalkan ada kemauan penyesalan itu mulai terkikis...cie bahasanya...

    BalasHapus

Komentarnya sementara dimoderasi ya 😁 dan jangan tinggalkan link hidup. Nanti BW baliknya lewat profil teman-teman. Terima kasih untuk tidak menggunakan "ANONIM".

Recommendations by Engageya