Rabu, 07 September 2016

Aku, Ibu Jauh dari Kesempurnaan

Tak pernah terbayang olehku bahwa aku ditakdirkan menjadi seorang ibu dari bayi lucu bernama Han. Juga tak pernah terbayang juga bagaimana nanti peranku setelah menjadi ibu. Aku seperti ibu kebanyakan yang terpaksa bekerja demi sesuap nasi, padahal cita-citaku sederhana yaitu menjadi seorang ibu rumah tangga tetapi entah mengapa sekarang aku malah menikmati peranku sebagai seorang pekerja biasa.


Sejak menikah atau bahkan sebelum menikah aku terbiasa dibully atas sikap ketidakpecusanku mengurus rumah tangga. Memasak hampir dikatakan tidak pernah aku lakukan karena baik ibu dan ibu mertuaku dengan senang hati memasak untuk kami.

Hanya sesekali ikut membersihkan rumah, itupun jika Han mau aku tinggal barang sebentar.

Jangan ditanya berapa kali sindiran yang aku dapat jika berkunjung ke rumah saudara jauh. Sehingga aku terbiasa dengan label jahat pada diriku sendiri yang mereka sematkan tanpa mereka tahu bahwa sesungguhnya fakta sudah diputarbalikkan di belakangku. 

Tanpa mereka tahu siapa yang sesungguhnya berjuang mencari sesuap nasi. Tanpa mereka tahu bahwa aku sudah berusaha untuk melahirkan normal tetapi aku sangat takut cairan ketubanku akan habis saat itu karena air ketuban terus mengalir tanpa henti dan suster mengatakan jika sampai habis maka anakku akan divakum. Duh Gusti.. lebih baik belah perutku ini daripada anakku ditarik paksa seperti itu. Setelah itu, tanpa peduli keadaanku yang habis operasi menyarankan kepada mas suami agar segera pulang biar biaya rumah sakit tidak semakin membengkak, tetapi apa mereka tahu siapa yang membayar semua itu. Mereka? Seakan mereka ikut menanggung biaya aku dan bayiku saat itu.

Aku juga ingin seperti menjadi yang mereka impikan dan khayalkan tentang aku menjadi aku yang seharusnya walupun sebetulnya aku adalah aku, bukan aku dalam ketidaksempuranaan mereka.

Belum lagi saat proses menyusui.. Hidup tak pernah lepas dari pencibir dan kaum kepoers. Tak apa dan tak masalah, itu berarti mereka perhatian padaku dengan cara yang berbeda dan eksentrik.

Han, ibumu ini jauh dari kata sempurna. Bahkan penuh dengan ketidaksempuranaan. Ibu hanya tahu cara melindungimu walaupun mungkin bagi orang lain cara ibu salah tapi setidaknya ibu berusaha mencari jalan yang terbaik untukmu dan kehidupanmu.

Tetapi selama menjadi Ibu, saya sadar satu hal. Ketenangan hati ibu mempengaruhi ketenangan hati anak kita juga. Ora usah kemrungsung marai anakke melu kemrungsung, pesan Ibuku.

Benar saja, setiap hati ini berkecamuk dengan ucapan-ucapan mereka yang tentu saja mempengaruhi kestabilan emosimu. Anakku jadi ikut kemrungsung. Maka sejak saat itu, apapun yang orang ucapkan, apapun yang orang pikirkan aku tak lagi peduli karena Han adalah anakku, anak yang mewarisi sebagian sifat-sifatku. Jadi aku harus berbahagia.

Meski ketidaksempurnaan menjadi temanku, setidaknya aku sudah berusaha menjadi the good one.

http://www.ranirtyas.com/2016/09/aku-ibu-jauh-dari-kesempurnaan.html


Jika kita bisa berbahagia mengapa harus merepotkan diri dengan label ibu sempurna. Mak Noni Rosliyani juga tidak ambil pusing dengan label idealisme ibu muda masa kini, bahwa melahirkan harus partus normal, memberi ASI wajib selama 2 tahun, tidak boleh memberi garam dalam MPASI-nya, harus memberi MPASI homemade, harus memberi mainan edukatif, harus mengantarkan sendiri anaknya ke sekolah, dan segala macam keharusan serta kesempurnaan lainnya.

Sama seperti Mak Noni yang belajar menjadi ibu bahagia yang selalu ceria dan terus belajar dari ketidaksempuranaan hidup. Aku pun belajar sama seperti Mak Noni.

Mak Noni. Aku bersamamu di barisan paling depan sebelah ujung kanan.

comments

12 komentar:

  1. Hiks..hiks.. Pada saatnya nanti, Han akan paham Mba.. Seperti Ket yang akhirnya mengerti mengapa ibunya harus pergi.

    Hei, kita ibu baik. Kita ibu kuat. ;)

    BalasHapus
  2. mbaaakkkkk..
    hiks
    aku dlu jg prnh ngerasa tertekan mbk gra2 dengerin jugdenya org2, org2 mah suka gt, asal ngejaj aja dah.

    BalasHapus
  3. Yang Maha Sempurna mah cuma Allah ya mbaa, semangat!

    BalasHapus
  4. aku juga belum sempurna mbak..no body perfect..but pastinya kita selalu kasih yg terbaik buat anak2 ya to be the good one

    BalasHapus
  5. intinya semua orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik utk anaknya

    BalasHapus
  6. semua manusia memang tidak ada yang sempurna, namun kita sebagai manusia sebagaimana patutnya harus tetap bersyukur..

    BalasHapus
  7. ada saatnya seorang anak dapat mengerti gimana perjuangan dari orang tua

    BalasHapus
  8. Dlm pengasuhan anak2ku aku juga gk terlalu peduli pelabelan, yang penting do the best ya mbk :)

    BalasHapus
  9. kadang org2 sekitar kita hanya tahu sedikit tapi banyak komen ya mba.., sabar aja, kita yang paling tahu situasi kita sendiri, jangan sampe pendapat org lain malah bikin kita nggak bahagia.. semangat mba Ran!

    BalasHapus
  10. Aheuuu aku kayakny pernah ngalamin yg Han rasain. Dan aku kira ibuku jahat. Pas udah segede ini sadar....akkkk

    BalasHapus
  11. Semangat mbak Ran. Yg penting keluarga happy. Saya sih ga terlalu peduli apa kata orang2. Atau jaman dulu beda kali yaa. Belum ada medsos...

    BalasHapus

Komentarnya sementara dimoderasi ya 😁 dan jangan tinggalkan link hidup. Nanti BW baliknya lewat profil teman-teman. Terima kasih untuk tidak menggunakan "ANONIM".

Recommendations by Engageya