Berjuanglah untuk Senyum itu!


Betapa hebatnya mereka yang sedang berjuang untuk dapat hidup. Mereka yang sedang melawan penyakit mereka berbaring lemah di kamar berargo meter. Untuk jantung mereka agar terus dapat berdetak, untuk ginjal mereka agar dapat menyaring zat-zat kotor dalam tubuh, untuk hatinya agar dapat kembali menawarkan racun, untuk saraf-saraf motorik dan sensorik mereka agar berjalan sesuai fungsinya, untuk otak agar kembali mengalir darahnya menuju bilik kanan dan bilik kiri, dan untuk fungsi-fungsi tubuh yang lain. Gigihny a mereka. Tapi kenapa, masih ada beberapa yang menginginkan untuk dapat segera pulang ke rahmatNya.
Usia hanya Dia yang menentukan. Sehebat apapun peramal, secanggih apapun metode teknologi saat ini jika Dia tidak menghendaki maka semua itu tidak akan terjadi. Terkesan kita yang hidup ini memang kecil di hadapanNya. Karena kita ini hanya ciptaanNya, bagian dari lingkaran kehidupan ini. Saling mengisi antara satu dengan yang lain.
Jujur, aku masih bingung dengan kegigihan mereka untuk dapat terus hidup. Agar apa? Agar terus dapat mengejar amalan-amalan yang kurang? Atau untuk orang lain, untuk anak-anak mereka, untuk kekasih hati (orang tua, pasangan) yang sedang menunggunya.  Atau untuk alasan lain?
Kebahagiaan seperti apa yang ingin dikejar? Bukankah segala sesuatu di dunia ini relative, termasuk kebahagiaan? Bagi kita, sebuah kebahagiaan belum tentu menjadi kebahagiaan untuk yang lain, bahkan untuk orang-orang terdekat kita. So seharusnya, definisi kebahagiaan itu masihkah ada di dunia ini?
Jika mereka terus meradang di ICU sedang berjuang maka kita juga yang masih sehat juga harus berjuang. Berjuang untuk tujuan kita masing-masing. Mungkin, kebahagiaan mereka adalah untuk dapat tetap hidup bersama keluarga mereka dan andai saja aku dapat memberikan nyawaku untuk mereka yang pantas menerima,untuk mereka yang dengan kegigihannya berjuang untuk dapat juga membahagiakan keluarganya dan orang lain maka aku ingin melihat mereka tersenyum. Karena senyuman itu juga merupakan symbol dari kebahagiaan.
Jadi berikanku senyuman terindah  kalian.

Sebelum Puasa di Kudus

Kudus, sebagai kota kecil di Jawa Tengah bagian utara memiliki banyak ciri khas. Di sini, saya hanya ingin sedikit mengulas detail dari Dandangan. Banyak blog sudah menceritakan tentang apa arti dari dandangan itu sendiri.

Pentingkah dandangan? Saya yang setiap hari lewat jalan Sunan Kudus mungkin juga sudah merasa bosan akan kemacetan yang dibuat pada saat dandangan, juga akan merasa sepi jika di Kudus tanpa dandangan. 

Tapi ironis sekali, ada suara keluar dari penduduk Kudus sendiri, "Mau ngapain ke Dandangan? Mau lihat orang desa jalan-jalan?" Apa ada yang salah dengan orang Desa? Kita hidup bersama, harusnya saling menghargai keberadaan masing-masing. Lagi, perayaan sebelum puasa ini cuma ada setahun sekali. Kenapa kita harus malu dengan kebudayaan sendiri? 

Seperti di kota-kota lain di Jawa Tengah, Semarang juga memiliki tradisi sebelum pelaksanakan puasa yaitu "Dugderan". Pada hari yang sama, di Kabupaten Klaten, Boyolali, Salatiga, bahkan Yogyakarta, banyak umat Islam yang menyambut datangnya Ramadhan dengan cara mandi di sumber-sumber air dan kolam pemandian dalam acara ”padusan”. Makna dari padusan adalah membersihkan diri lahir dan batin untuk menyambut datangnya puasa. 

Sebetulnya Dandangan sendiri memliki historis, konon upacara rakyat Kudus sudah ada sejak lama, ketika Sunan Kudus Syaikh Dja’far Sodiq masih sugeng, Menurut cerita, sejak zaman Syeh Jakfar Shodiq, salah satu wali songo penyebar agama Islam di Jawa, setiap menjelang bulan puasa, ratusan santri Sunan Kudus berkumpul di Masjid Menara guna menunggu pengumuman dari Sang Guru tentang awal puasa. Para santri tidak hanya berasal dari Kota Kudus, tapi juga dari daerah sekitarnya seperti Kendal, Semarang, Demak, Pati, Jepara, Rembang, bahkan sampai Tuban, Jawa Timur. Pada hari menjelang puasa, setelah berjamaah salat ashar, Sunan Kudus langsung mengumumkan awal puasa. Pengumuman itu dilanjutkan dengan pemukulan beduk yang berbunyi “dang-dang-dang”. Suara beduk yang bertalu-talu itulah yang menimbulkan kesan dan pertanda khusus tibanya bulan puasa. Berawal dari suara dang-dang, setiap menjelang puasa, masyarakat Kudus mengadakan tradisi Dandangan. 

Secara etimologis (ilmu tentang asal-usul kata) kata ”dandangan” mungkin berasal dari kata ”dandang” atau beduk yang ditabuh bertalu-talu oleh Syeh Ja’far Shadiq. Namun, kata tersebut juga bisa diasumsikan berasal dari kata ”ndang-ndang” (Bahasa Jawa) yang berarti ”cepat-cepat”. Kata cepat-cepat itu bisa dimaknai sebagai selekasnya menyiapkan makan sahur menjelang awal puasa esok hari. 

Sedikit saduran dari http://moxeeb.wordpress.com/2008/08/25/dandangan/ 

Dan sepertinya tahun ini, dandangan di Kab. Kudus akan diselenggarakan di jalanan biasa, sekitar pusat Menara Kudus, so jika mau lewat daerah situ, hati-hati ya dan pelan-pelan saja karena banyaknya pejalan kaki yang kebanyakan anak-anak dan orang tua. Sambil lihat kanan-kiri, siapa tahu ada barang antik yang dijual di situ. 

So, lestarikan budaya yang ada, sebagai salah satu perayaan untuk menyambut bulan suci Ramadhan.

Keikhlasan untuk Kebahagiaan yang Tertunda

Teringat cerita jaman anak-anak, dari majalah Bobo kesayanganku dulu. Cerita tentang anak Indian yang mempunyai boneka kesayangan yang selalu menemaninya ke mana-mana. Dari mulai bangun tidur sampai tidur kembali. Hingga akhirnya desa Indian tersebut mengalami kekeringan, dan menurut Dukun dari desa tersebut satu-satunya cara agar hujan turun kembali adalah dengan melakukan pengorbanan, yaitu pengorbanan boneka kecil milik gadis mungil anak Kepala Suku. Singkat cerita, demi kemakmuran di negerinya sendiri, gadis kecil itu rela mengorbankan benda kesayangannya.

Bukan berarti saya mengiyakan untuk melakukan pengorbanan jika kita ingin turun hujan. Dalam Islam pun telah diajarkan tata cara meminta hujan.

Bukan itu, tapi something different yaitu sebuah "Pengorbanan". Seorang gadis kecil rela berpisah dengan boneka kesayangannya demi melihat kebahagian orang lain. So, kenapa terkadang kita  sebagai orang dewasa malah seolah-olah bersikap dramatis dan enggan untuk melihat orang lain berbahagia? Bahkan termasuk untuk orang yang kita sayangi? Bukankah jika kita menyayangi seseorang maka justru kita harus merelakan dia bahagia? Seperti gadis kecil itu yang menyayangi rakyatnya sehingga dia rela mengorbankan kebahagiaannya sendiri?



Pernah ku dengar seperti ini, "Janji Tuhan kepada kita, Jika kita merelakan kebahagiaan seseorang niscaya Dia akan menyimpan sesuatu kebahagiaan untuk kita yang lebih besar". 

So ikhlaskan yang terjadi. Insya Allah, Dia akan selalu bersama kita. Bukankah keikhlasan kita akan menyimpankan kebahagiaan untuk kita? Meski itu tertunda. Tapi percaya, janji Tuhan akan selalu ditepatinya.

Ada Penonton dalam Pertandingan

Semalam melihat pertandingan Jerman-Spanyol mungkin membuat banyak penggemar Jerman kecewa (termasuk saya,). Heitzz.bukan saatnya mempersalahkan siapa yang salah or menuduh Paul si Gurita yang pandai meramal kemenangan Juara World Cup tahun ini. He he Paul mau ngalahin almh. mama Lauren ne kayaknya. he he

Pada pertandingan menit ke-4 ada penonton masuk ke dalam stadion. Bukankah ini hampir sama ketika Indonesia berhadapan dengan Oman pada 6 Januari 2010 silam.

 

Penonton asal Indonesia masuk berlari ke lapangan dan berusaha memasukkan bola ke dalam gawang. Sang kiper Ali Al Habsi pun tak mau tinggal diam, dia siap sedia mengamankan gawangnya dari siapapun (termasuk penonton). Huuuu.. meski akhirnya Indonesia tercinta ini dikalahkan 2-1 pada pertandingan tersebut.

Sama juga terjadi di Stadiun Durban semalam, ketika Jerman terkalahkan oleh Spanyol. Baru 4 menit pertama, seorang Superman muncul dari belakang gawang sambil membawa vuvuzuela. Ternyata, dalam dunia manapun seorang penonton mempunyai jiwa atraktif dan progessif.

Hem.. kira-kira mau ngapain ya superman dari Italia ini?