Belajar Kesabaran dari Widi Utami

Setahun lebih saya baru mengenal Widi Utami atau kami biasa memanggilnya Mbak Widut tetapi rasanya sudah mengenal berpuluh-puluh tahun. Semoga persahabatan kita bertahan sampai sehidup sesurga ya. Perkenalan dengannya memang berkat Arisan Link Grup Blogger Perempuan V. Bahkan di awal, saya menerawangnya sebagai sosok yang galak padahal aslinya orangnya memang sedikit galak tapi lebih banyak mellow, hahaha *mulai buka aib*.

Promo Bank BNI Penunjang Kebutuhan Berbelanja Lebaran Jauh-Jauh Hari

http://www.ranirtyas.com/2017/05/promo-bank-bni-penunjang-kebutuhan-belanja-lebaran.html

Sudah menjadi percakapan sehari-hari antara saya dan teman-teman di kantor setiap tahunnya, hampir setiap menjelang lebaran, dua tiga bulan sebelumnya kami menggosip tentang baju lebaran yang biasanya dijual saat menjelang lebaran.

Barang-barang tersebut terutama baju, stok yang berkualitas (baca: bagus) biasanya sudah cepat ludes saat awal puasa. Iya tidak salah, saat awal puasa. Mungkin saat ini kebanyakan masyarakat lebih mengutamakan belanja baju lebaran jauh-jauh hari sebelum menjalankan ibadah puasa atau setidaknya pas awal-awal puasa agar puasanya semakin bersemangat. Apalagi jika kita masih mencari baju tersebut seminggu sebelum lebaran, bisa dipastikan kita akan menerima stok seadanya. Syukur-syukur masih sedap dipandang.

Mengenal Make Up Pertama Kali

Para Sahabat tau kan akhir-akhir ini saya lagi sering membahas make up? Selain untuk menambah portofolio tulisan “beauty” juga untuk mempersembahkan kecantikan wanita Indonesia yang sesungguhnya, kuning langsat juga sawo matang. Tau kan artinya apaan? Hahaha.

Dipikir-pikir, di antara #bloggerKAH yang paling ganjen soal make up kayaknya aku deh =,= selain karena mereka berdua memang udah cantik naturalist dari sananya, juga kayaknya para suami mereka lebih suka jika  para istrinya hanya bersolek untuk suaminya. Sementara suamiku... Beliau suka senyum-senyum sendiri kalau lihat saya udah dandan luama, soalnya di rumah memang tidak pernah pake bedak, sekali pake bedak bisa bahaya.. bisa masuk angin paginya karena habis diserang negara api.. hahahahahhahahahahhha.. Sensor sorry.

Baca Juga Punya Mbak Widi Utami : Ketika Suami Tak Berkenan Istri Bermakeup Riahttp://widiutami.com/ketika-suami-tidak-berkenan-istri-ber-make-ria.html
Mbak Arinta Adiningtyas

Mengenang make up pertama kali itu kayaknya udah dari kecil tahu yang namanya make up, tapi ya begitulah.. Saya diajari make up yang natural dan sering buat sendiri.

Iya buat sendiri.. jadi bukan make up yang bikin wajah kayak denok deblong.

Kalau diingat-ingat, sepertinya pertama kali tahu yang namanya luluran itu pas masih SD. Iyes, masih SD guys, walaupun pas TK sudah tahu yang namanya bedak dan lipstik tapi sebatas buat main-main saja. Tetapi luluran pas SD ini rutin dilakukan seminggu sekali bareng Ibu dan adik lelaki saya. Hahaha, ya kami berdua taunya cuma buat mainan aja sih.

Lulur yang digunakan juga bukan lulur hasil beli, tetapi lulur yang buat sendiri.

Bahan yang dibutuhkan:

  • Kunyit
  • Minyak goreng
  • Tepung beras
  • Sedikit air

Cara Penggunaan :

  1. Tumbuk kunyit sampai rada halus,
  2. Campurkan kunyit yang telah ditumbuk dengan tepung beras ditambah sedikit air. Bila sudah agak kalis, campurkan dengan minyak goreng sedikit.
  3. Balurkan ke seluruh tubuh dan gosok perlahan, maka sel-sel kulit mati akan terangkat dengan sendirinya.

Lulur ini lebih alami juga dapat mendekatkan hubungan ibu dan anak. Menyenangkan sekali. Makanya dalam seminggu sekali, kami akan membuat lulur ini. Bisa saja sih memakai kunyit yang sudah berupa bubuk, tetapi hasilnya sedikit kurang puas kalau buat kami.

Selain lulur, saya mulai rutin menggunakan hand body pas jaman SMP. Waktu itu belinya yang Citra sachetan. Namanya anak SMP kan, uang sakunya seberapa dan lagi lulur cuma dipakai di tangan karena anak SMP yang mulai centil khawatir tangannya gosong saat dipakai bersepeda dari sekolah sampai rumah.

http://www.ranirtyas.com/2017/05/mengenal-make-up-pertama-kali.html

Meskipun  hand body yang saya pakai saat itu santer dengan rumornya yang menumbuhkan banyak rambut di tubuh pemakai, saya mah tetep nggak peduli, toh udah panjang dari sananya. Hahhaa. Anak centil mah bodho teuing, yang penting wangi dan kulit jadi bersih putih.

Tetapi jaman segitu mah, saya kok udah pinter ya membedakan kulit saya dengan kulit teman-teman lainnya. Saya jarang banget membeli Citra yang pemutih, seringnya beli Citra hand body kuning langsat tapi kayaknya sekarang yang varian itu masih ada nggak sih di pasaran?

Waktu sekolah paling sebatas pelembab, bedak dan hand body kalau ada uang tambahan. Seringnya cuma pelembab dan bedak.

Barulah menginjak kuliah sudah mengenal lips gloss.

Meskipun cilikanku lugu, tapi saya mah seneng karena itu berarti kulit saya masih alami dan aman dari bahan-bahan pembuatan bedak segala macam.

Bila disuruh memilih antara make up yang glamour atau yang naturalis, saya memilih “LIHAT SITUASI DAN KONDISI”, iyalah.. Mosok kalau cuma ke kantor atau pergi belanja pakai make up yang glamour? Atau bahkan kalau pengen ketemu sama temen-temen nggak mungkin juga kan pakai yang glamour? Eh tapi temennya pak suami dulu acara kumpul-kumpul juga pake yang glamour. Ketemu di lain waktu, pas pakai bedak seadanya. Hmm...

Memakai make up glamour atau naturalis, kalau saya sih lebih lihat tempat ya. Wisuda dan pergi kondangan juga tidak mungkin pakai yang naturalis, walaupun waktu wisuda saat itu saya terlihat lebih cantik dengan make up naturalis, hahahha. Iyalah itu request yang ngotot sama salonnya minta make up yang naturalis, udah sampai lepas berapa biji giginya. Hahaha.. nggak ding, yang punya salon ramah kok orang-orangnya.

http://www.ranirtyas.com/2017/05/mengenal-make-up-pertama-kali.html

Kalau para Sahabat Ran, sejak kapan mengenal make up?

Cewek Ibarat Guru Sejarah


Bersiap-siaplah jika berhubungan dengan wanita, karena jika kamu membuat kesalahan sedikit saja maka kesalahanmu akan diungkit-ungkit terus seperti mengulang pelajaran sejarah.

Sering ya kita mendengar susunan kalimat di atas yang jika dituliskan dalam beragam versi artinya sama.

Old City 3D Trick Art Museum Semarang

http://www.ranirtyas.com/2017/05/old-city-3d-trick-art-museum-semarang.html

Minggu siang itu, saya meminta mas suami untuk mengantar saya ke Semarang untuk kopdaran sama blogger kayu sirih yang sudah jauh-jauh dari Colomadu. Untung Mbak Arin mau diajak ketemu siang hari menjelang sore. Ya bagaimana, tokonya PakMer masih buka setengah hari.


Sebelum menuju ke Mom Milk, ketika melintasi kota lama saya melihat ada yang berbeda dari biasanya yaitu adanya tempat wisata baru, Old City 3D Trick Art Museum Semarang. Lokasinya tepat di belakang Bank Mandiri Kota Lama, atau dari Gereja Blenduk masih lurus beberapa meter.

Bagi yang membawa google maps silakan cari Jalan Letjen Suprapto No 26 Kota Lama Semarang.

Jam sudah hampir menunjukkan jam 2 siang, saya pesimis nanti pulang bisa mampir ke sini. Lha salahe sopo lungo awan-awan :p

Penasaran, saya tanya sama Mbak Ita Museum 3D (kami menyebutnya) buka sampai  jam berapa. Ternyata kata Mbak Ita buka sampai jam 10 malam. It’s wow.. sesuatu ya.. Tetapi jam bukanya sepertinya baru buka jam 9 pagi. Entahlah, lupa lihat jadwal operasionalnya.

Ashar sekitar jam 16.30 kami akhirnya berpisah dengan Mbak Arinta dan Mbak Ita juga Aga. Sekeluarga melanjutkan perjalanan sesuai rencana ke Museum 3D setelah sebelumnya sholat Ashar dulu di Mom Milk Cafe. Cafe yang satu ini ramah anak (terdapat kolam ikan) juga terdapat musholanya. Saya hampir salah arah kiblat, jika tidak diingatkan mas suami yang tiba-tiba nginceng. Astagfirullah.. untung baru takbir. Sudah diberi arah sih tapi sejadahnya bergambar sama jadi bingung mana yang depan dan mana yang belakang.

Sampai di Museum 3D entah jam berapa, mungkin hampir jam 5an ya. Harga per tiketnya dibandrol Rp 50.000/orang dan anak di atas 2 tahun diharap membayar penuh.

http://www.ranirtyas.com/2017/05/old-city-3d-trick-art-museum-semarang.html

Dilansir sebagai Museum 3 Dimensi terbesar di Jawa Tengah dan sepertinya begitu ya, karena untuk area Jawa Tengah memang baru diketahui satu ini. Begitu masuk, ya lumayan sih ya luasnya, nggak terlalu luas juga. Mungkin akan lebih baik jika stand yang bersebrangan diberi jarak yang lebih lebar lagi karena waktu kemarin itu banyak pengunjung yang berjubel di tengah-tengah stand seperti saat pameran komputer.

Masuk ke Museum 3D ini memang harus berimajinasi tinggi, tetapi jangan khawatir karena ada contohnya di setiap stand jadi tahu harus berfoto macam bagaimana. Atau bisa juga menggunakan lensa dulu dan dilihat secara visual, sebaiknya kita bergaya di mana dan harus seperti apa. Ada juga lho petugasnya yang mengarahkan gaya dan mengambilkan foto kita, dan mereka sangat ramah-ramah tanpa perlu diminta.

http://www.ranirtyas.com/2017/05/old-city-3d-trick-art-museum-semarang.html

http://www.ranirtyas.com/2017/05/old-city-3d-trick-art-museum-semarang.html

Selain museum 3 dimensi, terdapat juga Omah Kwalik yang sudah kita kenal dengan sebutan Rumah Terbalik, sayangnya saat itu ke manapun saya pergi, Abang Han selalu ngintil jadinya fotonya terlihat aneh dengan dia mengambang di atas.


http://www.ranirtyas.com/2017/05/old-city-3d-trick-art-museum-semarang.html

http://www.ranirtyas.com/2017/05/old-city-3d-trick-art-museum-semarang.html


Berikut tips kalau kamu ingin mengunjungi Old City 3D Trick Art Museum :

1| Bawa makanan dan minuman sendiri karena di dalam tidak ada stand makanan.
2| Bawa juga plastik sampah sendiri karena kemarin saya tidak menemukan tempat sampah di pojok manapun.
3| Jangan rusak properti yang ada dan kembalikan segera ke tempatnya
4| Bawa baterai kamera lebih atau pastikan baterai ponsel penuh jika ingin memotret dengan kamera ponsel.
5| Sedia bolpaint sendiri kalau ingin mengisi kupon undian.

Akhirnya Bertemu dengan Blogger Kayu Sirih

Akhir tahun kemarin, sejak bulan November 2016 sebetulnya kami para bloggerKAH (saya, Mbak Arinta, dan Mbak Widi Utami) sudah berencana untuk kopdar karena kami bertiga sama-sama berasal dari Jawa Tengah yang di mana seharusnya waktu buat memusat di satu titik lebih mudah daripada harus ketemuan sama blogger lintas propinsi.

Iya kami bangga menjadi blogger Jawa Tengah.

Rencana tetaplah rencana, yang namanya menyatukan dua isi kepala saja sudah susah apalagi ini berenam. Hahaha. iya kan kami bertiga sudah menikah semua dan ketika berpergian harus dengan suami. Bisa saja sih pergi sendiri, tapi itu kan kalau jaraknya di dalam kota. Lha ini musatnya di kota lain je..

Waktu itu diputuskan kami akan berkumpul di Ungaran, Kab Semarang sekaligus nyari tempat yang cocok buat main anak-anak. Sayangnya karena satu, dua lalu tiga sebab lain akhirnya kami pasrah pada bongkokan dan pertemuan itu gagal.

Awal Mei kemarin Mbak Arin berkesempatan dolan ke Semarang karena Pak Yopie ada tugas membuat sketsa di Kota Lama, yeayy..

Kesempatan buat kopdar nih.. Sayangnya ternyata gantian Mbak Widut yang nggak bisa dolan karena keponakannya masuk RS. 😢 sayang ya.. Tapi nggak apa-apa. Bismillah doakan saja bisa kumpul juga suatu saat.

Tapi sama Mbak Arin ditulis di caption instagramnya, kehadiran Mbak Widut diganti Mbak Endut.. Errr.. kalau aku jadi Mbak Ika udah tak cipok aja itu Mbak Arin 😆.


A post shared by Arinta Adiningtyas (@arinta.adiningtyas) on

Akhirnya ketemu juga sama Mbak Arinta dan Mbak Ika Puspitasari.. FYI, Mbak Arinta ini adik kandungnya Mbak Ika Puspitasari.

Yeay.. syenang sekali syalala..

Meskipun jarak Kudus - Semarang cuma 1-2 jam perjalanan, tetapi saya memang jarang sekali ke Semarang kalau tidak ada perlunya, ditambah kesok-sibukan saya.

Kesan setelah kopdar sama Mbak Kayu Sirih a.ka Mbak Arinta Adiningtyas, doi ini memang sama aslinya luar dalam dengan yang ditulis di blog. Ya tulisan di blog itu adalah cerminan dirinya. Orangnya selembut tulisannya, tetap mengemukakan kritik bila diperlukan tetapi tidak sefrontal pendukung pilkada DKI beberapa bulan yang lalu. Jiahahaha..
Kalau Mbak Ika..

Ah love juga lah pokoknya. Bertemu mereka berdua ibarat seperti ketemu saudara lama yang sudah lama tidak berjumpa. Langsung sehangat percakapan kami waktu itu. Sayangnya tidak ada Mbak Widut, ditambah Aga yang sedang rewel karena kecapaian dll.

Semoga kita bisa bertemu lagi ya Mbak Arinta, Mbak Ita, juga Mbak Widut dan para sahabat blogger lainnya.

[REVIEW] La Tulipe Matt Lipstick 212 Virgin Tree

Sebetulnya saya tipikal orang yang hemat dalam berlipstick, meskipun begitu masih suka membeli banyak lipstick. Ya Allah maafkan aku yang dzolim terhadap lipstick-lipstick itu.

Mungkin keturunan dari Ibu juga yang kalau memakai lipstick bisa awet sampai setahun bahkan terkadang lebih. Soalnya ketika sudah nyaman dengan satu warna, akan susah untuk berpaling dari warna sebelumnya.