Menuju CintaMu (part-3)

Usai dinyatakan akan kesulitan jika memaksakan lahiran normal karena nyatanya bayinya belum masuk panggul dan pembukaan masih 1 longgar atau 2 sempit maka kami memutuskan untuk melakukan sectio caesare.

Baca dulu: Menuju CintaMu (part-1) dan Menuju CintaMu (part-2)

Sudah 2 malam dan 3 hari aku di ruang persalinan ini dan selama itu pula aku sudah menyaksikan 2 pasien kuret dan 1 pasien yang akan melakukan sectio juga.

Pikiran yang masih stress karena akan sectio harus mendengar isakan dan rintihan pasien yang dikiret. Beruntung ada kepala perawat yang mengusulkan untuk pindah kamar agar tidak stress. Alhamdulillah ya Allah.. hatiku teriris denger suara rintihan pasien.

Padahal setauku pasien yang dikuret itu seharusnya dibius, tetapi yang di sebelah ini kok masih merintih ya 😅.

Begitu selesai dia langsung dipindah ke kamar dan sebelahku yang satu segera berangkat ke ruang operasi. Tetapi menghadapi operasi, beliau sangat tenang sekali. Terdengar dari suaranya. Padahal usianya 35 tahun dengan kehamilannya yang ke-4 tetapi putra-putrinya baru 2, di mana anaknya yang akan lahir ini otomatis menjadi anak ke-3. Aku takjub dibuatnya bagaimana dia bisa setenang itu. Subhanallah..

Sesungguhnya saat diputuskan dr Sahono agar dilakukan sectio, aku menangis terisak-isak dibuatnya sampai perawat Mbak Tyas ikut tertawa menanyakan mengapa menangis. Oh sungguh aku yang jaim ini cuma bercerita sambil memegang hp, "Ini mbak, baca berita sedih." Padahal... Hahaha..

Sungguh malu aku sama mbak yang berangkat operasi itu.

Belum dikembalikan ke kamar, sudah ada pasien lagi masuk ruang persalinan. Ini dikuret lagi.. tapi alhamdulillah tidak pake rintihan. Hanya terdengar tindakan medis dll.

Syukurlah.. ini terakhir dengar suara-suara di dalam ruang persalinan.

Kami (baca: saya) menunggu di kamar dengan masih menggunakan seragam pasien yang hanya ditali di bagian belakang.

Bapak mertua datang tepat jam 19.30 wib dan dari desas desus para suster yang hilir mudik masuk kamar, operasi akan dilakukan jam 20.00 malam. Bukan jam 21.00 atau jam 22.00 seperti dugaanku sebelumnya.

Memasuki ruang operasi itu sungguh sangat.. Mengingatkanku akan 3 tahun yang lalu. Tetapi bedanya kali ini ditemani pak suami dan bapak mertua. Sedangkan dulu ditemani ibu dan pak suami.




Inilah yang terjadi ketika resmi memasuki ruang operasi.

1| kami memasuki ruang dalam bagian operasi di mana terdapat 2 lampu besar khas operasi. Musik terdengar sangat keras, khas musik jaman kini yang sedang terkenal pada jamannya.

2| Baju pasien digantikan baju khusus untuk pasien yang akan dioperasi.

3| Kateter baru dipasangkan saat memasuki ruang operasi. Berarti ini ke-3 kalinya aku memakai kateter di saluran kencingku. Pertama kali adalah ketika pasca kecelakaan dulu, kedua kali adalah saat sectio kelahiran Abang Han, dan ketiga kali adalah sekarang. Kata Mbak Arinta Adiningtyas, justru kateter inilah yang ditakuti saat akan operasi. Tetapi buatku yang sudah pernah melakukannya, rasanya hanya perlu teknik yang pas yaitu tarik nafas panjang dan jangan tegang saat dipasang atau akan merasakan kesakitan yang sangat.
Begitu juga di lengan kanan dipasang alat tensi otomatis dan di lengan kiri yang sudah terpasang infus sebelumnya juga mendapat tambahan alat rekam jantung.

4| Suntik bius sebagian oleh dokter anastesi dilakukan di tulang bawah bagian belakang.
Jujur inilah momen yang paling aku takutkan saat menghadapi persalinan ini. Sugestiku, saat ini aku sangat sehat dan sama sekali tidak sesakit kontraksi saat melahirkan Abang Han jadi ketika disuntikkan bius akan terasa sangat sakitnya.

Aku diminta untuk mundur dan membungkukan kepala sampai dr Irsa mampu menyuntikkan obat bius di tulang belakangku.

Keteganganku semakin parah dan mungkin itu diketahui oleh dr Irsa sehingga mempersulit pekerjannya. Beliau memintaku untuk menundukkan kepala secara alami dan tidak memaksa untuk tunduk tetapi aku tetap saja semakin tegang.

Saat itulah dr Irsa seperti membisikkan sesuatu yang terasa sangat ajaib. Beliau terus meminta untuk menunduk secara alami, satu kata yang terus membuatku tenang, "ikhlaaas..".

Astagfirullah.. aku masih belum berserah diri padaNya sampai saat ini. Inilah jalan ninjaku, eh jalan takdirku untuk menuju CintaNya, menjemput cinta kami.

5| Pembiusan dilakukan secara lokal dan hanya perut ke bawah yang mengalami kelumpuhan sementara.

6| Dari diaghfrahma ke atas ditutupi sehelai kain agar pasien tidak melihat proses operasi tersebut.

7| dr Dewanto mulai memasuki ruangan dan dibantu asistennya pembedahan dilakukan dan hampir 15 menit kemudian alhamdulillah suara tangis Alisha yang pertama didengar. Air mataku kembali menetes, mungkin inilah yang disebut kebahagiaan dalam proses kelahiran.

8| Pasca bayi dikeluarkan dan ditangani langsung oleh dr Fahmi selaku dokter anak, bayi Alisha diperlihatkan padaku. Lucunya bayi ini dia menangis tetapi setelah dikecupkan padaku, dia sontak berhenti menangis. Bayi Alisha langsung dibawa ke ruang perawatan bayi.

9| Sementara penutupan rahim dan sobekan perut masih terus dilakukan oleh dr Dewanto.
Proses ini memakan waktu yang lebih lama ketimbang operasi yang pertama dulu. Menurut para perawat, hal tersebut lebih dikarenakan pembuangan luka lama oleh dr Dewanto sehingga yang tertinggal di rahimku adalah luka baru. Belum lagi pemastian untuk penjahitan yang lebih sempurna lagi.

Begitu selesai, dr Dewanto beristirahat di kursi tersendiri. Baru kali ini aku tersadar beratnya tugas seorang dokter. Hari ini entah sudah berapa persalinan dan kuret yang sudah dilakukan.

10| Begitu semua sudah selesai, para perawat langsung membereskan semua termasuk memindahkanku ke ranjang kamarku tetapi bukan untuk dibawa ke kamar melainkan untuk dibawa ke ruang pemulihan.

11| Keluar ruang operasi terasa semakin mengantuk dan sangat lelah.

Mengantuk semakin berat saat di ruang pemulihan dan aku tertidur selama 3 jam sampai tiba-tiba aku merasakan kontraksi kembali.

Pukul 23.00 kontraksi rahim kembali terasa. Menurut perawat, ini memang pemulihan rahim karena kembali menyusut. Akan sangat bahay bila tidak ada kontraksi karena dikhawatirkan terjadi pendarahan di bekas jahitan.

Jadi memang semalaman aku susah untuk tidur karena menahan kontraksi tersebut.
Bahkan 6 jam pasca operasi dan usai berbuka puasa, aku masih kesakitan. Barulah 15 menit menjelang disibin para perawat, aku bisa tertidur dan stagenku akhirnya dikendorkan.
Para perawat meminta untuk segera belajar miring biar cepat sembuh. Ya Allah pas dimiringkan untuk disibini itu rasanya subhanallah.. pengen nyokot Pak Mofa.

Usai disibini aku kembali tertidur bahkan sampai bayi Alisha dibawa masuk kembali ke kamar kami. Satu jam setelahnya, bayi satunya lagi datang. Abang Han datang bersama Ibu dan adikku langsung melirik tajam pada bayi Alisha, kedatangan mereka sudah cukup membuatku bahagia minta ampun. Sayang aku masih sangat sulit untuk miring apalagi untuk duduk.

Tetapi kebahagiaanku hari ini sudah lengkap. Aku melihat kedua anakku berada di sampingku.

Terima kasih sayang, terima kasih Abang Han yang sudah membuat Ibu tenang. Terima kasih bayi Alisha karena proses kelahiranmu yang begitu calm dan ketenanganmu pasca dilahirkan membuat ibu yakin bahwa melahirkan secara sectio pun bisa secara Gentle Birth.


Alhamdulillah Ya Allah.

Menuju CintaMu (part 2)

Pagi ini ditemani dinginnya suhu AC ruang persalinan, direktur RSB Permata Hati yang juga dokter kandungan mendatangiku bersama asistennya karena semalam tidak sempat mengontrol kami yang berada di ruang persalinan.

Penampakan Ruang Persalinan dan Alat-Alatnya


FYI, dr Sahono Sp.Og yang juga direktur adalah ayah dari dr Dewanto, Sp.Og masih aktif bertugas sampai saat ini. Beliau sesekali membantu proses persalinan normal.

Tetapi entah kenapa dr Dewanto masih favorit. Mungkin karena sedari awal curhatnya sama beliau ya.

Pak Sahono mengecek kandungan ini dan melihat posisi bayi, begitu dicek beliau kaget karena bayi belum masuk panggul sampai sekarang. Padahal sudah diobservasi selama 3 hari.

Menuju CintaMu (part-1)

Selasa, 12 September 2017 malam adalah saat adik mulai mengeluarkan sinyal-sinyal cinta untuk Ibu. Berbeda dari mules biasanya, mules yang ini terasa seperti nyeri haid pada bulan-bulan biasanya. Perut mulas ditambah pinggang yang mulai linu luar biasa.

Tetapi Ibu kok ngantuk ya dek, jadi sehabis Isya ibu memutuskan untuk tidur 😴 nanti jika adik benar-benar ingin keluar, kita langsung berangkat malam itu juga.