"Assalamu alaikum Bu Hajah, saya mau menjual barang ini barangkali ibu berminat." Ujarku pada tetangga baru yang menetap di rumah paling mewah tepat berada di ujung komplek ini.
Pembawaannya yang tenang seraya menghitung sebuah angka di kalkulatornya tetapi tetap santun menyambutku di bilik rumah yang tertutup tirai kerei bambu sehingga cahaya matahari sayup-sayup menyapa kami saat itu.
Sesekali sambil menghitung sesuatu, tampak sekilas dari balik lengan bajunya bergelantungan gelang-gelang emas berhiaskan mahkota berlian.
Seraya menunggunya menyelesaikan perhitungan, sesekali aku menatap sekeliling tembok rumah yang dihiasi oleh pernak-pernik kaligrafi, tak lupa aku tertegun dengan gambar Ka’bah yang terurai indah dibingkai berkeliling warna keemasan. Belum lagi ayat kursi yang terukir di sebuah kulit binatang dan lagi-lagi dibingkai di bingkai dinding berukuran 100x50 sentimeter.
Seorang anak perempuan berjilbab manis keluar dari dalam membawakan segelas air dingin dan menawarkan kepadaku, “Maaf ya Mbak, seadanya di dapur.”
“Ah ya Allah merepotkan sekali.”
Gadis manis itu menggeleng dan tersenyum lalu meninggalkan kami di teras.
“Astagfirullah mbak, maaf ya mbak menunggu lama. Mbak Tanti ini tetangga saya ya? Bagaimana mbak, njenengan punya dagangan apa?” sapanya sopan.
Pembicaraan kami berlangsung lumayan lama, tiba-tiba suami beliau datang menyapa kami.
“Wah umi, sudah punya teman baru di sini ya.”
Batinku pun berpikir keras, sungguh keluarga yang agamis sekali, bahkan sapaannya pun Umi dan Abi. Memang agama bisa membawa sesuatu kedamaian, sampai tingkah laku pun sangat sopan. Saya pun teringat dengan ajakan ibu-ibu komplek untuk bersilahturahim ke tetangga yang lain karena beliau akan berangkat haji bulan ini.
“Bu Hajah mau ikut bareng kami ibu-ibu komplek sini tidak? Kami rencananya akan bersilahturahim bareng-bareng ke rumah Ibu Sulis karena beliau mau berangkat haji tanggal 22 Agustus nanti.”
Tanpa babibu, Bu Hajah ternyata mengiyakan ajakanku.
“Boleh-boleh mbak, memang tugas kita seraya muslim jika ada saudara kita yang mendapat panggilan untuk berangkat ke rumah Allah adalah untuk mendoakannya juga. Siapa tahu kita mendapat berkah dan mendapat panggilan berangkat berikutnya.”
“Aamiin bu, saya juga pengen berangkat ke sana suatu hari nanti, tapi sekarang nabung niat dulu, hihihi” sahutku malu-malu mengucapkan ini.
“Saya juga mbak, semoga tahun depan bisa beneran berangkat dan mendapatkan haji yang mabrur.”
Dengan polosnya, aku malah menanyakan “Lho Bu Hajah baru berangkat tahun depan? Berangkat untuk kali ke berapa Bu?”
“Apa sih mbak ini, kami baru berangkat pertama kali mbak.”
Sambil meminum air dingin yang sudah tak dingin lagi, saya meneguk air mineral itu sambil kebingungan.
“Lho tapi nuwun sewu, kok orang-orang pada manggilnya Bu Hajah?”
“Hahaha, jadi mbak ini mengira saya dipanggil Bu Hajah karena sudah haji? Nama Saya memang Hajah mbak, Laelatul Hajah.”
422 kata
Flash Fiction
Baca punya BloggerKAH
Mbak Arinta Adiningtyas - Korban Mitos Tentang Jodoh
Mbak Widi Utami - FF | Ceret Merah Kekinian






