“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun..” pengumuman dari masjid Subuh ini membuat kami sontak terhentak kaget bahwasanya tetangga depan rumah meninggal malam tadi. Memang almarhumah sudah sakit selama 10 tahun dan selama itulah beliau sama sekali hampir jarang keluar rumah.
Seperti biasa para tetangga terdekat mulai saling bantu membantu untuk mengurus jenazah. Biasanya aku kalau ada beginian juga ikut nimbrung, walaupun sekedar mendengarkan mitos ora penting.
Tetapi kali ini aku harus mengalah tidak ikut membantu karena ada 2 batita dalam rumah, yang kalau dititipkan ke bapaknya bakal merepotkan sejagad raya #halah.
Maksud hati ingin ikut mengantarkan jenazah saat pemberangkatan, berangkatlah aku bersama bayi Alisha dan Mas Han. Belum sampai tujuan, aku sudah dipanggil Mbak Puji, sepupunya pak suami. Intinya diajak ke rumahnya dulu karena mengajak bayi saat masih ada jenazah itu kurang elok. Iya sih, bagi orang Jawa pantang mengajak bayi ke acara pemakaman seperti ini karena dikhawatirkan kena sawan.
Kadang sedih kalau ada anggapan seperti ini, karena orang meninggal tidak membawa sawan. Hanya saja memang ada setan-setan di sekitar yang berusaha menghasut manusia agar lupa akan tujuan dan persiapan jawaban untuk bertemu Malaikat Munkar-Nakir. Sehingga para orang tua khawatir para anak-anak yang polos diganggu oleh setan tersebut.
Mbak Puji menawarkan untuk menggendong Alisha, sementara aku pergi melayat menghampiri Ibu-Ibu yang sudah tahlil lebih dahulu. Baru mau menyebrang, Mas Han sudah menjerit-jerit minta sama Bapaknya.
Ya Allah Gusti.. kan bapaknya anak-anak ikut menyolatkan jenazah tadi..
Mas Han terus saja aku gendong menuju ke rumah duka. Tapi dia sama sekali tidak bisa ditenangkan, tantrum ora keturutan.
Karena khawatir malu dan juga takut Mas Han semakin malu dan tambah tantrum, Mas Han aku ajak pulang seketika setelah selesai mengantarkan seperangkat beras gula dan teman-temannya.
Sudah sampai seberang jalan, ganti Mas Han minta kembali ke rumah duka.
Duh Gusti..
Kalau diturutin nanti setelah kembali menyebrang, pasti dia minta balik lagi.
Wes pulang aja batinku.
Sesampainya di rumah beberapa saat kemudian pak suami muncul dari belakang, karena kebetulan memang rumah kami pepetan sama makam. Pak suami cuma tersenyum karena tahu suara tangisan anaknya terdengar sampai makam.
Keran di depan rumah langsung aku kucurkan untuk mencuci muka Mas Han agar emosinya yang sedang meledak-ledak sedikit lebiha adem karena air.
Kami pun masuk rumah dan menunggu Mas Han tenang kembali sambil beraktivitas seperti biasa. Begitu dia tenang, kutatap matanya sambil mengusap kepalanya.
“Mas, tadi itu Mas Han minta apa sebenarnya? Gitu itu kurang bagus lho Nang, besok tolong jangan gitu lagi ya.”
Mas Han sepertinya mudeng dan sedikit malu akan tantrumnya sendiri, dan dia langsung mengalihkan perhatian. Kami tahu, bocah ini bocah pintar, makanya ketika dia merasa bersalah dia akan langsung melakukan kegiatan lain.
Duh ya Allah.. hari Minggu yang melelahkan.
#hari5
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional