Seni Merayakan Proses Belajar Anak Tanpa Membandingkan

Assalamu Alaikum Sahabat Ran ❤

        Suasana sore itu mendadak hening ketika Ibu Ketua PKK di RT kami memberikan wejangan di sela-sela arisan bulanan. Dengan senyum hangat namun tatapan yang bersungguh-sungguh, beliau mengingatkan sebuah siklus tahunan yang sebentar lagi akan dihadapi oleh seluruh orang tua yaitu musim penerimaan rapor.

        "Anak-anak sebentar lagi menerima rapor, jangan dibanding-bandingkan dengan anak lain," ujar beliau, sembari dengan jenaka memperagakan gestur tubuh orang tua yang sedang mengomeli anaknya, "Oh, kowe kok gak iso podho kae bijine (Oh, kamu kok tidak bisa sama seperti dia nilainya)?" Kalimat sederhana berbahasa Jawa itu disambut tawa kecil oleh para ibu yang hadir. Namun, di balik tawa tersebut, ada kebenaran menohok yang tertanam di kepalaku. Ibu Ketua PKK mengingatkan sebuah hakikat yang sering kali kabur oleh ego dewasa di mana setiap anak, apalagi darah daging kita sendiri, terlahir istimewa dengan ritme dan potensinya masing-masing. Rapor hanyalah selembar kertas berisi angka, ia bukan timbangan untuk mengukur harga diri seorang anak, apalagi menjadi bahan pacuan untuk balapan antar-orang tua.

Seni Merayakan Proses Belajar Anak Tanpa Membandingkan


Drama Kisi-Kisi dan Mental Health, Ibu Lelah Sekali

    Dunia pendidikan anak-anak kita hari ini ternyata tidak hanya sebatas membaca buku, menghafal rumus, atau mengerjakan pekerjaan rumah. Di balik dinding-dinding kelas yang terlihat damai, ada dinamika sosial yang kerap kali menguras emosi—tidak hanya bagi anak-anak, tetapi juga bagi kita, para ibu yang berdiri di belakang mereka. Hari ini, hatiku rasanya benar-benar lelah. Tubuh dan pikiran seperti enggan berkompromi, ditambah lagi dengan siklus bulanan (PMS) yang membuat fluktuasi emosi terasa dua kali lipat lebih hebat. Rasanya ingin marah, ingin mengamuk menyuarakan ketidakadilan, tetapi di saat yang sama, energiku rasanya sudah habis dan mental ini ikut drop.