Selasa, 19 Juli 2016

[Review Buku] Azab dan Sengsara : Bukan Siti Nurbaya tapi Mariamin

http://www.ranirtyas.com/2016/07/review-buku-azab-dan-sengsara.html

Merari Siregar seorang guru besar keturunan Batak, lahir di Siporok, Tapanuli, Sumatra Utara lahir pada 13 Juli 1896. Kehidupan masa kecilnya di Siporok membuatnya berpikir bahwa kehidupan di daerahnya yang menerapkan perjodohan pada anak-anak mereka sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

Maka melalui novel Azab dan Sengsara, Merari Siregar berusaha menceritakan hal tersebut dalam kisah Mariamin dan Aminuddin. Meski dalam ringkasan di bagian belakang novel tentang ketidaksukaan beliau pada adat kawin paksa, justru saya tertarik dengan ketidaksesuaian antara judul novel dan ringkasan cerita. Siapakah yang terkena azab dan sengsara? Apa penyebabnya sampai harus mengalami azab dan sengsara?

Identitas Buku


Judul Buku : Azab dan Sengsara
Karya : Merari Siregar
Penerbit : PT. Balai Pustaka Persero
Cetakan pertama, 1936
Jumlah halaman : 168 halaman
ISBN : 979-407-168-4

RESENSI


Novel Azab dan Sengsara adalah karya kedua dari Merari Siregar yang diterbitkan tahun 1920 setelah karya pertamanya, saduran novel Si Jamin dan Si Johan terbit di tahun 1918. Novel Azab dan Sengsara bisa dikatakan sebagai tonggak lahirnya novel modern di Indonesia. Meski jika ditinjau dari jalan ceritanya yang mengangkat kehidupan sehari-hari mirip dengan hikayat tetapi berbeda dengan hikayat yang memaparkan kehidupan istana, justru Azab dan Sengsara menampilkan unsur-unsur kritik sosial yang tidak pernah ditampilkan dalam sebuah hikayat.

Berlatar belakang di Siporok, Tapanuli, Sumatra Utara hiduplah Mariamin beserta ibu dan adik lelakinya, mereka hidup dalam kemelaratan. Berkebalikan dengan Aminuddin yang hidup dalam kesejahteraan karena ayahnya adalah seorang kepala kampung. Mariamin mencintai Aminuddin yang waktu senja itu berpamitan kepada Mariamin untuk mencari pekerjaan di Medan agar dapat mempersunting Mariamin kekasihnya.

Sesungguhnya Mariamin bersaudarakan sepupu dengan Aminuddin, Ayah Mariamin adalah kakak dari Ibu Aminuddin, sehingga Mariamin ikut bermarga seperti ayahnya, Sutan Baringin dan Aminuddin ikut marga dari ayahnya, dan dikarenakan Aminuddin dan Mariamin berbeda marga, di dalam adat masyarakat Batak Angkola, Aminuddin dan Mariamin harus menikah karena pernikahan ini disebut pernikahan manyonduti (kembali ke pangkal keluarga). Tujuannya tak lain agar tali perkauman bertambah kuat (TALI PERSAHABATAN DAN PERKAUMAN, Bab 2).

Sayangnya Baginda Diatas rela tidak mengindahkan adat Batak Angkola tersebut dikarenakan materi. Karena materilah, ayah Aminuddin tidak ingin mempunyai menantu Mariamin yang tidak sederajat dengan keluarga mereka, pikir ayah Aminuddin.

Mariamin anak orang miskin akan menjadi istri anak mereka itu? Tentu tak mungkin, karena tak patut! Bukankah orang itu telah hina di mata orang, lagi pula tak berada, boleh dikatakan orang yang semiskin-miskinnya di daerah Sipirok? Orang yang begitukah yang akan jadi tunangan Aminu'ddin? O, sekali-kali tidak boleh; Aminu'ddin seorang anak muda, belum tahu ia membedakan bangsa, haruskah didengar permintaannya itu? Betul anak gadis itu bagus rupanya, lagi masuk kaum mereka juga, akan tetapi kaum tinggal kaum, perempuan yang elok dapat dicari (MAKIN JAUH, Bab 6).

Mariamin sebetulnya juga dahulu adalah anak seorang kaya. Sutan Baringin, ayah Mariamin seseorang yang terkenal arogan terhadap siapapun termasuk terhadap istrinya sendiri. Sutan Baringin menginginkan harta warisan neneknya untuk dapat dimiliki sendiri tanpa perlu dibagi ke saudaranya, sehingga kasus warisan tersebut masuk ke pengadilan. Sahabat Sutan Baringin, seorang procol bambu (mungkin sekarang adalah pengacara) bernama Marah Sait terus menghasut agar Sutan Baringin maju ke pengadilan yang lebih tinggi tingkatannya. Bukan kemujuran yang didapat justru kerugian yang didapat. Sutan Baringin kalah di pengadilan, sementara hartanya semakin habis tanpa tersisa apapun. Sutan Baringin jatuh miskin, bahkan Marah Sait sahabatnya juga semakin menjauh. Akibatnya istri beserta anak-anak Sutan Baringin yang harus menanggung azab dari perbuatan suami juga ayah mereka.

Demi meluruskan keinginan untuk menentang pernikahan tersebut dan membujuk istrinya, Baginda Diatas mengajak istrinya pergi ke dukun untuk menentang pernikahan Mariamin dan Aminuddin. “Kamu mengatakan Mariamin juga yang baik menantu kita; kalau demikian baiklah kita pergi mendapatkan Datu (dukun) Naserdung, akan bertanyakan untung dan rezeki Aminu'ddin, bila ia beristrikan Mariamin.” (MAKIN JAUH, Bab 6).

Betapa praktek perdukunan masih sangat lazim dilakukan saat itu, bahkan beberapa daerah di Indonesia pun masih sering menggunakan jasa dukun untuk mengetahui nasib dan peruntungan manusia itu sendiri. Rejeki bukan Datu yang mengetahui tetapi semata karena kekuasaan Allah kita mendapatkan rejeki. Padahal pergi ke dukun adalah perbuatan syirik dan sesungguhnya syirik termasuk dalam golongan dosa besar.

Merari Siregar berusaha mengungkapkan lewat Azab dan Sengsara, bahwa sesungguhnya kita tidak seharusnya mempercayai dukun. Bagaimanapun mempercayai dukun sama saja kita tidak percaya kepada Allah.

Siapa yang salah? Dalam hal ini nyatalah adat dan kepercayaan kepada takhyul itu yang mengorbankan cinta kedua makhluk Allah itu (MAKIN JAUH, Bab 6). Betapa dukun dapat memperdayai iman kita juga menyembunyikan sesuatu kebenaran. Orang tua Aminuddin akhirnya mencarikan gadis lain untuk dinikahkan dengan putra mereka, seorang gadis bangsawan bermarga Siregar.

Hingga betapa terkejutnya Aminuddin karena gadis yang dibawa oleh kedua orang tuanya ke Medan adalah bukan Mariamin. Sedang ia tidak mungkin menolak karena jika sampai ia menolak maka menurut adat istiadat keluarganya yang akan mendapat malu. Dengan keterpaksaan Aminuddin menikah dengan gadis pilihan kedua orang tuanya.

Setelah pernikahan tersebut, Aminuddin meminta Baginda Diatas juga ibunya untuk membawakan nasi bungkus sebagai ucapan permintaan maaf kepada keluarga Mariamin. Barulah setelah bertemu Mariamin yang cantik juga berperilaku sangat baik, Baginda Diatas menyesal karena telah menggagalkan pernikahan tersebut, tetapi kayu sudah menjadi arang.

Mariamin kemudian menjadi terpukul setelah mengetahui bahwa Aminuddin telah menikah, sehingga ia jatuh sakit.

Tidak lama setelah pernikahan Aminuddin, Mariamin menikah dengan Kasibun seorang lelaki pilihan ibunya. “Bagaimanakah dapat ia menolak perkawinan itu, karena ibunya ber-kehendak demikian.” (DALAM RUMAH BAMBU MARIAMIN, Bab 7). Rupanya perjodohan adalah hal yang masih sangat lazim di masanya. Kalau bukan dikarenakan materi, mungkin akan jadi perkara lain untuk Mariamin. Betul ibunya tak memaksa dia, hanya sekadar menyuruh dia. Karena bolehlah nanti di belakang hari mendatangkan malu, apabila anaknya itu tiada dipersuamikan. (DALAM RUMAH BAMBU MARIAMIN, Bab 7).

Setelah menikah, bukan kebahagiaan yang diperoleh Mariamin melainkan kesengsaraan. Betapa tidak ternyata Kasibun menderita penyakit kelamin yang akan menular kepada pasangannya, sehingga Mariamin enggan untuk diajak berhubungan intim. Mariamin menginginkan suaminya sembuh terlebih dahulu akan tetapi Kasibun menganggap Mariamin tidak menurut padanya. Sehingga jadilah Mariamin bulan-bulanan Kasibun.

Baru genap sebulan Mariamin menikah, rupanya Aminuddin mendatangi Mariamin di rumah suaminya. Bermaksud baik untuk menanyakan kabar juga menyambung silahturahmi, tetapi Aminuddin lupa bahwa Mariamin adalah istri orang lain yang bisa saja terbakar cemburu karena Aminuddin, meskipun mereka berdua adalah saudara sepupu. Benar saja, Kasibun dibakar cemburu buta, dan Mariamin semakin disiksa oleh suaminya sehingga Mariamin melarikan diri ke kantor polisi terdekat. Akhirnya Kasibun dijatuhi denda dan harus menceraikan Mariamin. Kesudahannya Mariamin terpaksa pulang ke negerinya membawa nama yang kurang baik, membawa malu , menambah azab dan sengsara yang bersarang di rumah kecil yang di pinggir Sungai Sipirok itu. (DI TANAH ASING, Bab 8).

Bagi masyakarat jaman dahulu, wanita yang bercerai dengan suaminya masih dianggap sebagai sesuatu yang kurang baik. Entah mengapa hingga saat ini pun kedudukan janda sebagian masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Padahal era kini, banyak wanita mandiri yang mampu berjuang untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya. Sayangnya, banyak pula lelaki yang menyepelekan dari status seorang wanita yang sudah bercerai. Mereka dengan seenaknya menganggap wanita hanya sebagai pemuas nafsu. Tengok kasus Wanita Hamil 7 Bulan dimutilasi, Pembunuh Janda di Hotel Solo. Bahkan Merari Siregar juga pernah membahas dalam novel Azab dan Sengsara, banyak wanita yang mendapat kesengsaraan dikarenakan laki-laki akhirnya rela menjual kehormatannya. Melalui novel itu, sebetulnya Merari Siregar berharap wanita agar tidak mudah jatuh ke lembah prostitusi, seperti Mariamin yang meskipun dalam kesempitan ekonomi tetapi dia memilih pergi dan menjaga kehormatannya sendiri. Tidak seharusnya sebagai seorang wanita, terlepas dari apapun status hubungannya dapat dengan mudah tidur dengan seseorang yang bukan muhrimnya kecuali atas dasar pernikahan.

Azab dan sengsara telah tinggal di atas bumi, berkubur dengan jasad badan yang kasar itu (PENUTUP KALAM, Bab 9). Mariamin meninggal meninggalkan air mata yang telah kering. Gadis yang merasakan kesengsaraan akibat dari korban adat istiadat, perjodohan juga ketimpangan ekonomi.

Apalah bedanya dengan masa kini, bukankah manusia masih menggunakan materi sebagai tolak ukur derajat manusia itu sendiri. Betapa kaum pinggiran disepelekan oleh mereka yang berduit. Pernikahan pun masih banyak yang dilandasi oleh materi. Walaupun kini sudah tak jaman lagi menjodoh-jodohkan anak, tetapi umumnya anak orang kaya hanya akan disetujui pernikahannya oleh kedua orang jika calon menantunya adalah anak dari golongan yang sederajat.

Betapa adat istiadat yang baik perlu kita lestarikan karena itu merupakan warisan nenek moyang kita, tetapi jika dirasa kurang baik dan berfaedah sebaiknya perlu kita pikirkan kembali tentang adat istiadat tersebut seperti quote favorit saya di bawah ini.

Akan tetapi mengingat peredaran masa ini, tiadalah dapat di-pertahankan semua peraturan-peraturan itu, sudah seharusnyalah mengubah apa yang kurang baik, dan menghapuskan yang tiada patut.

Kisah perjodohan dikisahkan bukan oleh Siti Nurbaya tetapi oleh Mariamin, gadis malang dari Siporok, Tapanuli, Sumatra Utara yang sengsara dalam azab dan sengsara.

Tulisan ini juga dituliskan di storial.co dalam tulisan Bukan Siti Nurbaya tapi Mariamin
Juga hasil project bersama bloggerKAH. Baca tulisan Widut "Sejarah yang Terulang" di sini dan tulisan Arinta "Kasih Tak Sampai Antara Siti Nurbaya dan Samsul Bahri" di sini.

comments

11 komentar:

  1. tetep sedih dan perih mbak. mau dulu atau sekarang, fiksi atau nyata, kalo soal tertindas-tertindas begini ssya paling nggak tahan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya begitulah Mbak dan mereka sebenar-benarnya orang yang beriman kuat.

      Hapus
  2. novel2 jadul banyak yang sad ending ya, jaraang banget aku nemu yang happy ending. bahkan tokoh yang baik pun harus mengalami kejadian yang menyedihkan, kayak mariamin ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya juga ya Mbak, mungkin penulis jaman dahulu lebih banyak yang melankolis :D

      Hapus
    2. mellow mellow melati alibaba gitu ya mba...
      tapi kalau udah tamat baca2 novel jadul begini rasanya kek naik beberapa tingkat gitu kekerenannya, hahaha *Ngaco*

      Hapus
    3. aku pun sama mbak. hahaha soalnya pas menyelesaikan pusing juga makanya pas selesai seperti habis menang perang apa gitu :D

      Hapus
  3. Balasan
    1. Tugas juga nggak? aku dulu malah kebagian tugas resensi novel Kasih Tak Sampai

      Hapus
  4. Ah Mariamin, sungguh malang nasibmu, kisah cintamu tak sesuai harapanmu :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena adat istiadat mbak juga materi. ah dunia..

      Hapus
  5. Wah, review-nya komplit. Jadi pingin baca bukunya. Etapi zaman sekarang cari buku seperti ini susah, ya :( :(

    BalasHapus

Komentarnya sementara dimoderasi ya 😁 dan jangan tinggalkan link hidup. Nanti BW baliknya lewat profil teman-teman. Terima kasih untuk tidak menggunakan "ANONIM".

Recommendations by Engageya