Perkembangan dunia boleh maju, teknologi boleh berkembang pesat, bahkan hingga medis pun semakin canggih tetapi apakah harus meninggalkan obat tradisional juga?
Saya lebih memilih lihat-lihat dulu jenis pengobatan tradisionalnya.
Tidak semua obat tradisional buruk dan tidak semua juga baik.
Layaknya sandal dan piranti yang ada di dalam tubuh kita, ada yang cocok dan ada yang tidak cocok. Meskipun katanya tradisional tetapi jika bentuknya sangat aneh dan di luar nalar juga tidak akan saya ambil. Contohnya adalah obat tifus yang berupa kapsul cacing. Kasul cacing, meskipun sudah terbungkus dalam kapsul tapi di dalamnya kan ada cacing, entah hidup atau mati ya tetap saja cacing.
Termasuk juga meminum air kencing untuk pengobatan..
Sependek pemahaman saya, makanan yang menjijikkan masuk ke dalam khobits, dan sementara dalam Al Quran disebutkan:
Dan Dia mengharamkan bagi mereka sesuatu yang khobits (QS Al A'raf)
Apakah obat termasuk dalam makanan? Kan obat masuknya juga lewat tenggorokan, kecuali obat yang dimasukkan lewat (maaf) dubur. Saya sih no ya.
Alhamdulillah dan tidak minta, saya tidak pernah terkena tifus, dulu memang jaman masih ngekos di Semarang pernah divonis kena gejala tifus tetapi setelah kembali pulang ke rumah dan periksa ke dokter langganan, ternyata bukan gejala tifus melainkan maag. Alhasil obat yang diberikan di Semarang malah memperburuk gejala saya waktu itu.
Pengen ketawa ngikik saat itu karena tenaga medis yang salah diagnosa.
Lalu teringat lagi sama ibu dokter yang waktu itu kami kunjungi kliniknya dan lagi-lagi karena maag berpesan bahwa sebenarnya obat yang paling ampuh adalah obat buatan Allah SWT, dalam hal ini adalah kunir.
Kunir dipercaya ampuh mengatasi gangguan pencernaan seperti maag, radang usus buntu dan penyakit lainnya. Kunir juga digadang-gadang mampu melawan perkembangbiakan sel kanker.
Tidak hanya kunir, daun sirih juga mengandung banyak manfaat. Semisal untuk mengobati bayi pilek, cukup ambil daun sirih dilemaskan di atas api sampai lemas lalu dilinting-linting (digulung) dan ditempelkan pada punggung dan dada bayi, nah besok ingus bayi sudah pada keluar.
Selain itu daun sirih juga sering saya gunakan untuk mengatasi mata yang lelah, cukup dilemaskan menggunakan api dan ditempelkan di atas alis. Biasanya seperti ada tarikan-tarikan ke atas alis dan mata pun menjadi lebih segar.
See? Tidak semua obat tradisional itu buruk, banyak juga yang bisa diambil manfaatnya asalkan pas takarannya dan pas waktunya juga.
Bila ada yang bertanya pada saya, apakah saya lebih memilih obat tradisional daripada obat konvensional? Maka saya menjawab "Lihat situasi dan jenis obatnya juga." Seperti halnya perkataan dan tulisan saya selama menulis di sini, ambil yang baik dari saya dan tinggalkan yang buruk pada saya.
Semoga keluarga kita tetap sehat selalu ya.
Cherrs.





Kalau aku, obat tradisional dulu jika sakitnya enggak parah. Kalau belum membaik baru beralih ke obat dokter. Kalau sakitnya dah gawat langsung ke dokter tentunya. Masa dukun. 😂😂😂
BalasHapusaq juga lebih mempertimbangkan obat tradisional sih kalau sakitnya tidak parah, atau kalau sakitnya seperti patah tulang aq juga lebih milih ke tukang urut daripada ke dokter..
BalasHapus