Beberapa minggu yang lalu, kami belajar mengenai inner child. Sebagian teman-teman di kelas masih merasakan inner child yang belum terselesaikan.
Aku pun bingung sendiri dengan inner child yang aku punya karena aku merasa baik-baik saja dengan kehidupan masa kecilku.
Lalu aku bertanya sama dua sahabatku, apa benar aku memang tidak punya inner child yang belum terselesaikan?
Rupa-rupanya aku mendapat pencerahan dari Mbak Widut, dengan teori yang mudah diterima oleh bahasa emak. "Apakah Mbak Ran saat memarahi Mas Han tiba-tiba teringat dengan masa lalu dan ingin melakukannya lagi pada anaknya?"
Ah iya! aku ingat, aku pernah sekali itu tok memarahi Mas Han dengan cara orang tuaku melakukannya juga padaku. Saat kecil dulu, aku memang tergolong anak yang bandel. Orang tua sulit memahami kemauanku karena memang aku merasa kesulitan dalam menyampaikan keinginan. Entah apa cuma aku yang sulit dipahami oleh Bapak Ibu.
Bahkan saking bandelnya, beberapa kali aku diajak menemui orang pintar, entah itu orang tua pintar maupun pak Ustadz. Beberapa dari beliau-beliau mengatakan kalau anak mereka tidak kerasukan setan sehingga bisa melihat setan juga nakalnya naudzubillah tapi memang dasar anaknya yang... ah aku lupa sama terusannya, wkwkkk.
Sehingga saran dari Pak Ustadz saat aku bandel, menangis dan rewel tidak karuan beliau menyarankan Bapak untuk menyiramku dengan air dingin tidak peduli di manapun aku sedang berada, sehingga rumah kami seringkali banjir setempat karena itu tadi.
Memang sih aku langsung diam terdiam, tapi rupa-rupanya cara itu membekas di hati aku.
Pernah suatu hari Mas Han juga aku siram dari ujung kepala sampai kaki dengan air dingin karena dia rewel menangis dan tidak mau diam sama sekali, lalu tiba-tiba aku melihat bayanganku sendiri saat kecil dulu.
Apakah Mas Han diam juga? Tidak. Nyatanya dia malah semakin marah padaku.
Maafkan Mamah ya Nak, Ibu ternyata lupa bahwa cara ini pun sebetulnya kurang tepat untuk kita berdua.
Kembali pada diskusi kami, aku yang ngeyel tapi bingung ini dan merasa kehidupan masa kecilku baik-baik saja ternyata menurut Mbak Widut, inner child yang aku miliki sebetulnya sudah sembuh hanya saja bisa kambuh kalau ada pemicunya.
Belajar dari kelas Institut Ibu Profesional, aku belajar membuat jurnal syukur, sebuah jurnal untuk self healing dari luka-luka yang belum sembuh.
Mungkin ini belum proporsiku mengatakan secara teori dan bagaimana cara membuat jurnal syukur tapi yang jelas aku tangkap untuk dapat membuat jurnal syukur dapat mengurangi kebencian kita terhadap sesuatu atau seseorang.
Bersyukur dengan hal-hal kecil setiap hari dapat mengenyampingkan sesuatu yang kita benci.
Maka dari itu, dengan membuat jurnal syukur ternyata bisa membuat hari kita yang bad mood menjadi pulih seperti sedia kala. Bila saja dalam sehari itu ada rekan kita yang benar-benar membuat jengkel, alih-alih mengingatnya terus sampai bikin TBC lebih baik memikirkan peranan orang baik lain dalam kehidupan kita. Tanpa kamu sadari, banyak orang kan yang baik kepadamu daripada beberapa orang tersebut. Jangan sampai deh kemurnian kita rusak hanya karena nila setitik.
Sebetulnya jika menilik dari beragam referensi, membuat jurnal syukur mempunyai banyak manfaat dalam kehidupan kita, di antaranya sebagai berikut:
1| Menurunkan Level Stress
Dengan menuliskan rasa syukur kita dalam jurnal, otomatis kita jadi melihat sesuatu dari sudut pandang yang positif. Hal inilah yang membawa kita lebih bisa menikmati hidup dan mampu mengelola stress dengan cara yang lebih sehat.
2| Meningkatkan Empati
Empati biasanya muncul karena adanya hubungan rasa terima kasih, dan penalaran sosial. Sehingga saat mengambil keputusan, otomatis otak akan mencerna hubungan empati yang lebih baik.
3| Mengenal Diri Lebih Baik (Self Awareness)
Semakin kita menuliskan hal-hal baik di sekitar kita, semakin kita sadar bahwa sebenarnya banyak potensi yang kita miliki. Kita menjadi lebih mengenal diri sendiri dengan lebih baik. Rasa syukur membuat kita fokus pada diri sendiri, sehingga saat itulah self awareness (kesadaran diri) kita akan muncul.
4| Sebagai Pengingat
Ada kalanya memang kita di masa terpuruk, maka dengan membaca-baca ulang jurnal syukur, insya Allah kita akan mengingat lagi hal-hal yang sebenarnya lebih banyak yang perlu kita syukuri dalam hidup kita.
Toh Allah memang Maha Baik, semakin banyak kita bersyukur, semakin banyak nikmat-Nya yang akan diberikan pada kita.
5| Membantu Pola Tidur
Jurnal syukur yang ditulis pada hari ini (biasanya saya menuliskannya saat menjelang tidur), membuat saya mensyukuri banyak hal. Hal ini membuat saya berpikir jernih dan tidak jadi memikirkan hal-hal buruk yang bisa membuat saya kepikiran dan susah tidur. Sehingga dengan begini, diharapkan nantinya kita juga akan mendapatkan tidur yang berkualitas.
Sebagaimana fungsi jurnal syukur, sebenarnya juga sudah disinggung dalam Quran yang berbunyi,
"Maka ingatlah kamu kepada-Ku, niscya Aku akan ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku." Q.S Al Baqarah ayat 152.
Beberapa penulis jurnal suka membuat jurnal syukur dalam bujonya. Bahkan dari mereka juga suka membuat hand lettering sendiri. Saya pun masih berlatih mencari-cari hand lettering untuk pemula. Tetapi buat kamu yang suka menuliskannya dalam bentuk digital, saya akan melampirkan jurnal syukur yang bisa kamu isi sendiri secara digital.
Berikut contoh jurnal syukur yang dapat kita terapkan dalam keseharian, I've made for a daily journal, you can also download this journal bersyukur in here.




Jurnal syukurnya kalau diprint, diisi tiap hari kece nih. Bikin hidup lebih bahagia.
BalasHapusatau ditulis via digital dan dipost bikin saat kita buka dumay jadi teringat hal-hal positif aja.
HapusKayaknya aku harus bikin "Jurnal Bersyukur" juga..supaya semesta mendukungku untuk selalu bahagia. Semacam "heart field" gitu, Mbak..
BalasHapusMeski memang kalau lagi sedih ya yang diingat sedih-sedihnya doang. Susah banget untuk mengingat kebahagiaan.
nah itu.. daripada mengingat-ingat kesedihan lebih baik cari positif saja. Semoga aku juga bisa mengaplikasikannya.
Hapuskalo pas lagi ngga waras suka keingetan tapi, huhu
Hapusaku juga suka merasa berdosa ketika aku melakukan sesuatu ke si sulung dengan cara yang dulu pernah aku alami aku lupa anakku bukan aku duh baper jadinya
BalasHapusdan mensyukuri terus emang jadi terapi y mba
hayuk teh kita sembuhkan inner child kita
Hapuskemarin di grup IP saya juga bahas inner child, grup langsung rame.. saya jadi kepo googling lebih lanjut soal ini,dan kerennya ternyata Islam juga punya cara untuk self healing terapi namanya tazkiyatun nafs
BalasHapusPernah denger aku Mbak soal tazkiyatun nafs ini.. tapi di mana ya? ntar ah mau nyoba nyari
HapusBener juga yaa. Syukur yg ditulis itu bisa kita baca2 lagi, obat kalau pas badmood atau lagi sedih.
BalasHapussetujuuu.. entah itu ditulis secara nyata maupun maya tetep bisa diingat lagi
Hapus'Keren ini ada jurnal syukur mengajak kita semakin Bersyukur atas nikmat nikmat dan memang janji Allah akan menambah rasa nikmat apabila kita bersyukur
BalasHapusah iya Mbak.. betul sekali
HapusTanpa kita sadari cara mendidik kita mengikuti cara orangtua, kadang aku menyafari hal itu juga. . Padahal aku tau itu salah..
BalasHapusBerarti Mbak Echi punya inner child yg belum sembuh total. Semoga bisa berdamai ya mbak dengan inner childnya.
HapusJurnal syukurnya keren ini mbak..aku juga sering memarahi Intan dan jdi ingat masa kecilku... Huhuhu jd merasa bersalah kalau bgtu.
BalasHapussemoga kita menjadi lebih bijak ya mbak sebagai orang tua.
HapusMasyaAllah luar biasa rajinnya mba untuk sampe buat jurnal bersyukurnya ya mba. Tapi alhamdulillah jadi pengingat kita ya mba untuk selalu bersyukur atas nikmat Allah
BalasHapusAlhamdulillah.. semoga kita termasuk golongan orang-orang yang pandai bersyukur ya mbak
HapusThis is a great idea indeed! Thanks for sharing it mba..never forget that you have been blessed abundantly. Btw aku sudah follow blog yang ini ya..semoga sempet follback juga
BalasHapusbener mbak, kadang kita sering lupa caranya bersyukur :(
Hapusaku langsung follow blognya Mbak Indah kemarin hehehe
Ya Allah alhamdulillah... aku ketemu jawabannya pas baca blognya, Mbak. Makasih banget! Udah lama tahu tentang fenomena inner child. Tapi nggak pernah tahu cara mengatasinya. Iya sih harus memaafkan. Tapi urusan hati kan nggak mudah dan aku nggak tahu gimana ngemaafinnya. Makasih banget Mbak...
BalasHapusAlhamdulillah.. Semoga bisa segera berdamai dengan hati ya mbak
HapusMasyaAllah mba. Alhamdulillah akhirnya disadari ya apa yang "melenceng" yang terbawa dari pengasuhan kecil dulu.
BalasHapusSemangat selalu membuat jurnal syukurnya.
aamiin.. insyaAllah
HapusWah keren nih. Memang harus bersyukur setiap hari ya. Kalo dibikin jurnal gini jadi inget terus nikmat Allah.
BalasHapusiya syukur itu yang membuat kita semakin rendah hati juga
HapusAh sekarang terasa ya pendidikan anak zaman dulu kadang bikin kita tak nyaman dan tak layak dipraktekkan ke anak Zaman sekarang. Kudu rajin2 bersyukur
BalasHapusbukan bikin tak nyaman, tapi ini masalah berdamai dengan hati Jia
HapusBagus banget ada jurnal syukur karena saya seringkali lupa bersyukur apalagi kalau merasa ada hambtan atau kekesalan, makasih sharingnya
BalasHapussemoga kita termasuk orang-orang yang pandai bersyukur ya mbak
HapusMbak keren banget idenya. Aku nyimpen ya. Punya printablenya ga mau dong klo ada
BalasHapusMakasih mbak langsung aku tambahkan tombol downloadnya yg bisa printable
HapusPernah baca-baca juga nich, untuk lebih sayang dan perhatian kepada suami dan anak-anak, sebaiknya menyelesaikan dulu masalah diri sendiri, baik masa kecil maupun masa kini. Jadi, saat berhadapan dengan anak, usahakan si ibu tidak memiliki masalah yang bakal terpetik api saat anak-anak sedang membuat emosi. Saya belum ikut kelas ini, Mbak. Masih belajar dulu dech dari blogger dan ibu-ibu lainnya. SUkses selalu ya, Mbak Ran
BalasHapustapi Mbak Astin pengalamannya sudah banyak :)
HapusKasihan kalo sampai diguyur air dingin gitu. Kaget lah ya anaknya.
BalasHapusJurnalnya keren mba, bisa nih dijadikan contoh untuk kenalan saya yang masih suka ngeluh di sosmed
Dulu Pak Ustadz sih ngajarinnya biar anak kepalanya dingin.. tapi ustadz jaman sekarang ngajarinnya kalau marahin anak itu diajak ke kamar, bicara empat mata, kasih air minum dingin dulu baru deh diajak ngobrol baik-baik.. Beda jaman beda cerita ya Mbak
HapusAku jadi terinspirasi nih mbak pengen buat jurnal syukur juga untuk pengingat diri.
BalasHapusMonggo mbak..
HapusAku belum bisa ngerasain karena belum ada momongan mba Rani, semoga iner childku ga kebawa nanti semoga dengan menerapkan jurnla syukur begini bisa membuatku juga jadi lebih baik. Duh nggak nyesel mampir ke postingan ini dan mendapatkan ilmu. Makasih Mba rani
BalasHapusaamiin.. aamiin..
HapusIde jurnal syukur ini brilian dan menginspirasi sekali.
BalasHapusJadi pengen mau ikutan buat juga.
Setuju banget mba, banyak bersyukur itu banyak sekali manfaatnya ya.
hehe iya mbak Anna
HapusBisa jadi self healing ya mbak dengan menggunakan cara jurnal bersyukur ini..
BalasHapusiya mbak, salah satu cara untuk self healing dari banyaknya cara.
HapusAku gak terlalu telaten klo musti ngisi2 jurnal kayak gitu.
BalasHapusTp kegiatan begini bikin kita jd terbiasa dg segala rutinias dan gak lupa utk bersyukur ya mbak
nah.. kalau dibiasakan ternyata bisa membawa dampak positif lho mbak
HapusBersyukurlah maka kamu akan bahagia. Yup bener banget. Selain bahagia, rasa syukur juga bisa jd healing
BalasHapusyes so true
HapusTernyata teman sesama IP.
BalasHapusHehehhe
Kmren saya juga dapat materi ini.
Agak nyesek.
Karena ternyta banyak hal yg harus saya maafkan.
Heheheh
hehe kemarin itu aku malah bingung karena merasa tidak punya inner child, wkwkkk padahal aslinya ada ya cuma alhamdulillah udah sembuh.
Hapusizin aku print ya jurnalnya. Semoga sam2 semangat ya menjalani jurnal syukurnya
BalasHapusMonggo Mbak Lidya
HapusMbak, Jurnal Syukurnya dibikin bisa di-download, dong. hehe. Kayaknya kami semua butuh itu. Termasuk anak2 juga.
BalasHapushehe baru kepikiran mbak, done. Udah bisa didownload ya yang versi printable
HapusKalo baca ini, aku sepertinya masih ada inner child yang belum terselesaikan deh X)
BalasHapusSemoga segera bisa teratasi Mbak Dewi
HapusWaah asiknyaaa, ada jurnal syukur. Selama ini belum kepikiran utk merinci berkah dlm sehari yg menjadi rasa syukur. Pengin bikin ah supaya termotivasi lebih baik setiap harinya.
BalasHapusMonggo Mbak Ima
HapusWaduh bandelnya ya dulu hehheee. Tapi memang bener kok, kita nggak pengin mewarisi hal2 yg tidak kita sukai dari orang tua kita tapi yang kita lakukan justru menguatkannya, melakukan yang sama persis seperti yg beliau lakukan pada kita. Semoga inner child kita bisa terakomodasi dg baik.
BalasHapusAamiin aamiin Mbak Lusi
HapusHi teman sesama IIP lagi, hehee.
BalasHapusKita memang suka lupa bersyukur, bikin jurnal bersyukur, tempel di dinding kali, ya. Biar kita sllu ingat sama BERSYUKUR.
Wuih keren idenya. Aku kayaknya kudu buat juga. Biar gak ngeluh dan lihat ke atas terus, ya. :))))
BalasHapusOwww...baru tau nih yg begini. Bener banget ya, dengan bikin jurnal syukur kita lebih fokus pada kebaikan yg kita alami tiap hari dan tidak memikirkan hal2 negatif yg bisa merusak mood. Mau nyontek metode inilaahhh
BalasHapusNoted mba, saya termasuk selalu berdoa untuk memaafkan ortu yang terkesan memang saklek banget pada saat itu.. memaafkan ternyata tidak mudah, ternyata saat kadang jengkel sama anak, rekaman itu ada lagi, ternyata harus diperjuangkan yah mba, salah satu cara bikin jurnal juga yahh.. makasih mba
BalasHapusHooooo, di pagi dan malam sebelum tidur memang biasa mereleksikan kegiatan dan kejadian sepanjang hari itu, tapi blm sampai bikin jurnal seperti ini. Terimakasih banyak ya Mbak sudah menginspirasi :)
BalasHapusSaya juga masih berurusan dengan inner child dan sudah berpengaruh ke anak
BalasHapusKarena itu jd banyak PRnya. Boleh juga membuat jurnal seperti ini. Sbrnya sdh pernah kepikiran tp blm dieksekusi. Inner child trnyt ga bisa dianggap remeh. Krn tmn saya ada yg sampai sakit hati banget sama ortu dan kakak adiknya. Sampai bilang putus hubungan jg gpp.
Inspiring mbaaaakkk... Kadang lupa bersyukur ma yang kecil2 yaaa.
BalasHapusJurnalnya bagus aku save dan print jg ah :D
Bagus nih mbak jurnal syukur, bisa diterapkan ke seluruh keluarga. Iya, di IIP aku belajar apa itu inner child dan efeknya sampai dewasa.
BalasHapusPenting nih Mbak, harus ingat2 lagi ya dulu saya kayak gimana. Gak usahlah yaaa yg lalu2 diturunin ke anak2.
BalasHapusPenting banget ini buat jurnal syukur juga, biar kita makin bersyukur dan bisa kendalikan diri. Thanks ya Mbak :)