Jangan Ajak Bapak ke RS!

Pagi buta, sekitar pukul 00.00 kami menengok bapak yang masih tertidur di depan TV. Tanpa kasur, tak mau memakai baju, hanya bertelanjang dada dan bercelana pendek.

Pak suami inisiatif menanyakan pada bapak, "Pak, mau ke rumah sakit?"

Tapi tak ada sahutan, hanya berdeham ehm.. ehm.. tak jelas.

Sebenarnya aku mulai agak panik, tapi pikiran harus jernih. Pak suami memintaku memanggil adik ipar di rumah sebelah. Kuketok jendelanya, tapi kurasa sepi. Aku telepon ke gawainya, beruntung kok langsung diangkat.

"Halo, piye Mbak?" sahutnya dari sebelah sana.


"Mbak Ida, iki bapak sakit. Gimana enaknya?" tanyaku.

Sahutnya dari ujung gawai, "Mau ke RS?"

Aku pun mendadak bingung, karena dia mengatakan malam ini tidak tidur di sini, melainkan di apotek. Kebetulan memang apoteknya dibuat seperti ruko, sehingga ada kamar tidurnya di sana, lengkap seperti rumah.

Aku berikan gawaiku pada pak suami. Tanpa babibu, sepertinya mereka berdua sepakat mengajak bapak ke rumah sakit. Sambil menunggu kedatangan adik ipar buat ikut mengantar ke RS, kami memasukkan beberapa helai baju milik bapak ke dalam tas. Ada perasaan aneh saat aku mau ikut memasukkan baju-bajunya. Kok ruangan yang biasanya buat menata baju sudah tertata rapi. Bahkan ruangannya sangat bersih dan rapi. Perasaanku semakin tidak enak. Semoga hanya perasaan saja!!

Mengapa sih harus menunggu adik ipar? Jujur ya, kami berdua tak sanggup jika harus mengangkat bapak ke dalam mobil.

Suaminya Mbak Ida pun datang, dan kami bersiap mengangkat bapak ke dalam mobil. Tapi, yang ada bapak malah kesakitan. Aba-aba pak suami untuk menidurkan bapak ke kursi sementara mereka berpikir ulang. Adik ipar pun inisiatif untuk memanggil ambulance. 

Beberapa tetangga kami ketuk pintunya untuk dimintakan tolong mengangkat bapak ke ambulance, sebelum mobil ambulancenya datang. Alhamdulillah, kami masih memiliki tetangga yang peduli dan mau direpotkan malam-malam.

Sekitar pukul 01.00 tepat, ambulance pun datang. Berkat bantuan dari beberapa orang, akhirnya bapak diangkat kembali menuju kasur yang di dalam ambulance. Naon eta teh namana?! 


Pak suami turut masuk di dalam mobil ambulance. Sementara adik ipar menyusul dengan motor karena memang untuk riwa-riwi. Benar juga idenya. Kok memang saat seperti ini, kita butuh seseorang yang logikanya masih normal dan bisa berpikir jernih!

01.15, bapak sudah masuk UGD RSI Sunan Kudus. Aku harap-harap cemas menunggu di rumah sebab tak mungkin aku ikut, karena ada dua balita yang sedang tertidur dan jelas, kami pasti tidak boleh masuk rumah sakit.

Sayangnya, berita yang aku dapat dari rumah sakit, bapak ditanya dokter tidak mau menjawab. Disuruh rontgen pun menolak. Bahkan badan bapak masih cukup kuat untuk menolak petugas medis. Sampai dokter pun menyimpulkan, ada kemungkinan bapak terkena stroke? Please dok! Dokter tidak tahu, kalau bapak ini belum makan dari siang, malam juga nggak. Jaman dulu juga bapak pernah kan seperti ini, menolak infus dll. Sampai alm ibu mertua kesulitan karena harus menjaga bapak agar tidak melepas infus.

Entah mengapa, aku jadi teringat alm bapak kandungku sendiri. Bapak juga tidak suka ditusuk-tusuk jarum. Tapi kami keluarganya, tentu saja harus melakukan sesuai prosedur rumah sakit. Maaf, tapi kami bisa apa?

Bapak, please jangan sakit lagi ya 😊 Alisha dan Mas Han sayang Mbahkung. Kami semua sayang mbahkung.

Kudus, 8 Februari 2020

Tidak ada komentar

Thank you for stopping by 🥰

Terima kasih untuk tidak berkomentar menggunakan URL ARTIKEL and please jangan tinggalkan link hidup ya, sayang 😘

Sharing is caring, tapi aku bakalan sedih banget kalau tulisanku di copy paste buat blogmu. So, klik tombol share aja ya
(゚▽^*)☆

Lalu.. Demi bisa berkomentarlah secara ksatria, silakan berkomentar menggunakan akun Google ya 😁😁😁