Petang ini, mama dan Han belajar bersama. Lebih tepatnya, Mama mendikte Han untuk menulis tugas dari ibu guru. Setelah dikondisikan, Alisha sudah mau bermain sendiri, sedangkan Han sudah mulai terlihat agak jenuh bermain bersama adiknya. Sehingga, dia ingin sekali belajar.
Tentu saja, Mama senang dong!
Sebab, saat menyerahkan tugas portofolio anak lalu mengambil tugas minggu berikutnya di sekolah, ibu guru mengatakan pada mama bahwa selama di sekolah, Han nulisnya termasuk golongan cepat.
Jadiii mama pikir ya Han pasti bisa nulis cepat juga di rumah.
Ternyata.. Oh ternyata..
Han itu memang cepat kalau diajak menulis, tapiii dia aslinya agak malas disuruh menulis.
Han lebih suka belajar berhitung daripada menulis. Apalagi menulis kalimat panjang. Seperti yang dikeluhkan ibu guru, ternyata Han juga agak malas belajar membaca. Sebenarnya dia bisa, tapi roso-roso.
Apalagi sepertinya dugaan mama, Han punya kecenderungan diseleksia. Iya ini baru praduga sih, soalnya mama juga diseleksia. Ha Ha Ha.
Tapi jaman dahulu, ibu dan bapaknya mama itu punya cara unik buat mengajar. Jaman mama kecil memang yang suka mengajari berhitung mama itu bapak, sementara yang mengajari membaca dan menulis itu ibu. Sekarang Han dan Alisha kecil tugasnya diserahkan semua ke mama. Bapaknya anak-anak sesekali mengajar, itu juga kalau tidak sedang lelah dan sedang punya mood baik jadi tidak main gawai.
Mama masih percaya kalau Han dan Alisha dianugerahi otak yang cerdas. Hanya perlu dilatih. Mungkin itulah yang menjadikan mama dan juga orang tua yang lain pasti punya ekspektasi tinggi terhadap anak-anaknya.
Kebanyakan orang tua, mengajar dengan cara berlari. Maksudnya bukan berlari sungguhan, tapi dengan mengajar melompat seperti tutor-tutor di lembaga Primagama. Mengajar Cara cerdas!
Tapiii anak-anak sekecil Han dan teman-temannya itu butuh penjelasan terlebih dahulu. Daripada diajarkan cara cepat, mereka sebenarnya harus diajarkan konsep paling mudah terlebih dahulu. Konsep yang bisa masuk ke otak mereka. Konsep yang menurut nalar mereka, "Oh jadi gini ya.."
Sehingga ketika 10 apel digigit 2 ulat, maka apel yang tersisa tinggal ... itu udah masuk di otak cerdas mereka. Sehingga diharapkan konsep selanjutnya akan lebih mudah diterima.
Nah.. masalahnya, belajar membaca itu mama belum nemu anologi yang pas. Kudunya gimana? Sepertinya memang kembali pakai cara montessori seperti buku Montessori yang udah nggak jelas bentuknya karena sering kami buka dan baca bersama.
PJJ atau Pembelajaran Jarak Jauh benar-benar mengajarkan kami pelajaran berharga.
1| Orang Tua harus Menurunkan Ekspektasi Berlebihan (jika mengalami)
Seperti yang diutarakan di atas, orang tua biasanya menganggap anaknya terlahir cerdas dan brilian. Makanya banyak orang tua yang mengajar terkadang melewatkan konsep yang paling penting.
Cara belajar seperti ini biasanya lebih efektif kalau anaknya sudah bisa konsepnya dengan jelas.
2| Orang Tua harus belajar Memahami Karakter Belajar Anak
Setiap anak memiliki karakter berbeda-beda. Ada anak visual, yang hanya dengan melihat skema dan gambar, anak akan langsung mengerti. Ada pula anak audio, yang mengajarkannya harus dengan didikte sampai mulut berbusa-busa, atau bisa juga dengan bercerita! Tetapi tentu saja, anak audio punya cara sendiri untuk belajar matematika.
Kemudian, bukan gabungan antara audio-visual, melainkan anak kinestetik yang merupakan karakter anak yang membutuhkan praktek untuk proses pembelajarannya. Anak-anak kinestetik yang sering dilabeli anak nakal, karena memang karakternya yang tidak mau diam.
Han sendiri termasuk golongan anak audio-kinestetik.
3| Orang Tua harus lebih sabar!
Tentu saja, orang tua harus lebih sabar. Sebab bagaimanapun, pembelajaran sekarang ada di tangan kita. Mau sabar tidak sabar, ya nanti kita sendiri yang menerima hasilnya.
Mama juga belum termasuk orang sabar kok.
Buktinya, setiap Han belajar. Baru menulis satu kalimat, dia selalu istigfar.
Menulis kalimat berikutnya, dia lagi-lagi bergumam, "Astagfirullah."
Alhamdulillah, berkat PJJ, Han jadi banyak istigfar! Wkwkk





Tidak ada komentar
Thank you for stopping by 🥰
Terima kasih untuk tidak berkomentar menggunakan URL ARTIKEL and please jangan tinggalkan link hidup ya, sayang 😘
Sharing is caring, tapi aku bakalan sedih banget kalau tulisanku di copy paste buat blogmu. So, klik tombol share aja ya
(゚▽^*)☆
Lalu.. Demi bisa berkomentarlah secara ksatria, silakan berkomentar menggunakan akun Google ya 😁😁😁