Anak Bertanya, Siapakah Pengemis Itu?

Assalamu Alaikum warohmatullahi wabarakatuh.

 

Dalam dunia ini, terdapat berbagai macam cara orang untuk meraih pendapatan / uang. Tetapi jika meminta-minta uang, bagaimana?

https://www.ranirtyas.com/2021/10/anak-bertanya-siapakah-pengemis-itu.html


Sore itu, kami sekeluarga pulang dari rumah opahnya anak-anak. Kendaraan kami melaju menuju perempatan Jember. Kebetulan, pas lampu traffic light berwarna merah saat kami tepat berada di perempatan traffic light perempatan Jember. Kami pun menghentikan laju kendaraan.


Sebagai salah satu perempatan paling sibuk di Kudus, aktivitas di perempatan itu sudah terlihat tidak asing lagi.


Manusia-manusia silver yang sengaja mengecat seluruh badannya dengan cat warna silfer segera berlarian ke tengah perempatan membawa kotak-kotak yang bisa dikatakan mirip kardus sumbangan. Ada gosip yang beredar bahwa beliau-beliau ini datang dari plat berawalan K berakhiran P.


Sementara dari arah kami, ada ibu-ibu setengah baya mendatangi kendaraan kami. Dengan kebaya lusuhnya, beliau menodongkan plastik bekas chiki dengan lubang terbuka dan disodorkan ke arah kami.

Suami sering berpesan, jika sedang naik kendaraan roda empat, usahakan untuk memberi sedikit uang kepada beliau-beliau ini, daripada mobilnya digores. Mau itu mobil pinjam atau mobil pribadi.


Tiba-tiba, Hadziq nyeletuk bertanya, "Mah, kenapa dikasih uang?"


Aku sempat ragu dan bingung juga jawabnya. Sebab, tidak mungkin juga jika aku mengatakan seperti pesan ayahnya. Sebab, konsep memberi dan menerima uang juga merupakan proses pembelajaran keuangan yang harus didapatkan Hadziq.


"Ya dikasih uang karena kasihan." jawabku sekenanya.

Hadziq bertanya lagi, "Kenapa kasihan?"

"Iya karena tidak punya uang," jawabku singkat.

Hadziq pun sepertinya masih penasaran, "Kenapa tidak punya uang?"


Mateeek.. Iya ya, kenapa beliau-beliau itu tidak punya uang?


"Ya karena tidak bisa kerja." Lagi-lagi jawabanku singkat supaya menghindari pertanyaan selanjutnya.


Ternyata pertanyaan itu tidak berhenti sampai di situ, saudara-saudara! Hadziq bertanya lagi,

"Oh tidak bisa kerja? Jadinya minta uang ya Mah?"


Dear anakku Hadziq dan juga Alisha. Memang pengemis itu juga merupakan salah satu golongan fakir dan miskin. Tidak pernah ada yang meminta untuk menjadi orang peminta-minta. Semua orang berharap jadi bos. Bahkan seorang anak pun bisa jadi bossy. Tetapi... Usahakan kita juga jangan sampai meminta-minta. Sebab diterangkan oleh Mamah Dedeh Arin, ada hadis yang melarang kita untuk meminta-minta.

 

Hadits ke-1:
Tidaklah salah seorang dari kalian yang terus meminta-minta, kecuali kelak di hari kiamat ia akan menemui Allah sementara di wajahnya tak ada sepotong daging pun. (HR. Muslim No. 1724)

 

Hadits ke-2:
Diriwayatkan dari Hubsyi bin Junaadah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa meminta-minta pada orang lain tanpa adanya kebutuhan, maka seolah-olah ia memakan bara api."

 

Hadits ke-3:
Diriwayatkan dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Meminta-minta itu merupakan cakaran, yang mana seseorang mencakar wajahnya dengannya. Kecuali jika seseorang meminta kepada penguasa, atau atas suatu hal atau perkara yang sangat perlu."


Mama Rani sih sebetulnya berharap, Hadziq dan Alisha mau berbagi rejeki. Masalah orang itu mau menipu kita dengan cara meminta-minta atau bagaimana, biarkan urusannya sama Allah. Tetapiii jika sampai kita tidak berniat memberi, mama berharap Hadziq dan Alisha jangan sampai mencaci atau menghardik mereka.


Maka dari itu, bapaknya anak-anak juga sering meminta Hadziq dan Alisha yang memberikan uang. Bukan tujuannya untuk mengajarkan mereka bahwa meminta-minta itu diperbolehkan, tetapi untuk mengajarkan rasa memberi.


Siapa sih yang mau meminta uang seperti itu? Nggak ada yang mau kan? Semua orang berharap dapat memperoleh rejeki yang halal dan jalur yang benar.


Semoga, beliau-beliau yang sedang kepanasan dan kehausan di tengah-tengah perempatan juga bisa mencari nafkah yang halal. Tidak lagi berdiri di pinggir-pinggir lampu merah karena menjadi pengemis dan juga harus menahan malu jika bertemu dengan kerabatnya di jalan karena meminta-minta.

 

Sungguh, menjadi orang yang diberi kemampuan untuk memberi adalah sebuah keistimewaan dari Allah. Sesuai pepatah, "Lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah."

 

Semoga Hadziq dan Alisha mengerti ya.

7 komentar

  1. Setujuuu mba. Akupun selalu mengajarkan ke anak2, jangan pernah merendahkan orang yang datang meminta2 ke rumah, ATO di jalan2. Tiap hari selalu adaaa aja pengamen , ga cuma 1 tapi bisa banyak kali ke rumah kami. Maklum di gang, jadi pengamen , badut atopun ondel2 selalu lewat hahahah. Tapi aku memang nyediain uang kecil buat mereka stiap hari. Pernah ditanya anakku, kelo dikasih trus ntr mereka keenakan ga mau kerja ma.

    Aku cuma jawab, ga ada yg mau jadi pengamen , panas terik nyanyi, di depan rumah orang, blm tentu ada yg ngasih. Mungkin setiap hari bisa dihitung jari siapa yg memberi mereka uang. Bayangin aja gimana hausnya mereka, laper di siang hari, tapi masih harus jalan jauh dan nyanyi sampe suara serak. Kebetulan kita ada uangnya, kasih aja. Walopun mereka jadi DTG setiap hari, GPP.

    Akhirnya anak2 ngerti sih, mereka mau melihat dari sisi kasihannya .. dan itu yg mau aku ajarkan, supaya ga berat untuk saling berbagi.

    BalasHapus
  2. Saya pun demikian. Jadi pernah memberi uang pada seorang badut tapi kok badutnya merokok ya. Sya kan ga suka lihat pengemis merokok. Tapi balik lagi kalau mau kasih ya kasih saja. Walau pengemir itu menggunakan uang dari kita utk hal yg ga urgent

    BalasHapus
  3. Konsep yg ingin dikenalkan bagus jg nih mbak. Jangan meremehkan tapi jg jangan menjadi oeg yg bergantung ya.


    Keingintahuan anak anak tentu harus dijawab secara nalar yg mudah dipahami ya mba rani. Semoga anak anak kita jadi anak yg berdaya, bermanfaat baik budinya ya.

    BalasHapus
  4. pertanyaan sederhana anak-anak yang bikin orang tua suka bingung yah mba untuk menjelaskan agar mereka paham dengan maksudnya. makasih mba sharingnya ini ngebantu aku bgt buat jelasin ke anak juga bisa pake hadis2

    BalasHapus
  5. terlepas para manusia silver ini terorganisir dan sebagainya, niat memberi untuk berbagi penting untuk kita tanamkan ke anak-anak ya Mbak, biar mereka pun juga mau berbagi, berbagi bukan berarti mengurangi rejeki kita, tapi InsyaAllah akan menambah lebih banyak lagi jika kita ikhlas :)

    BalasHapus
  6. Bener banget, Mbak. Semoga anak-anak kita semua mudah memberi ke mereka-mereka yang membutuhkan. Entah mereka mengemis karena butuh atau apa, ya, itu urusan mereka dengan Allah.

    Kita niat sebagai sedekah ke fakir dan miskin. Kasihan juga mereka, ya.

    BalasHapus
  7. Aku juga rasanya tidak tega jika melihat ada orang lain entah itu ibu-ibu, nenek-nenek, atau siapapun dengan kondisi yang seperti itu jika tidak dibantu atau menyisihkan apa yang kita punya untuk diberi. Walaupun sebenarnya memberi mereka di jalanan itu bisa terkena denda atau sanksi berat dari pihak yang berwenang. Tapi lagi-lagi tidak tega saja. Pernah ikut ngamen tapi dengan menyumbangkan lagu bersama dengan tim, untuk donasi ke korban bencana di salah satu wilayah di Indonesia. Udah nyanyi panjang lebar gak dapet apa-apa, jadi gini toh rasanya.. Hha, tapi yang penting saat memberi iklas aja, gak ada berharap apapun dari pemberian itu.

    BalasHapus

Thank you for stopping by 🥰

Terima kasih untuk tidak berkomentar menggunakan URL ARTIKEL and please jangan tinggalkan link hidup ya, sayang 😘

Sharing is caring, tapi aku bakalan sedih banget kalau tulisanku di copy paste buat blogmu. So, klik tombol share aja ya
(゚▽^*)☆

Lalu.. Demi bisa berkomentarlah secara ksatria, silakan berkomentar menggunakan akun Google ya 😁😁😁