Ada cerita menarik saat pelaksanaan BIAN di wilayah kami. Seperti apa kisahnya? Yuk, ikuti perjalanan kami lebih jauh.
***
Assalamu Alaikum Sahabat Ran.
Drrt.. Drrt.. Sebuah pesan masuk di WhatsApp Grup kelas RA (setara dengan TK) tentang adanya sosialisasi imunisasi dalam rangka BIAN (Bulan Imunisasi Anak Nasional) yang jatuh pada bulan Agustus 2022.
Tapi sepertinya, para mamah kurang antusias dengan pesan tersebut.
Rupa-rupanya, mereka kurang antusias karena imunisasi anak-anaknya sudah pada lengkap, hingga termasuk tambahan DPT saat 18 bulan dan Campak 9 bulan. Sayangnya, Alisha cuma baru sampai imunisasi campak 9 bulan, jadi semacam yang heboh sendiri di kelas.
Di buku KIA sendiri, imunisasi yang disarankan itu memang sampai tambahan campak 2 tahun.
Makanya, kali ini aku semangat sekali buat mengikutkan Alisha dalam imunisasi BIAN. Harapannya biar bisa lengkap juga imunisasinya.
Alasan kenapa kami telat waktu itu adalah terlalu panjang untuk diceritakan.
Tapi demi Sahabat Ran, kayaknya aku rela deh bercerita panjang kali lebar di sini. Jadi gini ceritanya.. Alkisah di sebuah perumahan, lahirlah bayi kecil yang cantik bernama Alisha. Di perumahan itu lah, Alisha mengawali posyandu dan semuanya. Sayangnya, di posyandu tersebut, tidak ada imunisasi. Jadi hanya semacam penimbangan berat badan, terkadang pengarahan dari ibu bidan, dan juga (tentunya) pembagian jajan untuk anak-anak.
Terus selama itu, Alisha pergi imunisasi di mana?
Alisha selama itu selalu imunisasi di dokter anak.
Bisa saja kami pergi ke bidan desa yang ada di desa bapaknya. Sayangnya, kami tidak punya kontak sama sekali atau kenalan bidan desa. Pernah sih ya pas masa-masa hamil ke bidan desa sebelah, tapi ya ampuuun, (maaf) bu bidannya cekat-ceket, periksanya bagai naik sinsaken, nggak didengerin permasalahannya. Ya memang sih, waktu itu tujuanku ke situ cuma demi mendapatkan buku pink KIA. Sebab selama kehamilan pertama dan kedua, saya selalu memeriksakan ke RSIA Permata Hati dan otomatis riwayat kesehatannya tidak dituliskan dalam buku KIA, karena tidak dibagikan juga buku KIA.
Walah sampe mana tadi ceritanya..
Setelah berhasil mendapatkan buku pink KIA, akhirnya aku pun mengucapkan sayonara pada bidan yang garang tersebut.
Bahkan sampai Alisha terlahir di dunia, akhirnya imunisasinya teteup di RSIA Permata Hati dengan dr Fahmi.
Tentunya periksa dan imunisasi di dokter anak, jauh lebih mahal berlipat-lipat daripada di bidan. Of course, dengan periksa di dokter anak, rasanya lebih mendapatkan pencerahan tentang tumbuh kembang anak. Kayaknya, hampir semua dokter anak itu ramah anak, sementara kalau bidan, sering nemu 50:50, antara ketemu sama yang perhatian atau ketemu sama yang garang seperti di desa sebelah. *Astagfirullah, dari tadi ghibah melulu.
Setelah mendapatkan imunisasi campak yang pas usia 9 bulan, lalu tiba-tiba saja, kami melupakan kalau ada imunisasi 18 bulan dan 2 tahun, hingga sekarang Alisha usianya 5 tahun. Huhu sediiih.
Imunisasi dalam rangka BIAN di bulan Agustus 2022 ada 2 target yaitu:
1. Imunisasi tambahan campak dan rubella untuk usia 9-59 bulan tanpa memandang status imunisasi sebelumnya.
2. Imunisasi Kejar usia 12-59 bulan untuk melengkapi imunisasinya (OPV, IPV, dan DPT/HB/HIB) yang belum lengkap.
Of course ya, tentunya kami eh saya berharap Alisha akan mendapatkan imunisasi Kejar. Ternyata jeng.. jeng..
Pagi itu setelah beberapa hari sebelumya saya menanyakan ke mamah-mamah yang lain tentang lokasi Posyandu biasanya, saya dan Alisha akhirnya untuk pertama kali menginjakkan kaki di Balai Desa demi imunisasi kali ini. Awalnya skeptis, karena tulisannya bukan kantor Kelurahan melainkan kantor BPD (Badan Permusyawarahan Desa), sebab sebetulnya kantor Balai Desa yang baru itu sudah dibangun dengan sangat cantik, tetapi entah mengapa, beliau-beliau tidak juga menempati kantor yang baru.
Selain skeptis karena bentuk bangunannya, ndilalah di depan gedungnya itu sepi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan para ibu-ibu dan balitanya yang hendak imunisasi.
Seorang pegawai kelurahan mempersilakan kami untuk masuk ke gedung bagian dalam, dan rupanya di situlah posyandu dilaksanakan.
Saya langsung diminta untuk menuliskan nama anak, nama orang tua, alamat dan juga tanda tangan begitu masuk ke gedung utama. Sementara itu, Alisha langsung digiring untuk diukur berat badan, tinggi badan kemudian diberikan Vitamin A.
Kebetulan kan bulan Agustus memang biasanya ada pemberian Vitamin A.
Di depan kami, ada anak balita yang masih digendong dan sudah selesai disuntik. Alisha yang melihat anak di bawah usianya menangis karena suntikan, mungkin membuat Alisha gengsi jika sampai menangis. 😊
Begitu Alisha diminta duduk di sebelah bidan, dia sendiri yang mengangkat lengan bajunya dan bersiap untuk disuntik.
Masya Allah, Alisha super sekali. Alisha sama sekali tidak takut imunisasi.
Mungkin, ini tips pribadi yang bisa dipraktekkan jika hendak mengajak anak imunisasi.
- Jangan berbohong kalau suntik itu sakit atau hanya seperti digigit semut. Waktu kemarin saya mengatakan pada Alisha kalau sakitnya itu sedikit dan sebentar.
- Berikan plaster favoritnya untuk menutupi bekas suntikannya. Padahal ini sebenarnya kan memang tidak ngefek ya, tapi Alisha kemarin jauh lebih tenang saat sudah diberikan plester.
- Janjikan hadiah jika dia tidak menangis. Kebetulan kemarin itu, di depan aula utama, ada penjual balon. Jadinya Alisha minta balon deh. Sebaiknya memang kalau sudah berjanji sama anak, jangan mengingkarinya ya.
- Berikan pemahaman bahwa imunisasi itu penting untuk kekebalan tubuhnya.
Alhamdulillah, rasanya kok jadi pengen mengejar ketertinggalan imunisasinya Alisha ya, mumpung usianya masih bisa mengejar. Toh semua ini demi kesehatan anak juga kan?
By the way, ada yang pengen mendengarkan celotehnya Alisha kali ini nggak? Gimana kesan dan pesannya terhadap imunisasi kali ini.

Masya Allah, Hebatnya Alisha. Alisha sama sekali tidak takut imunisasi. Sehat selalu ya Nak. Semoga makin banyak yang terkejar imunisasi denagn adanya program BIAN ini:)
BalasHapus