Pilih SD atau MI? Cek 4 Persiapan jika Mau Sekolah di Madrasah Ibtidaiyah!

Seringkali, orang tua merasa bimbang saat akan melanjutkan jenjang sekolah dasar. Apakah akan lanjut di SD (Sekolah Dasar) atau di MI (Madrasah Ibtidaiyah). Keduanya jelas memiliki keunggulan masing-masing. Begitu juga pasti ada ketidaksempurnaan, baik dari MI maupun SD.

❤❤❤ 

Assalamu alaikum Sahabat Ran ❤ 

Dua tahun sudah kami menyekolahkan Hadziq di MI. Jujur saja, sebagai seorang ibu lulusan sekolah negeri mulai dari SD hingga kuliah, menyekolahkan Hadziq di Madrasah menjadi sebuah tantangan baru.

Sebutan wali santri adalah sesuatu yang baru bagiku. Bahkan sebenarnya, daripada menjadi wali santri, tetapi aku lebih kepada ke arah yang menjadi santri yang baru belajar.

Bila saat sekolah dulu semuanya dirangkum dalam satu pelajaran yaitu PAI (Pelajaran Agama Islam), maka di MI para santri belajar secara spesifik dan mendalam, meliputi Fikih, Akidah Akhlak, Tauhid, Quran Hadits, Hafalan Juz Amma, BTA (Baca Tulis Al Quran), Pegon, Khot (Menulis halus Arab), dan Bahasa Arab. Ini belum kalau masuk di MI NU ada beberapa yang menambahkan pelajaran KeNU-an, sementara yang masuk di MI Muhamadiyah akan mendapatkan tambahan pelajaran Kemuhammadiyahan. Meskipun Hadziq ikutnya sekolah di MI NU tapi sampai saat ini belum mendapatkan pelajaran tentang keNU-an.

Persiapan masuk Madrasah Ibtidaiyah


Inilah yang menjadikan banyak orang tua yang berharap anak-anaknya belajar di MI agar mendapatkan pondasi agama yang mendasar. Bagaimanapun anak yang masih murni insya Allah akan terpatri seumur hidupnya jika awal kehidupannya dipupuk dengan pengetahuan agama. Insya Allah ya.

Rejeki juga sebetulnya bagi kami karena madrasah tempat Hadziq menuntut ilmu tidak mihil biaya syahriahnya (SPP). Ya setidaknya dibandingkan dengan sekolah + pondokan Tahfidz yang paling murah biaya syahriahnya 1,5 juta/bulan (belum ditambah biaya hidup selama di pondokan).

Meskipun dengan biaya syahriah yang murah meriah, tetapi prestasi sekolahnya juga tidak sembarangan lho. Faktanya, beberapa kakak kelasnya juga banyak yang mendapatkan prestasi baik di bidang akademik maupun non akademik. Semoga Hadziq dan Alisha juga akan mendapatkan prestasi saat harinya tiba.

Tapi aneh juga sih sebenarnya, jaman dahulu sebelum akhirnya memutuskan untuk menetap di Prambatan Kidul, sempat berpikir untuk menyekolahkan anak-anak di SD yang daerah Perempatan Jember. Cumaaaan kok anu.. Anu gimana ya, soalnya mbahkung kan merupakan sesepuh sekaligus Pengurus Yayasan Nurul Haq sehingga mau menyekolahkan cucunya di sekolah di luar yayasan kok juga gimana.. Wkwkk..

Memang sebagai wali santri jadi harus bekerja lebih keras karena jumlah pelajarannya lebih banyak daripada sekolah umum.

Bismillah ya, semoga Allah selalu memudahkan.

Persiapan Masuk MI

Oleh karena Hadziq sekolahnya di MI, maka kami tentu mempersiapkan beberapa hal yang sedikit berbeda. Inilah persiapan masuk MI.


Persiapan Masuk MI berlandaskan tes masuk MI

Bisa Membaca dan Berhitung Dasar

Kayaknya sih bukan cuma masuk MI doang yang ditest membaca dan berhitung dasar. Masuk SD Negeri juga dites membaca dan berhitung dasar.

Memang tidak wajib sih untuk bisa langsung membaca. Sebab nyatanya setiap anak berbeda daya tangkapnya. Tetapi anak-anak yang belum lancar membaca jadi lebih berat dalam menerima pelajaran di kelas.

Makanya tidak heran jika di RA/TK, anak-anak sudah belajar membaca. Walaupun tidak harus dan tidak wajib untuk langsung bisa, tetapi jika sudah belajar membaca maka akan lebih cepat belajar membaca saat sudah kelas 1.


Sudah masuk TPQ

Saat Hadziq memasuki kelas 1 memang tahun kemarin itu belum sepenuhnya masuk kelas full. Terkadang daring terkadang luring. Sehingga ibu guru meminta wali santri untuk memasukkan anak-anak ke TPQ atau memanggilkan guru ngaji ke rumah, sebab belajar membaca Al Quran di madrasah waktunya terbatas.

Maka, sebagai persiapan anak-anak masuk MI ada baiknya untuk memasukkan ke TPQ terlebih dahulu.

Bisa Membaca Hijaiyah (Yanbua Jilid 1)

Oleh karena memutuskan sekolah di MI, maka sudah bisa dipastikan setidaknya dalam 6 tahun ke depan akan selalu berhadapan dengan bacaan Al Quran dan Hadis yang mana kesemuanya menggunakan huruf hijaiyah.

Dasar inilah yang biasanya dijadikan tes membaca huruf hijaiyah saat akan memasuki MI.

Hapalan Surat-Surat Pendek

Surat-surat pendek juga setidaknya harus dikuasai anak jika ingin memasuki MI. Biasanya sih yang diteskan suratnya Al Falaq, An Naas, Al Ikhlas, Al Kausar dll. Tenang lah, belum sampai yang hapalan surat Al Bayyinah dan Al Adiyat.

Oh iya tambahan juga sih sebenarnya buat yang mau masuk MIN (Madrasah Ibtidaiyah Negeri), ada hapalan hadistnya juga. Ya kalau punya buku Hapalan Yanbua itu di situ ada semua kalau mau mempelajari. Hadziq sih pas tes masuk MI NU NH kemarin tidak pakai hapalan hadist meskipun dari RA (Raudhatul Atfal - setara TK) juga sudah diajarkan hadist-hadist. 

Beda madrasah juga pasti beda soal yang diteskan. Tapi kurang lebih sama ya, membaca - berhitung - membaca hijaiyah - hapalan surat.


Simpulan

Di manapun sekolah atau madrasah, sesuaikan dengan kondisi anaknya. Jangan sampai anak menjadi korban obsesi kedua orang tuanya. 

Ada temannya Alisha yang dari TPQ, karena faktor speech delay dan diterangkan oleh dokter juga psikologinya bahwa anaknya sebaiknya tidak masuk ke madrasah soalnya pelajarannya terlalu berat. Jadi ya sekarang temannya Alisha bersekolah di SD Negeri.

Baik sekolah di SD Negeri, ataupun di Madrasah sama-sama baik.

Orang tua harus bisa menerima dan mendampingi anak-anak dalam belajar. Seperti Mbak Dian Kusumawardani atau yang biasa dipanggil DK, pemilik Blog Homeschooling dengan tag namenya Home Education Centre, selalu rajin menyiapkan cemilan dan anak-anak saat sekolah offline. Meskipun kesibukannya yang berjibun, tetapi DK juga selalu siap mendampingi anak-anak saat harus mengajar mereka sendiri. Keren lah pokoknya.

Sekian dulu cerita hari ini, tadinya aku mau menceritakan antara SD dan MI, tapi karena anakku sekolahnya di MI jadi ya mohon maaf cuma bisa menceritakan gimana sih persiapan masuk MI.

Sampai jumpa lagi di cerita lainnya ya. Bye-bye..

21 komentar

  1. Hai Mbak Ran...semoga Hadziq dan Alisha lancar dan gembira dalam belajarnya yaaa. Dan nantinya lulus dengan membawa banyak ilmu dan kenangan bagus dr MI tempat sekolahnya sekarang.

    BalasHapus
  2. Sepakat, jangan sampai anak menjadi korban obsesi kedua orang tuanya. Mau sekolah di SD atau MI, masing-masing tentu punya sisi keunggulannya, yang penting anak enjoy dan menikmati proses belajarnya

    BalasHapus
  3. Kedua anakku bersekolah di TK, SD swasta, kemudian sekolah menengahnya masuk MTsN.4 Jakarta. Si sulung sudah kelas 12 di SMAN 49. Nah, sama halnya dengan mbak yang awalnya mungkin agak gimanaa gitu memasukkan anak ke madrasah. Memang lebih berat eh malah berat sekali mata pelajarannya kan ditambah dengan hafalan Al Qur'an, hadist, bahasa Arab dan masih banyak lagi. Insya Allah bisa menjadi tabungan dunia dan akhirat ya mbak, bismillaah.

    BalasHapus
  4. Sama mak, aku pun saat memilih sekolah untuk anakku lebih memilih sekolah dasar Islam karena ingin pondasi agamnya kuat dulu. Memilih sekolah memang balik lagi ke orang tua sih, ingin anaknya menjadi apa dan bagaimana bisa dari kecil sudah mulai direncanakan.

    BalasHapus
  5. Di kampungku, MI yang bagus tuh agak jauh. Jadi kalau mau repot, ya gak masalah karena kan antar jemput. Kalau di daerah Mbakku, anaknya akhirnya sekolah MI. PR ya karena kudu ikut belajar juga. Pelajarannya kan tambah banyak, gak kaya SD

    BalasHapus
  6. Bagiku dan suamiku masuk sekolah dasar Islam itu wajib. Hehe. Karena menjadi bekal untuk mengawali juga pendidikan agama. Dan bener satu sisi milih sekolah juga disesuaikan dengan kemampuan anak. Jangan karna faktor obsesi orangtua

    BalasHapus
  7. Kdg krn org tua merasa tahu yang terbaik buat anak, malah jadi bumerang ya. Jadi memang mesti menyesuaikan sama kemampuan anaknya juga.

    BalasHapus
  8. Untuk ortu yang menyekolahkan anak di MI memang luar biasa, ya... selain berkorban merelakan anak jauh dari rumah - juga berkorban biaya yang besar. Insya Allah barakah yaaa mbak Rani

    BalasHapus
  9. setuju banget, memilih sekolah tentu disesuaikan dengan kemampuan dan kenyamanan anak, jangan hanya dilakukan semata untuk obsesi orangtua saja

    BalasHapus
  10. Wah iya, pilih-pilih ekolah anak itu nggak bisa sembarangan ya mbak
    termasuk saat memilih SD, apakah SD negeri atau madrasah ibtidaiyah, semuanya tentu punya pertimbangan masing-masing

    BalasHapus
  11. Akupun anakku MI mba..lebih memilih yg ada ilmu agama nya lebih banyak walaupun yg pilih SD negri juga gak salah soreny bisa berangkat ngaji..

    Periapan masuk hampir sama pastinya baik SD ataupun.MI

    BalasHapus
  12. Selalu senang dengan kabar duo sholih sholiha dan kak Ran, ananda Hadziq dan Alisha.
    Memang persiapan kudu maksimal banget ya.. Karena anak-anak bisa aja fisik dan mentalnya merasa terlalu berat ketika sekolahnya memiliki banyak target. Dan hal tersebut selain bisa di tes secara terukur oleh lembaga psikolog, bisa juga pengamatan orangtua secara kontinyu setiap hari.

    BalasHapus
  13. Iya loh sekolah MI itu pelajaran agamanya banyak banget. Jujur Mbak, aku itu ragu menyekolahkan anak di MI gegara ijazahnya beda sama SD, sebagai mantan operator sekolah yang dulu sering banget diribetkan sama anak lulusan MI, akhirnya aku memilih SDIT. Pelajaran agamanya hampir sama sih dengan MI.

    BalasHapus
  14. Bener banget sih setiap ortu pasti punya pilihan sekolah terbaik buat anaknya. Hanya saja tergantung banyak faktor dalam keluarga itu sendiri. Melihat juga kesiapan anak. Saya akhirnya masukin anak sekolah ke SD Negeri dekat rumah.

    BalasHapus
  15. Iya ya sekolah zaman sekarang mihil2 bingung hehe. Tapi kalau ada sekolah bagus dengan biaya yang masuk akal why not yaa. Sekarang MI makin2 bagus2 dan kalah dengan SD konven maupun SD IT. Apalagi sudah lengkap dapat pelaran agamanya juga.

    BalasHapus
  16. Anak-anakku di SDIT, Mbak. Hampir sama dengan Madrasah kan ya?
    Tapi karena TK-nya di TKIT, jadi persiapannya gak begitu berat. Maksudnya sudah terbiasa ngaji, hafalan, dll. Cuma ini anak ketigaku yang mau masuk SDIT belum lancar baca tulis. Jadi ya perlu effort lebih :)

    BalasHapus
  17. Yang penting pendidikan agama buat masa depan lebih cerah. Dengan terlatih surat pendek maka akan terbiasa untuk menghapal Al-Qur'an.

    BalasHapus
  18. Iya, benar, harus sesuai dengan kemampuan anak (dan tentu saja kemampuan orangtua). Bukan hanya dana, malah lebih utama itu kemampuan belajarnya anak. Saya cuma berani masukin ke SD karena setidaknya saya bisa membantu proses belajarnya. Kalau ke MI, anak saya harus survive sendiri saat belajar, karena saya dan bapaknya tak ada kemampuan di situ.

    BalasHapus
  19. Dulu pengen banget masukin anak ke MI, tapinya di sini jauh2. Emaknya agak kesusahan kalo antar-jemput tiap hari. Jadinya masuk SD Negeri biasa aja. Soalnya banyak temennya. Biar kalo agak gedean dikit, bisa bareng temennya. Alhamdulillah lancar juga. Tapi memang, masuk sekolah dasar sekarang, anak-anak kudu bisa calistung dulu. Entah karena kurikulum yang menharuskan begitu, atau karena gurunya kesusahan ngajar dari awal banget. Hehehehe.

    BalasHapus
  20. Dulu pengen banget masukin anak ke MI, tapinya di sini jauh2. Emaknya agak kesusahan kalo antar-jemput tiap hari. Jadinya masuk SD Negeri biasa aja. Soalnya banyak temennya. Biar kalo agak gedean dikit, bisa bareng temennya. Alhamdulillah lancar juga. Tapi memang, masuk sekolah dasar sekarang, anak-anak kudu bisa calistung dulu. Entah karena kurikulum yang menharuskan begitu, atau karena gurunya kesusahan ngajar dari awal banget. Hehehehe.

    BalasHapus
  21. Aku duulu juga begitu mak, bingung mau mi sd atau sdit. tapi akhirnya ke sdit, insyaallah hapalan dll sama kayak mi. yang ku senang udah bisa khatam juz 30 juga kalau sdit. semangat mak insyaallah yang terbaik

    BalasHapus

Thank you for stopping by 🥰

Terima kasih untuk tidak berkomentar menggunakan URL ARTIKEL and please jangan tinggalkan link hidup ya, sayang 😘

Sharing is caring, tapi aku bakalan sedih banget kalau tulisanku di copy paste buat blogmu. So, klik tombol share aja ya
(゚▽^*)☆

Lalu.. Demi bisa berkomentarlah secara ksatria, silakan berkomentar menggunakan akun Google ya 😁😁😁