❤❤❤
Assalamu alaikum Sahabat Ran,
Bagiku, menulis sudah seperti panggilan jiwa. Dahulu sekali, saat noona belum mengenal blog, noona punya dokumen tersendiri untuk curhat, tetapi curhatnya bukan untuk konsumsi umum. Sekarang ini, menulis diyakini dapat menjaga kesehatan mental.
Tapi ya sekarang ini, kalau noona lagi merasa kesehatan mentalnya ngedrop, noona lebih memilih diam dan tidak menulis di sana sini dan menyebar aib. 😂 Makanya suka kegerahan sendiri sama orang yang suka menyebar aib sendiri ✌️
Memang, kepribadian noona itu kadang kalanya keluar minim empati. Bukan berarti tidak ada empatinya sama sekali ya, tapi tidak semua harus diempati kan ya. Apalagi jika sampai menjelek-jelekkan pasangan sendiri di muka umum. Noona nggak suka ya kalau diumbar kejelekannya bagai ditelanjangi di muka umum.
Bukannya ditutupin, malah diejek ke sana ke sini.
Perjalanan untuk mencapai titik ini juga tidak instan, sebenarnya! Tentu noona juga pernah jadi anak alay, orang labil, apa-apa ditulis di media sosial. Sumpah, noona tuh malu banget kalau inget masa-masa jahiliyah itu.
Padahal dulu, kayaknya noona punya file berupa diary di Microsoft word yang dipassword. Katanya, wanita kan memang setiap hari harus mengeluarkan 20.000 kata per hari. Sebetulnya, nggak pasti jadi patokan sih, karena noona pun tipikal orang yang males banget ngomong kecuali memang penting.
I think, basa-basi itu nggak perlu daripada omongannya menyakitin hati.
Terus noona pernah nggak curhat di blog? Oh tentu saja pernah! Bahkan sekarang pun masih curhat di blog. Nah ini kamu sedang baca curhatanku.
Curhatan yang sekarang ini bisa dikatakan lebih elegan. Tidak semua aib harus dibuka untuk umum, kan? Allah saja sedang menjaga dengan menutupi aib kita, lha kok terkadang kita sendiri yang membuka aib itu di media sosial. Naudzubillah mindzalik.
*dulu udah pernah gitu juga, jadinya sekarang menyesal setengah mati.
Inilah mengapa, komunitas itu penting. Komunitas mempertemukan orang-orang yang insya Allah akan dikerucutkan sesuai dengan kepribadian kita. Noona tuh pernah ditampar mama kepiting lewat obrolan kami soalnya, sebagai bahan renungan kita bahwa dalam obrolan pertemanan sebaiknya jangan membicarakan keburukan saudara kita, orang tua, bahkan termasuk ipar kita juga. Dari sekian banyak topic, pasti ada banyak hal yang bisa dibahas selain keburukan keluarga atau teman kita kan.
Seingatku, pernah ada materi “Curhat berfaedah untuk di blog.” Sayangnya noona lupa sama jawaban dari pertanyaan, “Bagaimana cara curhat di blog tanpa mengumbar aib?”
Besok ya kalau ketemu lagi sama jawabannya, noona sambung di sini, hehe.
Intinya mah ya, menulis ya menulis aja, tapi nggak perlu lah ya menulis sesuatu yang akan membuat kita menyesal suatu hari nanti.
Jika memang ingin menulis untuk menjaga kesehatan mental dan diterbitkan di blog, bisa lho pakai blog yang dipasword. Mbak Susi Ernawati soalnya pernah mengajarkan bahwa curhat aja di blog yang diprivasi. Sayangnya kayaknya Kak Rijo Tobing pernah kecolongan juga meskipun blognya dikunci.
Kalau noona boleh mengutip kata Mbak Ety Abdoel ya, menulis dengan cara curhat di blog itu boleh banget. Akan tetapiiii jangan cuma curhat doang tapi juga kasih solusi.
Semisal noona curhat masalah kulit yang mudah terkelupas di musim panas begini, solusinya ya memakai double mouisturizer dan memperbanyak minum air putih, misalnya. Bisa juga kayak Mbak Silvana, Blogger Malang yang curhat ponselnya yang mulai melambat dan akhirnya memberi solusi lewat review aplikasi Google Files.
Atau sebenarnya noona curhat karena masalah mertua, ya kasih solusi bagaimana caranya bisa akur sama mertua. Sebenarnya solusi kan selalu ada, hanya saja kita mau mencari atau tidak, atau cuma mau mengumbar aibnya tanpa ngasih solusi, itu urusan kita. Paling-paling dicatat Malaikat Atid.
Selain itu, ada lagi ini beberapa cara agar Sahabat Ran bisa memulai menulis untuk menjaga kesehatan mental.

10 Tips Memulai Menulis untuk Menjaga Kesehatan Mental
1. Buat Rutinitas Menulis
Tidak gampang tapi akan menjadi gampang jika sudah terbiasa yaitu menjadwalkan waktu setiap hari atau minimal seminggu sekali untuk menulis. Dalam rentang waktu ini, kita jadi bisa merenung, mencatat perasaan dan pikiran Anda, atau merangkai kata.2. Jangan Khawatir Akan Ejaan dan Tata Bahasa
Ada materi yang disampaikan Kak Risna beberapa tahun yang lalu tentang free styling saat menulis. Memang menulisnya ditujukan sebagai terapi ya, bukan untuk dipublikasikan, sehingga jangan mengkhawatirkan kesalahan ejaan atau tata bahasa. Tujuan utamanya kan untuk mengungkapkan diri dan meresapi perasaan Anda.3. Gunakan Jenis Tulisan yang Anda Nikmati
Menulis untuk terapi kesehatan jiwa tidak melulu harus berupa paragraf lho! Bisa juga kita menuliskannya dalam bentuk jurnal pribadi, puisi, cerita pendek, atau catatan reflektif. Tinggal menyesuaikan minat kita saja.4. Mengungkapkan Emosi
Sebelum memulai, cobalah untuk tidak menahan diri, karena sejatinya menulis kan memang untuk mengungkapkan emosi. Katakan dan ekspresikan perasaan dengan jujur. Cara ini dapat memantu melepaskan emosi yang terpendam.5. Mencatat Pengalaman Positif
Pengen tahu tidak mengapa di setiap buku jurnal tahunan yang sudah jadi selalu ada jurnal syukur? Tujuannya ya memang untuk mencatat pengalaman positif, pencapaian, atau momen kebahagiaan. Tulisan yang berisi aura positif dapat membantu Sahabat Ran lebih bersyukur dan menjaga suasana hati yang positif. Jadi memang ya menulis itu tidak harus berisikan emosi-emosi negatif.6. Menjadi Kesadaran Diri
Menulis dapat menjadi prasaran untuk membangun kesadaran diri yang mendalam. Caranya adalah dengan mencoba untuk memahami tujuan, nilai-nilai dan hasrat kita.7. Terlibat dalam Refleksi Positif
Noona yang sekarang memang sudah jauh berbeda dari noona yang waktu masih labih. Hal ini karena noona belajar dari pengalaman hidup dan ya terkadang dalam hidup ada waktunya juga untuk melakukan refleksi positif. Hal ini membuat kita melihat bahwa sebenarnya kita sudah tumbuh menjadi individu.8. Jujur pada Diri Sendiri
Tidak perlu khawatir dengan pendapat orang lain tentang apa yang kita pikirkan. Sebab, pasti masing-masing orang memandang sebuah masalah dari point of view masing-masing. Maka jujur pada diri sendiri adalah kunci.9. Eksplorasi Solusi
Oleh karena point of view masing-masing orang berbeda, maka saat kita sedang menghadapi masalah tertentu, kita bisa menggunakan menulis sebagai alat untuk merenungkan solusi atau alternatif. Ini dapat membantu kita melihat situasi dari berbagai sudut pandang.10. Bekerja dengan Profesional.
Apabila memang dirasa mengalami masalah kesehatan mental yang serius, coba deh pertimbangkan untuk berbicara dengan seorang terapis atau konselor. Sekarang ini sudah umum kok jika pergi ke psikiater atau psikolog. Mereka dapat membantu kita mengatasi masalah dengan lebih baik melalui teknik menulis yang terstruktur.Bahkan belakangan, ada lho konsultasi secara online.
Menulis bisa menjadi terapi untuk menjaga kesehatan mental. Tidak ada aturan kaku di dalamnya (jika memang tujuannya untuk terapi). Jika memang merasa nyaman dan mendapatkan banyak manfaat dari menulis, maka cobalah menulis untuk teratur. Tidak ada salahnya juga untuk mencoba berbagai jenis kegiatan menulis untuk menemukan yang paling sesuai dengan karaktermu.
Bahagimana dengan Sahabat Ran, sudahkah menulis untuk hari ini?
Besok kita cerita apa lagi ya?
Tulisan ini diikutsertakan dalam Nulis Asyik Bareng KEB.





Cara curhat di blog tanpa mengumbar aib: jangan diumbar.
BalasHapusMenulis itu harus bisa membedakan audiens. Ga semua orang harus tahu kalau kulit kakimu kapalan.
BalasHapusIya, saya juga nulis diblog gak sekadar curhat aja sih, tapi juga ngasih solusi buat yang mungkin pas kebeneran punya masalah yang sama dengan masalahku. Semoga saja ada bermanfaat untuk yang membaca juga manfaat buat saya juga karena tersalurkan keinginan untuk menceritakan apa yang jadi kegalauan
BalasHapusSampe Skr aku juga masih curhat di blog yg terkunci mba, yg ini khusus memang buat ngilangin stressku aja, biar ga ngendap di hati 😄. Krn udh terbiasa nulis diary sih yaaa, jadi pas udh gede gini ttp aja dicurhatin tapi ga pengen orang tahu.
BalasHapusKalo blog yg dcatqueen, itu aku buat Krn sadar aku pelupa. Mikirnya sayang aja udh traveling kesana sini, cobain banyak kuliner, tapi kalo lupa dan foto banyak ilang, kan mending didokumentasiin di blog 🤭.
Eh nulisnya jadi kecanduan Ampe Skr. Toh menulis ttg traveling atau kuliner sama2 bisa ngilangin jenuh dan stress juga.