Si Kecil Berbaju Adat Pas Kartinian, Yay atau Nay?

Hari Kartini kok memakai baju adat? Selain perayaan 17an, memang hari Kartini biasanya identik dengan memakai baju adat Nusantara. Kalau kamu, yay or nay?

❤❤❤
https://www.ranirtyas.com/2026/04/si-kecil-berbaju-adat-pas-kartinian-yay-or-nay.html



Assalamu Alaikum Sahabat Ran 💋

Setiap tanggal 21 April, pemandangan jalanan di pagi hari mendadak berubah jadi festival budaya berjalan. Kamu pasti sering lihat kan, anak-anak TK atau SD yang biasanya lari-larian pakai seragam putih-merah, tiba-tiba bertransformasi jadi "miniatur" pahlawan Nusantara. Ada yang pakai kebaya encim lengkap dengan kainnya, ada yang memesona dengan baju lurik Jawanya, ada yang gagah pakai baju adat Dayak, sampai ada yang mungil-mungil pakai baju bodo dari Sulawesi.

Biasanya, puncaknya adalah acara kirab atau pawai keliling lingkungan sekolah. Lucu sih memang melihat mereka berbaris rapi sambil melambai-lambai ke arah kamera HP orang tuanya yang sudah siap siaga di pinggir jalan. Tapi, di balik keimutan itu, tersimpan sebuah drama kolosal yang dimulai bahkan sebelum matahari terbit.

Ribetnya Salon vs. Sentuhan Sayang di Rumah


Nah, poin ini sering jadi perdebatan di grup WhatsApp wali murid. Ada kecenderungan "persaingan terselubung" di mana anak harus tampil paling stand out. Akhirnya, banyak orang tua yang merasa wajib membawa anaknya ke salon sejak jam 4 subuh. Kebayang nggak sih, anak sekecil itu sudah harus duduk diam berjam-jam, rambutnya disasak tinggi sampai terasa berat, dan wajahnya dipulas makeup tebal yang terkadang bikin mereka malah terlihat jauh lebih tua dari usianya?

Padahal, saran dari banyak pihak (dan jujur saja, dari lubuk hati kita yang paling dalam) adalah jangan sampai perayaan ini memberatkan orang tua. Apalagi kalau sampai harus keluar biaya ratusan ribu hanya untuk sewa baju dan jasa MUA pro. Bukankah esensi Kartini bukan soal siapa yang paling "glamor"?

Makanya, tren sekarang justru lebih ke arah "dandan sendiri di rumah". Kenapa? Karena sentuhan tangan ibu atau ayah itu beda rasanya. Mungkin hasil lipatan kainnya nggak serapi orang salon, atau kuncir rambutnya sedikit miring, tapi di situlah letak memori indahnya. Lagipula, membiarkan anak berdandan simpel justru tidak menghilangkan kepolosan mereka. Kita ingin melihat mereka sebagai anak-anak yang sedang merayakan budaya, bukan orang dewasa versi mini yang kehilangan ekspresi karena takut bedaknya luntur atau konde-nya copot.

make up polos natural anak, make up flawless


Apa Sih Hubungannya Baju Adat sama Hari Kartini?


Mungkin ada yang nyeletuk, "Kartini kan pejuang emansipasi, kenapa malah disuruh dandan?". Pertanyaan kritis ini sebenarnya menarik. Hubungan antara perayaan baju adat dan Hari Kartini itu simbolis. Raden Ajeng Kartini dalam tulisan-tulisannya sangat mencintai budayanya sendiri, meski pemikirannya sudah melompat jauh ke depan melampaui zamannya.

Mengenakan baju adat adalah cara kita mengenang identitas bangsa yang diperjuangkan Kartini agar tetap dihargai. Dengan memakai baju dari berbagai daerah, kita sebenarnya sedang merayakan Bhinneka Tunggal Ika yang dulu juga menjadi nafas perjuangan para pahlawan. Jadi, baju adat itu semacam "seragam kebanggaan" untuk mengingatkan anak-anak bahwa mereka punya akar yang sangat kuat dan beragam.

Yay or Nay? Mari Kita Cek Sama-Sama!


Kalau ditanya pilih mana, jawabannya nggak bisa hitam-putih. Semua ada seninya.

Alasan Mengapa Kita Bilang "Yay!"


Pertama, soal literasi budaya. Anak-anak itu belajar paling cepat lewat visual. Dengan memakai baju adat, mereka jadi tahu, "Oh, ini baju dari daerah asalku," atau "Oh, ternyata baju teman aku unik banget ya, ada bulu-bulunya." Ini adalah cara paling asyik buat mengenalkan keberagaman tanpa harus ceramah panjang lebar di kelas.

Kedua, adalah soal membangun kepercayaan diri. Kirab itu semacam panggung kecil buat mereka. Belajar jalan tegak, belajar tersenyum pada orang lain, dan merasa "spesial" dalam sehari itu penting buat perkembangan mental mereka. Mereka jadi merasa dihargai identitasnya.

Alasan Mengapa Kita Bilang "Nay...":


Sisi negatifnya muncul kalau sudah masuk ranah kompetisi yang nggak sehat. Kalau sekolah atau lingkungan menuntut semuanya harus sempurna, biaya sewanya mahal, dan persiapannya bikin orang tua stres, maka nilai edukasinya jadi hilang. Yang ada malah orang tua yang sibuk "adu gengsi" lewat kostum anak.

Selain itu, sisi "Nay" lainnya adalah kenyamanan anak. Seringkali baju adat itu bahannya panas atau terlalu banyak peniti. Kalau anak merasa tersiksa, mereka malah jadi benci sama momen Kartinian. Harusnya kan momen ini jadi sesuatu yang mereka tunggu-tunggu, bukan sesuatu yang bikin mereka nangis karena kepalanya pusing dijepit konde besi.

Belajar dari "Indung Bageur"


Bicara soal urusan dandan anak dan keseruan jadi orang tua yang santai tapi tetap meaningful, aku jadi teringat sebuah akun yang sering memberikan inspirasi. Coba deh intip akun instagram indungbageur. Di sana sering dibahas bagaimana peran ibu (indung) yang penuh kasih sayang (bageur) dalam mendidik anak tanpa tekanan.

Istilah dari tehokti di salah satu postingannya bahwa mendidik anak dengan cara yang hangat itu lebih membekas daripada sekadar formalitas. Kalau kita dandanin anak sendiri di rumah dengan penuh tawa, meski hasilnya sederhana, itulah bukti nyata bahwa kita sedang membangun kemerdekaan berpikir anak, persis seperti yang Kartini cita-citakan.

Simpulan - Kembali ke Esensi


Jadi, apakah perayaan baju adat ini harus terus ada? Jawabannya: Yay, tapi dengan syarat.

Mari kita kembalikan perayaan ini ke jalurnya. Jadikan Hari Kartini sebagai momen kegembiraan, bukan beban finansial atau ajang pamer kemewahan salon. Biarkan anak-anak kirab dengan baju adat yang nyaman, hasil dandan tangan orang tuanya sendiri yang penuh cinta. Biarkan kepolosan mereka tetap terpancar di balik bedak tipis dan senyum lebar mereka.

Kartini berjuang agar kita punya pilihan dan kecerdasan. Maka, jadilah orang tua yang cerdas dalam merayakan harinya. Nggak perlu paling mahal, yang penting paling bermakna. Setuju?

Selamat merayakan Hari Kartini untuk semua perempuan hebat dan anak-anak kebanggaan bangsa! Mari kita teruskan semangat beliau dengan cara yang paling tulus dan hangat.

Tidak ada komentar

Thank you for stopping by 🥰

Terima kasih untuk tidak berkomentar menggunakan URL ARTIKEL and please jangan tinggalkan link hidup ya, sayang 😘

Sharing is caring, tapi aku bakalan sedih banget kalau tulisanku di copy paste buat blogmu. So, klik tombol share aja ya
(゚▽^*)☆

Lalu.. Demi bisa berkomentarlah secara ksatria, silakan berkomentar menggunakan akun Google ya 😁😁😁