Seni Malas Menanggapi Obrolan Julid Tetangga

Halo Sahabat Ran! Assalamu Alaikum ❤ 

        Sini yuk, kita merapat dulu. Ambil teh anget sama camilan favoritmu, karena kali ini aku mau ajak kamu obrolin satu kejadian renyah pas hari H masak-masak besar kemarin dalam rangka mengirim haulnya alm ibu mertua. 

        Namanya juga acara kumpul-kumpul kampung, pasti panggung utamanya ada di dapur umum alias tempat rewang. Nah, di tengah riuhnya kepulan asap dan aroma bumbu, mendadak aku dapat "pencerahan" psikologis yang sarat makna dari obrolan antar-tetangga. *cieeh.. Hubungannya erat banget sama realita sosial kita sehari-hari!

seni-malas-menanggapi-obrolan-julid.


        Ceritanya gini, pas momen masak-masak itu, diundanglah tiga orang emak yang memang ahlinya dalam urusan dapur umum. Semuanya tuh tetangga, ada yang satu gang, dan ada yang wajahnya sudah familiar karena pernah ketemu pas agenda rewang 17an di rumah Pak RT. Nah, salah satu dari mereka—sebut saja Mbak S (karena saking asyiknya kerja sampai lupa nanya nama aslinya, hehe)—mulai membuka obrolan. Dia cerita kalau anak terbesarnya itu seumuran dengan keponakanku yang tahun ini masuk bangku kuliah. Tapi bedanya, Mbak S ini bilang kalau anak gadisnya sama sekali nggak mau kuliah, padahal kalau mau, bisa dicarikan atau dibuatkan KIP.

        Mendengar itu, aku ngebatin dong, "Aduh, sayang banget ya nggak mau kuliah. Padahal kalau mau, kan jaman sekarang bisa dicarikan beasiswa atau bansos kayak KIP atau sejenisnya." Tapi ya namanya menjaga perasaan orang, respons yang keluar dari mulutku cuma senyuman prihatin yang tulus tanpa mau menghakimi. 

        Tidak berselang lama, iparku yang bernama Mbak Ida yang baru saja datang juga diceritain hal yang sama, dan tebak reaksinya? Sama persis! Cuma senyum ramah penuh empati. Khas banget pembawaan emak-emak yang punya tata krama tinggi, nggak mau kepo atau menggurui nasib anak orang. *uhuuk..


Ganti Topik, Ganti Asumsi

        Drama yang menggelitik justru dimulai beberapa jam kemudian, Bestie. Entah karena kehabisan bahan obrolan atau memang rasa penasaran yang tak tertahankan, Mbak S gantian nanya soal pekerjaanku. Dengan santai aku jawab kalau pekerjaanku itu berkaitan dengan dunia gas. Nah, entah gimana logikanya berputar di kepala Mbak S, dia langsung menembak dengan kalimat, "Oh, jadi operator ya?"

        Waduh, kalau kejadian ini menimpaku 10 tahun yang lalu, ceritanya pasti bakal beda total! Mungkin jiwa mudaku yang berapi-api bakal langsung tersulut. Aku pasti bakal marah-marah nggak jelas, ngomong panjang lebar, ngeluarin CV, dan mati-matian menjelaskan struktur organisasi perusahaan demi membela diri. Tapi untungnya, sekarang aku sudah berada di fase "maklum dan malas menanggapi". Nggak ada gunanya juga repot-repot meluruskan asumsi sepihak. Alhasil, respons terbaikku cuma senyum tipis, diiyakan saja dalam hati, lalu langsung move on balik fokus ke penataan isi dalam nasi kotak. Nggak pakai baper, nggak pakai berlarut-larut!


Sorotan Penting dari Dapur Rewang:


Faktor Usia dan Kedewasaan Mental 

        Bertambahnya usia dan pengalaman hidup membuat kita sadar bahwa tidak semua omongan orang harus direspons. Menahan diri untuk tidak meledak-ledak juga merupakan tanda kematangan emosi.


Mekanisme Pertahanan Ego

        Ketika seseorang merasa posisi sosial keluarganya rentan (misal, anak tidak kuliah), ada dorongan bawah sadar untuk "merendahkan" orang lain agar posisinya kembali terasa setara.


(Maaf) Priyayi Asli vs. Priyayi Imitasi 

        Kelas sosial seseorang tidak ditentukan oleh seberapa keras mereka berusaha terlihat tinggi, melainkan dari cara mereka menghormati dan menjaga lisan di depan sesama. Ini aku melihat dari cara pandang Mbak Ida saat berbicara dengan orang lain.


Membedah Topeng Sosial di Sekitar Kita

        Dari kejadian singkat ini, aku langsung bisa menarik kesimpulan yang tajam dan dalem banget. 😎 Sikap Mbak S seolah menyuarakan isi hatinya yang berbunyi, "Aku boleh saja cuma jadi tukang masak di sini, tapi jangan sampai keluargaku atau anakku dianggap rendah oleh kalian." Sayangnya, demi melindungi ego tersebut, dia justru merasa boleh-boleh saja merendahkan atau mengecilkan profesi orang lain dengan asumsi yang asal tebak.

        Di sinilah faktor usia dan pengalaman tadi memainkan perannya, Bestie. Pengalaman hidup mengajari kita untuk bisa membedakan dengan cepat mana orang yang benar-benar "priyayi" (berkelas secara mental dan sikap) dan mana orang yang sekadar "pengen dianggap priyayi" tapi kapasitas mentalnya belum mampu. Orang yang punya mental priyayi asli biasanya berjiwa tenang, low profile, dan sangat berhati-hati jangan sampai ucapannya melukai hati orang lain. Sebaliknya, yang imitasi akan cenderung defensif dan hobi melemparkan asumsi meremehkan demi menaikkan status dirinya sendiri.


Secangkir Teh Kehidupan untuk Kita Renungkan

        Pada akhirnya, Bestie, kedewasaan itu bukan soal berapa banyak teori yang kita hafal, tapi seberapa tenang kita menghadapi ujian ego di laboratorium sosial bernama "lingkungan tetangga". Kisah dapur rewang ini membuktikan kalau bertambahnya usia itu berbanding lurus dengan ketebalan filter kesabaran kita. 

        Kalau ada orang yang salah menilai atau meremehkan kita, tirulah sikap santai tadi, yaitu dengan cukup tersenyum, biarkan mereka dengan asumsinya, lalu melangkah maju tanpa menengok ke belakang. 

Sebab, berlian akan tetap berkilau meski diletakkan di sudut dapur yang gelap sekalipun, tanpa perlu lelah berteriak meyakinkan seisi ruangan tentang kilau aslinya. 

Setuju kan, Bestie?

1 komentar

  1. benerrr banget, setuju !!!!

    berlian mau ditaruh dimanapun, kilaunya gak akan bisa hilang.

    prosesi jadi "prewangan" memang kadang menyenangkan, bisa juga menyakitkan. Menyenangkan ketika bisa kumpul kumpul sama yang lain, menyakitkan ketika jadi korban julid.

    BalasHapus

Thank you for stopping by 🥰

Terima kasih untuk tidak berkomentar menggunakan URL ARTIKEL and please jangan tinggalkan link hidup ya, sayang 😘

Sharing is caring, tapi aku bakalan sedih banget kalau tulisanku di copy paste buat blogmu. So, klik tombol share aja ya
(゚▽^*)☆

Lalu.. Demi bisa berkomentarlah secara ksatria, silakan berkomentar menggunakan akun Google ya 😁😁😁