Anak Diejek Teman Sekolah? Lakukan Ini Sebelum Emosi!

Bismillahirrrahmanirrahim, Assalamualaikum Sahabat Ran ❤

    Menghadapi tingkah anak-anak di sekolah memang sering kali menguji kesabaran kita sebagai orang tua. Apalagi kalau situasinya datang di waktu yang kurang tepat, misalnya saat hawa tubuh sedang tidak bersahabat karena jelang PMS. Rasanya ada api kecil yang siap meletup kapan saja. Situasi inilah yang kemarin baru saja aku alami saat mendengar cerita dari anakku, Hadziq.

    Semalam, Hadziq cerita kalau di kelas dia mendadak punya julukan baru dari teman-temannya, yaitu Ciko. Usut punya usut, Ciko itu adalah nama seekor anjing di sebelah rumah temannya yang bernama Ilham (sengaja nggak disensor namanya) 😂. Mendengar anak sendiri disamakan dengan anjing, emosiku jelas langsung tersulut. Ibu mana yang tega melihat anaknya dipanggil dengan sebutan seperti itu.

anak-diejek-teman-sekolah-lakukan-ini


    Demi mencari kejelasan, aku mencoba mengulik informasi dari orang tua murid lain yang anaknya sekelas dengan Hadziq. Lewat pesan pribadi, karena mereka juga takut anaknya kena imbas kalau ketahuan membocorkan cerita, terungkaplah versi lain. Katanya, Hadziq dipanggil Ciko karena di kelas sering melet-melet menyerupai anjing.

    Aku tentu tidak mau langsung menelan mentah-mentah cerita dari satu sisi. Bayanganku awal mulanya mungkin Hadziq memang berniat mengejek temannya dengan menjulurkan lidah. Namun, setelah aku konfirmasi langsung ke Hadziq, ternyata dia sama sekali tidak berniat mengejek siapa pun. Kebiasaan yang dimaksud teman-temannya ternyata adalah kebiasaan Hadziq yang sering membasahi bibirnya sendiri menggunakan lidah. Sebuah kebiasaan wajar yang ternyata dipelintir oleh teman-temannya menjadi bahan ejekan.

    Jujur saja, jiwa nakal dan rasa superior sewaktu aku sekolah dulu mendadak memberontak. Ada dorongan emosi yang sangat kuat untuk langsung melabrak si Ilham ke sekolah. Dalam bayanganku yang penuh kekesalan, aku ingin menghampirinya, menyodorkan kopi botolan, lalu berbisik bahwa hari ini dia aku kasih kopi biasa, tapi kalau besok masih mengganggu Hadziq, akan aku beri isi yang berbeda.

    Tentu saja pikiran ekstrem itu cuma bergema di dalam hati. Aku sangat sadar, mengkonfrontasi anak nakal dengan cara mengancam seperti itu tidak akan pernah mempan. Malah yang ada, posisi Hadziq di sekolah bisa makin tersudut dan rentan jadi sasaran rundungan yang lebih parah.

    Pada akhirnya, langkah paling bijak yang bisa aku lakukan adalah menenangkan hati Hadziq terlebih dahulu. Aku paham betul karakter anakku ini. Dia memang ada bakat menjadi sedikit dramatis, salah satunya karena kurangnya jam terbang bermain intensif dengan teman sebayanya. Akibatnya, diejek sedikit saja dia langsung menangis dan merasa tersakiti, padahal di sisi lain dia juga kadang suka mengejek temannya.

    Melihat fenomena ini, aku merenungkan banyak hal tentang bagaimana sebaiknya kita merespons konflik antar anak di sekolah. Dari pengalaman ini, ada beberapa langkah strategis yang bisa kita terapkan saat menghadapi anak yang menjadi korban ejekan di sekolah.

    Langkah pertama adalah mendengarkan dengan kepala dingin dan mencari tahu fakta dari berbagai sudut pandang. Wajar jika emosi kita langsung naik saat mendengar anak diganggu. Namun, mengambil tindakan saat emosi sedang memuncak biasanya hanya akan memperkeruh suasana. Dengarkan cerita anak dengan tenang, validation perasaannya, lalu kumpulkan fakta netral tanpa harus langsung menyalahkan pihak manapun.

    Langkah kedua adalah mengenali karakteristik anak kita sendiri secara jujur. Kita perlu paham apakah anak kita tipe yang mudah terbawa perasaan, terlalu sensitif, atau justru punya kebiasaan tertentu yang memicu respons dari temannya. Mengenali kelemahan anak bukan berarti kita memvalidasi tindakan perundungan, melainkan membantu kita memberikan arahan yang tepat sesuai dengan karakternya.

    Langkah ketiga adalah memberikan edukasi dan respons taktis kepada anak. Kepada Hadziq, aku memberikan saran sederhana namun tegas. Aku minta dia untuk fokus pada dirinya sendiri di kelas, misalnya dengan membaca buku atau menggarap soal, daripada terlalu banyak memperhatikan anak-anak yang suka mencari perhatian. Anak-anak yang suka mengejek biasanya akan cepat merasa bosan jika sasaran ejekannya tidak memberikan reaksi dramatis atau cenderung cuek.

    Langkah keempat adalah melatih ketahanan mental dan kemandirian anak dalam menyelesaikan konflik sosialnya. Kita tidak bisa selamanya menjadi benteng yang berdiri di depan anak untuk menghalau setiap ejekan. Anak perlu belajar bahwa reaksi terbaik terhadap ejekan yang tidak berdasar adalah mengabaikannya. Analoginya sederhana, seperti rombongan yang tetap berjalan santai meski ada suara-suara bising di sekitarnya, lambat laun suara bising itu akan berhenti dengan sendirinya karena kehabisan energi.

anak-diejek-teman-sekolah-lakukan-ini


    Menghadapi situasi seperti ini memang membutuhkan kesabaran tingkat tinggi dari kita sebagai orang tua. Seorang temanku bahkan sempat memberikan tanggapannya yang sangat pas mengenai hal ini. Menurutnya, sesungguhnya salah satu hal yang paling sulit bagi orang tua adalah menahan diri untuk tidak ikut campur dalam urusan anak.


anak-diejek-teman-sekolah-lakukan-ini


    Pernyataan itu terasa sangat relevan dengan apa yang aku rasakan. Ada dorongan alami dari dalam diri kita untuk selalu menjadi pahlawan yang menyelesaikan semua masalah anak secara instan. Kita ingin pasang badan, melabrak siapa pun yang menyakiti anak kita, dan memastikan jalan mereka selalu mulus tanpa hambatan.

    Namun, menahan diri bukan berarti kita tidak peduli atau membiarkan anak berjuang sendirian tanpa arah. Menahan diri di sini berarti memberi ruang bagi anak untuk tumbuh, belajar mengelola emosinya, dan menemukan cara beradaptasi dengan lingkungan sosialnya yang beragam. Tugas kita adalah menjadi tempat berlabuh yang aman, memberikan bimbingan dari belakang, serta membekali mereka dengan sudut pandang yang sehat.

    Anak-anak yang suka mengganggu di sekolah sering kali hanya mencari perhatian yang mungkin kurang mereka dapatkan di tempat lain. Ketika anak kita merespons ejekan tersebut dengan sikap tenang dan tidak terpengaruh, para pengganggu itu akan kehilangan panggungnya. Mereka akan sadar bahwa ulah mereka tidak membawa hasil apa pun selain membuang-buang energi.

    Bagi kamu yang mungkin sedang menghadapi situasi serupa, percayalah bahwa proses ini adalah bagian dari pendewasaan, baik untuk anak maupun untuk kita sebagai orang tua. Mengontrol emosi diri sendiri saat melihat anak disenggol memang tidak pernah mudah, tetapi itulah investasi terbaik yang bisa kita berikan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, tidak mudah goyah oleh cemoohan, dan fokus pada hal-hal yang benar-benar penting untuk masa depannya.

6 komentar

  1. Wahh nek disamain ama hewan peliharaan yo pasti emosi membara sih ya mbaa.. Anakku pernah diejek juga sama temen sekelasnya. Dia cerita ke aku kelihatan kesal tapi masih kelihatan chill sih. Aku bilang lapor gurunya, atau tak lapor langsung ke orang tuanya. Haha *ya sama lah yaa emosyong saiiaa.. Terus anakku cuma jawab, "Just ignore them". Yaelaahh bae bener dalam hatiku..

    Akhirnya pas raport-an aku yang lapor ke gurunya, tolong anak2 diedukasi lagi mulutnya jangan sampai dipakai buat ngata2in temannya dengan panggilan tidak menyenangkan. Alhamdulillahnya bener ditindak lanjuti ama gurunya. Anakku ditanya-tanyain siapa yang ngece terus kayaknya dikasitau deh ke anaknya langsung/ortunya, habis itu kata anakku dia nggak pernah diejek lagi. Huhu~ kadang supaya anak jadi berani harus ortunya yang ngasi contoh duluan 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya awalannya Hadziq minta buat nyamperin si bocah itu, tapi halah.. masalahnya modelannya si Ilham begitu, maminya begitu (kelakuannya sama persis). Jadi marah-marah pun percuma, yang ada mereka bakal seneng kalo kita marah. Aku bakal maju kayaknya kalau lihat karakter orangnya terlebih dahulu., tergolongnya bisa tertolong atau malah kita yang makan ati sendiri

      Hapus
  2. Iya betul. Rasanya respon alami orangtua kalau dengar anaknya diperlakukan ngga baik pasti marah dan ingin membela anaknya. Tapi anak pun juga harus belajar menghadapi situasi ini, tentu dengan kita beri nasihat dan dengan hati tenang

    BalasHapus
  3. Dulu, waktu kecil saya pernah dipanggil astroboy. Untungnya saya punya kemampuan untuk membela diri saya sendiri. Saya orang yang paling galak, klau ada orang yang mengolok-ngolok saya akan membalasnya lebih keras.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak-anak ya, eh bukan cuma anak-anak sih, orang dewasa pun suka mencari kelemahan orang lain untuk menjatuhkan lawan bicara. Biar apa sih gitu ya? KZL kalo ketemu orang-orang modelan yang suka menjatuhkan orang lain.

      Hapus

Thank you for stopping by 🥰

Terima kasih untuk tidak berkomentar menggunakan URL ARTIKEL and please jangan tinggalkan link hidup ya, sayang 😘

Sharing is caring, tapi aku bakalan sedih banget kalau tulisanku di copy paste buat blogmu. So, klik tombol share aja ya
(゚▽^*)☆

Lalu.. Demi bisa berkomentarlah secara ksatria, silakan berkomentar menggunakan akun Google ya 😁😁😁