Kepala.. Pundak.. Lutut Kaki.. Lutut kaki..
Kepala.. Pundak.. Lutut Kaki.. Lutut kaki..
Daun telinga, mata hidung dan pipi..
Kepala.. Pundak Lutut Kaki..
Han dengan piawai menunjuk bagian tubuh sesuai dengan lagu yang saya nyanyikan tersebut. Meski hanya lagu tersebut yang sering dia ikuti gerakannya. Atau salah lagu favoritnya, kodok ngorek.. kodok ngorek.. ngorek pinggir kali.. teot teblung.. teot teblung.. teot.. teot.. teblung.
Usianya kini 2 tahun lebih 2 bulan, tetapi Han cuma sering mengucapkan dua kata saja yaitu "Emoh" yang artinya tidak mau atau "Ojo" yang berarti jangan.
Padahal di usianya yang sekarang dan sepantaran dia kebanyakan sudah bisa merangkai dua kata bahkan penguasaan kata seharusnya sudah mencapai 50 kata. Menurut milestone sih seharusnya begitu, Hmm.. Bagaimana mau berbicara lancar jika orang tuanya saja jarang berbicara. Salah saya sendiri sih, kenapa jadi orang pendiam banget, tetapi jika ketemu dengan pasalnya tidak ada yang bisa menghentikan saya berbicara. Hahaha.
Sebab lain mungkin dikarenakan kami di rumah terbiasa menggunakan dua bahasa yaitu Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Selang-seling begitu di dalam rumah. Mengubah menjadi full Bahasa Jawa? Bagaimana caranya jika di lingkungan rumah saya juga berbicara dengan dua bahasa sedangkan di lingkungan keluarga suami justru berbahasa full Bahasa Jawa.
Bingung? Pastinya.