Negara maju adalah negara yang memiliki minimal 2% jumlah pengusaha dari total keseluruhan rakyatnya. Sebuah situs mengatakan Indonesia baru mencapai 1,9% jumlah pengusaha. Ini artinya masyarakat masih banyak yang menggemari pekerjaan sebagai pekerja baik itu pegawai negeri ataupun karyawan swasta (termasuk saya).
Sejak tahun 2011 dalam rangka mempersiapkan Indonesia menuju daya saing global, pemerintah sebetulnya sudah mencangankan Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) tetapi diperkuat kembali dengan Gerakan Sejuta Wirausaha di akhir Januari 2015.
Sehingga pada akhirnya banyak yang berlomba-lomba untuk membuka usaha baru, sebagian memulai dari toko offline, sebagian memulai dengan usaha online. Berkembangnya dunia teknologi dan semakin murahnya biaya internet memungkinkan orang untuk mengembangkan usahanya juga, semakin kreatif seseorang semakin laris jualannya.
Tetapi sayangnya, bagi sebagian orang yang menginginkan laba secara instan sering tidak menyeimbangkan antara pola hidup dan penghasilan dari hasil jualan. Pengeluaran untuk belanja lebih besar daripada penghasilan yang didapat, semisal laba bersih toko sebulan Rp 300 ribu sedangkan cicilan motor lanang Rp 650 ribu. Bahkan pola makan sehari-hari juga sering menyedot uang modal yang labanya baru didapat Rp 5.000 misalnya. Daging dan ikan-ikanan memang perlu dan menyehatkan (bagi sebagian orang), tetapi apa salahnya jika keinginan untuk memenuhi nafsu makan sementara ditahan dulu untuk beberapa hari. Tidak akan mati juga kan jika sehari tidak makan ikan?
Membuka usaha baru berarti harus siap prihatin terlebih dahulu karena modal tidak mungkin kembali 100% dalam waktu sebulan. Jangankan untuk makan, untuk jajan anak saja mungkin tidak cukup.
Usaha akan terlihat hasilnya jika ditekuni terus-menerus secara telaten dan tekun, tetapi jangan pernah mengharap hasil instan apalagi jika gaya hidup berlebihan.
Laba yang akan terlihat beberapa waktu kemudian (entah baru akan terlihat setelah 3 tahun atau 5 tahun) juga sebisa mungkin untuk tidak diberikan dalam bentuk hutangan kepada konsumen lain. Alih-alih mendapatkan tabungan dari hutangan konsumen kita, yang ada ketika modal mulai menipis kembali kita malah menarik uang tabungan pendidikan anak kita sendiri. Meminjami orang lain tetapi jaminan pendidikan anak terbengkalai? Yakin hidup ingin seperti itu?
Bila sudah terlanjur modal tersimpan di tempat lain, usahakan untuk terus menagih. Bukan apa-apa, hutang is hutang dan akan memberatkan kuburannya nanti. Sebagai sesama muslim seharusnya kita membantu melapangkan masa depannya menuju kehidupan yang abadi, sayang jika sampai terjegal karena hutang, semoga kita semua terlepas dari jeratan hutang. Aamiin.
Sayang sekali niat baik untuk menjadi pengusaha harus terjegal dengan masalah yang sama, hutang.
Mudah saja di masa yang sekarang ini meminjam modal jika dirasa perlu, tetapi jika uang kita di tempat lain belum ditagih lalu akan dihutang lagi? Masya Allah.. Darahku seperti sedang disedot lintah.
Menjadi wirausaha yang sukses adalah impian bagi semua orang, tidak terkecuali saya, meski saat ini saya menikmati hidup saya sebagai karyawan yang hanya galau jika ketahuan menyimpan uang karena akan dipinjam suami untuk modal toko material punya mertua. Saya ingin memulai kembali karena saya menemukan sesuatu yang menarik saat saya posting foto-foto baju bayi, yang lakunya juga susah. Belum laku banyak tetapi modal sudah dipinjam kesana kemari membawa alamat. Setidaknya saya ingin mencatat hal-hal berikut jika ingin menjadi pengusaha mandiri.
Peka Terhadap Tren
Dua tahun yang lalu, saat film India lagi ngehits muncul tren baju model Jodha. Tapi saya menyebutkan rok gorden, karena bahannya mirip sekali dengan gorden. LOL. Tapi saya salut terhadap pencetusnya karena mampu memahami tren yang sedang berkembang, meski akhirnya idenya ditiru banyak orang dan beredar secara pasaran.
Tidak Melulu Mengikuti Perkembangan Tren
Menyediakan barang yang sesuai tren memang bisa dikatakan cepat laku, tetapi pernahkah terbayang jika tren itu sudah tidak ngehits lagi? Saya punya stok baju hits beberapa waktu silam, masih baru dan kalaupun dipasarkan saya yakin jawaban teman-teman saya sudah tidak jaman lagi. Inilah deritanya jika berdagang baju, karena akan selalu mengikuti tren.
Mau Bekerja Keras
Setiap pagi hingga sore hari, selalu saja ada pengendara motor yang membawa barang dagangan di sisi depan dan belakang. Saya pun sempat merasakan beberapa saat membawa dagangan hilir mudik, lalu malam masih memotret dagangan. Sudah dapat uang, sudah ada yang ingin meminjam hasil penjualan. Hahaha.
Berhati Baja
Selain memasarkan pada teman sendiri, perlu juga lho posting di grup jualan, kalau perlu di grup jual barang bekas. Biasanya kalau menghadapi yang namanya emak-emak selain suka menawar harga lombok juga sering menawar harga dagangan. Untungnya karena sudah emak-emak juga, sedikit banyak mulai terbiasa menangkis tawaran yang tidak masuk akal.
Tambah lagi jika menawarkan kepada teman sendiri, selain minta harga teman juga terkadang masih minta gratis ongkos kirim. Bahkan ada juga yang tidak sungkan meminta sebagai kado untuk anaknya. Krik.. krik..
Tetapi saya bersyukur, saya memiliki banyak teman yang terkadang tidak ingin dikasih diskon, karena mereka niatnya ikhlas ingin membantu saya. Alhamdulillah, semoga Allah terus melimpahkan rejekinya untuk mereka.
Nah kan, ada untungnya juga memudahkan rejeki teman tanpa perlu menawar, kita jadi didoakan oleh teman kita.
Banyak Berdoa
Segiat apapun usaha kita jika tidak diimbangi dengan banyak doa juga tidak akan berjalan mulus, juga ditambah dengan penderitaan yang dihadapi. Semakin berat penderitaan yang kamu jalani dalam kehidupan ini semakin dimudahkan usahamu untuk meraih rejeki, asal tidak ada yang siap menampung untuk dipinjam. Sebaiknya jika laku, diam saja. Menang lomba juga diam saja, kecuali kita memang ingin ngasih, karena kalau pinjam jatuhnya tidak ikhlas dan dipikir sampai maag kumat. LOL.
Setelah dipikir-pikir lama, akhirnya saya tahu. Berdagang memang mengikuti perbuatan Rasul tetapi jika cara berdagangnya seperti mereka, saya tidak mau. Saya ingin menjadi pengusaha yang tidak akan menyedot uang pendidikan anak sendiri. Doakan ya. Hahahaha.






Kadang memulai usaha suka down duluan, takut inilah takut itulah, bener harus berhati baja.
BalasHapusKalau sama temen apalagi saudara suka minta murah wkwkwk mendingan sama orang lain jualnya :p
BalasHapusMemang kita harus berhati baja! Gimana enggak, teman-teman pada minta gratisan. Bukannya pelit sih, cuman masa sama brand lain yg gak kenal pula mereka mau beli, pas ama kita yang katanya teman mereka malah minta gratis.Bukannya mereka harus mendukung teman ya? Apa perasaan aku aja? *Malah curhat di blog orang lain hahaha*
BalasHapusamiiinnnnn, smoga sgera terwujud ya mbak ran, :)
BalasHapusPas kmarin ikut acara yg mbahas usaha, pertama kudu perbaiki pikiran pengusaha kita, Mbak
BalasHapusAminin buat doanya
Terutama dengab yang ngutang nih. Awal2 memulai usaha dulu emang suka dongkol dengan yang ngutang. Tapi lama-lama mulai berani tegas. Kalo mereka pede ngutang, kita kudu pede juga menangkis utang. :D
BalasHapusiya doong doa jangan lupa
BalasHapusBerhati baja itu nomor 1 banget.
BalasHapusSuami wirausaha mbak, dan semangatnya itu juara. Padahal dagangannya sempat jelek banget (maksudnya gak sesuai pasar) tpi gitu pantang menyerah orangnya. Mindsetnya terbina dari kecil untuk berusaha mandiri.
*hai suami, baca ini ya*
Hihihi, dulu pas awal memulai usaha suka dongkol dengan yang suka ngutang. Lama-lama kami mulai berani tegas. Ya, kalo enggak tegas, bisa gigit jari entar. Barang dagangan habis, uangnya dikit karena banyak diutang. :D
BalasHapussaya setuju utk gak selalu mengikuti trend krn cepet banget gantinya... untung2an lah ada model baju yang bisa lumayan agak lama bs dipakai... Semoga sukses ya Ran dengan usahanya, amin.
BalasHapus