Setiap orang pasti pernah merasakan titik balik kehidupan. Guru biologiku dulu pernah bilang, ada kemungkinan orang akan mengalami titik jenuh itu saat berumur 30 tahun. Saat itu umurku masih 16 tahun dan aku sama sekali nggak mudeng maksud beliau. Hingga kini..
Qadarullah aku dikasih kesempatan kuliah di Jurusan Matematika, pelajaran yang paling favorit di masa-masa sekolah. Cintaku pada matematika tidak bisa terbantahkan lagi, aku nekat ikut lomba matematika apapun kala umurku masih belasan tahun dulu.
Matematika memang melatih logikaku, bila rata-rata perempuan pada suka baper-an, aku justru sebaliknya, aku lebih mengutamakan logika daripada perasaan. Makanya ketika seisi kelas di kelas matrikulasi kala itu pada suka terharu biru, aku dengan lempengnya menghadapi situasi kala itu. Ataukah aku yang memang kurang peka terhadap situasi dan kondisi di lapangan.
Tetapi bila harus memilih kembali..
Ingin Kembali ke Masa Itu
Seandainya saja dalam semalam aku bisa melakukan perjalanan waktu, aku ingin kembali saat aku kelas 3 SMA.
Mengapa? Apa karena cinta pertama? cinta pertama bullshit! Jaman SMA aku terlalu sibuk dengan pelajaran, terlalu sibuk mengejar ranking dan nilai agar dapat kesempatan PMDK, jadi nggak terlalu konsen sama yang namanya bebogohan.
Terus kenapa ingin kembali ke kelas 3 SMA?
Ya bukan kelas 3 SMA nya sih, kalau boleh pas kenaikan dari kelas 2 menuju ke kelas 3. Wkwkkk sami mawon yah!
Kelas 3 SMA waktu itu merupakan titik nadi awal untuk menentukan langkah masa depan selanjutnya. Ingin mengulangi pelajaran-pelajaran jaman sekolah dan ingin bisa menentukan jurusan perkuliahan yang tepat.
Menyesali Matematika Sebagai Jurusan?
Tidak ada yang salah dengan matematika, jika saja para istri dari mantan-mantan bukan dari jurusan matematika mungkin aku nggak akan menyesal, hahahha.
Bercanda aja lho, jangan mutung ya dear istrinya mantan.
Lagipula aku di kelas kayaknya disayangi sama teman-temanku sih, walaupun dulu rada telmi di kelas tapi masih lolos aja dengan IPK 3 mepet.
Terus kenapa menyesali matematika sebagai jurusan? Ah tidak juga, hanya saja merasa salah sasaran.
Bila saja waktu itu aku nggak ikut SP campur sama anak Pendidikan Matematika, aku nggak akan pernah tahu kalau meskipun kami sama-sama berasal dari Jurusan Matematika tapi level soalnya itu beda banget dan ini termasuk salah satu yang bikin males ikut kuliah selanjutnya, yah walaupun akhirnya skripsi juga deh waktu itu. T_T
Kesannya kenapa harus dibeda-bedakan antara anak matematika dan anak pendidikan matematika? Why? oh why?
Akan Kembali dan Ikut Test Jurusan Lain
Saat kembali ke masa kelas 3, aku pengen ikut test dari perguruan tinggi yang mengarahkan anak didiknya ke fashion designer.
Sebenarnya sedari kecil, aku suka ngegambar fashion dan baju-baju, terutama gambar kebaya. Desainnya juga suka bikin yang printilan-printilan kecil. Waktu itu di Unnes sebenarnya juga sudah ada jurusan Tata Busana, tapi pendaftarnya MasyaAllah. Aku pesimistis, ini orang-orang yang mendaftar pasti pada udah jago duluan. Lha aku piye? T_T
Harus aku akui waktu dulu aku orangnya kuper banget, jaman SMA itu buta banget mau masuk apa kuliahnya. Ketika teman-temanku yang lain pada ikut test STAN, aku nggak tahu daftarnya di mana dan testnya di mana, padahal pengen juga ngerasain ikut ngerjain test STAN. Bila saja uangnya belum habis buat bayar kost-kostan 1 tahun dibayar lunas, mungkin aku udah bisa ngerasain ikut test SPMB (sekarang istilahnya SNMPTN ya?) T_T
Padahal untuk menjadi fashion designer, seharusnya aku tahu bahwa lubang menuju ke sana itu bisa juga ambil jurusan Kriya Seni / Tekstil di UNS, D3 Batik Fashion di ISI Yogyakarta dll. Maaf ya hanya menyebutkan area Jawa Tengah dan sekitar, soalnya pasti Bapak Ibu nggak ngijinin juga kalau kuliahnya harus di luar Jawa Tengah dan DIY.
Sekolah-sekolah fashion designer ternyata ada banyak di Indonesia, googling aja.
Kalau kalian minat dengan fashion designer, banggalah dengan pilihanmu karena tidak semua orang tahu dan menemukan bakatnya selagi mereka masih sangat belia. Nggak usah dengerin kata orang-orang yang menentukan tujuan kuliah hanya karena prestidge dan harga diri. Kuliah itu lumayan lama dan menguras tenaga dan emosi, jangan sampai kamu juga ingin kembali ke masa-masa SMA setelah kamu dewasa 😏
Tatkala masih belia, pasti banyak yang mencibir ambil jurusan kok Tata Busana, Fashion designer dll? Cuma menjahit gitu pake kuliah? Duh kasihan ya hidupnya yang tanya gitu, kurang gaul cem awak dulu, xixixi.
Mungkin sekarang ya aku nggak kerja di bidang ini lagi, mungkin pindah ke toko fashion, ke brand fashion besar, atau bahkan punya brand tersendiri. Bila tidak berhasil kesemuanya, masih ada lowongan menjadi penulis majalah fashion atau website niche fashion.
Banyak ya sebenarnya celah kalau mau digali lebih dalam.
Tapi kalau disuruh ganti jodoh? Ng.. Nop thank you overall.
Mau Jadi Apa dengan Minat Fashion Designer
Tatkala masih belia, pasti banyak yang mencibir ambil jurusan kok Tata Busana, Fashion designer dll? Cuma menjahit gitu pake kuliah? Duh kasihan ya hidupnya yang tanya gitu, kurang gaul cem awak dulu, xixixi.
Mungkin sekarang ya aku nggak kerja di bidang ini lagi, mungkin pindah ke toko fashion, ke brand fashion besar, atau bahkan punya brand tersendiri. Bila tidak berhasil kesemuanya, masih ada lowongan menjadi penulis majalah fashion atau website niche fashion.
Banyak ya sebenarnya celah kalau mau digali lebih dalam.
Tapi kalau disuruh ganti jodoh? Ng.. Nop thank you overall.






Mbak Ran, aslinya aku baru nulis tentang penyesalan juga sih.. Cek deh tulisan yang judulnya "Berjalanlah di Atas Kekuranganmu Maka Kamu Akan Unggul Di Situ". Aku pernah merasa menyesal kenapa aku harus sekolah di SMA 1. Bikin minder aja. Wkwkwk..
BalasHapusMbak Arin belum pernah merasakan sekolah di sekolah pinggiran, di mana terbiasa hidup nyante bersama teman-teman tetiba kaget masuk di jurusan yang anaknya semua cerdas-cerdas.
Hapus