Assalamu Alaikum Sahabat Ran ❤
Suasana sore itu mendadak hening ketika Ibu Ketua PKK di RT kami memberikan wejangan di sela-sela arisan bulanan. Dengan senyum hangat namun tatapan yang bersungguh-sungguh, beliau mengingatkan sebuah siklus tahunan yang sebentar lagi akan dihadapi oleh seluruh orang tua yaitu musim penerimaan rapor.
"Anak-anak sebentar lagi menerima rapor, jangan dibanding-bandingkan dengan anak lain," ujar beliau, sembari dengan jenaka memperagakan gestur tubuh orang tua yang sedang mengomeli anaknya, "Oh, kowe kok gak iso podho kae bijine (Oh, kamu kok tidak bisa sama seperti dia nilainya)?" Kalimat sederhana berbahasa Jawa itu disambut tawa kecil oleh para ibu yang hadir. Namun, di balik tawa tersebut, ada kebenaran menohok yang tertanam di kepalaku. Ibu Ketua PKK mengingatkan sebuah hakikat yang sering kali kabur oleh ego dewasa di mana setiap anak, apalagi darah daging kita sendiri, terlahir istimewa dengan ritme dan potensinya masing-masing. Rapor hanyalah selembar kertas berisi angka, ia bukan timbangan untuk mengukur harga diri seorang anak, apalagi menjadi bahan pacuan untuk balapan antar-orang tua.
Kilas Balik 30 Tahun Lalu, dengan Sebuah Perjuangan Sunyi di Baleendah
Wejangan dari Ibu Ketua PKK sore itu seketika melempar ingatanku pada mesin waktu, mundur ke masa 3 dekade yang lalu. *lawas pisan. Aku teringat kembali momen ketika keluarga kami harus pindah rumah, dan aku harus bersekolah di SDN Galih Pawarti, Baleendah, Bandung.
Saat itu, ibuku sempat diliputi rasa waswas yang luar biasa. Mengapa? Karena di lingkungan baru tersebut, iklim belajarnya terkenal sangat kompetitif. Anak-anak di Baleendah saat itu rata-rata sudah mengikuti berbagai lembaga les akademik yang bergengsi. Sementara aku? Kami hanya mengandalkan apa yang bisa dipelajari di rumah secara mandiri.
Namun, ada satu hal yang paling aku syukuri dari cara Ibu mendidik aku dulu. Di tengah rasa khawatirnya, Ibu tidak pernah sekalipun memprotes sistem sekolah, tidak juga panik melihat anak orang lain yang fasilitas belajarnya lebih mentereng. Kami benar-benar berjuang sendiri, fokus pada buku-buku di meja sendiri, tanpa sedikit pun menengok atau merendahkan proses belajar teman-teman yang lain.
Baca Juga: "Drama Kisi-Kisi dan Mental Health"
Hasilnya? Alhamdulillah, tanpa perlu ikut arus kepanikan, aku ternyata tetap bisa bersaing secara sehat dengan teman-teman yang pintar di kelas. Pengalaman masa kecil ini memberiku sebuah pelajaran berharga, bersaing dengan sehat itu lahir ketika kita fokus pada kapasitas diri, bukan karena sibuk mengintip halaman rumput tetangga yang terlihat lebih hijau.
Realitas Di Masa Kini, Sebuah Jebakan Kompetisi Digital
Sayangnya, lanskap dunia pendidikan hari ini sudah jauh berubah. Tantangan dunia parenting modern terasa berkali-kali lipat lebih berat dibandingkan era orang tua kita dulu. Kehadiran media sosial dan grup percakapan instan antar-orang tua murid sering kali menjadi bahan bakar yang menyalakan api kecemasan.
Ketika melihat anak orang lain sudah mahir ini-itu, mengikuti les di sana-sini, atau mendapatkan nilai yang sempurna, ada bisikan halus di dalam hati para ibu yang memicu rasa tidak aman. Apakah anak saya tertinggal? Apakah aku kurang maksimal mendidiknya?
Kepanikan-kepanikan massal ini terkadang membuat kita lupa pada esensi dasar dari mendidik. Kita menjadi begitu kompetitif, bahkan tanpa sadar membebani pundak anak-anak kita dengan ambisi-ambisi yang bukan milik mereka. Padahal, jika kita mau menengok ke belahan kota lain, atau bahkan sekadar mengamati ruang kelas sebelah, kita akan menemukan bahwa masih banyak orang tua yang memilih untuk tetap "waras" dan tenang di tengah badai kompetisi ini.
Aku melihat banyak teman-temanku di berbagai kota yang anaknya juga belajar secara mandiri di rumah—tanpa jejalan jadwal les yang padat—tetap bertumbuh dengan bahagia. Mereka, para orang tua ini, sama sekali tidak pernah merasa perlu membandingkan pencapaian anaknya dengan anak orang lain. Mereka paham betul bahwa mengasuh anak bukanlah sebuah perlombaan lari cepat (sprint), melainkan sebuah jalan panjang (marathon) yang membutuhkan ketahanan mental.
Filosofi dari Solo tentang Mengalahkan Diri yang Kemarin
Salah satu pendekatan yang paling aku kagumi datang dari seorang teman yang tinggal di Solo. Mbak Arinta di dalam sebuah obrolan, dia membagikan cara dia menanamkan mentalitas belajar pada anaknya. Alih-alih menyuruh anaknya melihat si A atau si B yang menjadi juara kelas, dia selalu berpesan kepada buah hatinya untuk membandingkan dirinya dengan dirinya sendiri di masa lalu.
"Musuh terbesar itu sebenarnya adalah dirimu sendiri, bukan orang lain," begitu prinsip yang selalu dia ajarkan pada sang anak.
Jika bulan lalu anak kita belum lancar membaca dan bulan ini dia sudah bisa mengeja satu kalimat dengan baik, bukankah itu sebuah kemenangan besar yang patut dirayakan? Jika ujian semester lalu dia mendapatkan nilai 60 karena kurang teliti, dan ujian kali ini dia mendapatkan nilai 70 karena belajar lebih giat, bukankah itu sebuah pembuktian bahwa proses tidak pernah mengkhianati hasil?
Ketika fokus anak dialihkan dari "Bagaimana cara mengalahkan orang lain" menjadi "Bagaimana cara memperbaiki diri dari yang kemarin", maka beban berat di pundaknya akan luruh. Belajar tidak lagi menjadi momok yang menakutkan karena dihantui bayang-bayang kegagalan, melainkan sebuah petualangan yang menyenangkan untuk memecahkan rekor pribadi mereka sendiri.
Menjadi Ruang Aman bagi Anak
Mendengar kata "bunda belajar" di berbagai komunitas parenting, bikin aku jadi sering merenung. Ya, frasa tersebut sejatinya mengingatkan bahwa proses belajar ini bukan hanya milik anak yang sedang memegang pensil dan buku di kamarnya. Kita, sebagai seorang Ibu atau Mamah, adalah sosok yang paling pertama harus terus belajar dan berbenah diri.
Kita perlu belajar mengelola kecemasan kita sendiri. Kita perlu belajar menyaring mana informasi yang membangun dan mana yang hanya memicu kepanikan moral. Ketika kita melihat ada orang tua lain yang menerapkan pola asuh yang sangat kompetitif hingga mengorbankan ketenangan jiwa anaknya, tugas kita bukanlah ikut-ikutan atau justru menghakimi, melainkan kembali memeluk anak kita sendiri dan meyakinkan mereka bahwa mereka aman di rumah ini.
Dunia di luar sana sudah cukup keras menuntut anak-anak kita untuk menjadi sempurna. Sekolah, lingkungan pertemanan, dan kelak dunia kerja akan selalu menyodorkan standar-standar pencapaian yang melelahkan. Jika di dalam rumah sendiri mereka masih harus menghadapi tuntutan yang sama dari ibunya, lalu ke mana lagi mereka akan mencari tempat untuk bersandar?
Penutup, Merayakan Setiap Rapor Kehidupan
Rapor yang akan diterima anak-anak kita sebentar lagi adalah cerminan dari satu fase perjalanan yang telah mereka lalui. Apa pun angka yang tertera di sana, peluklah mereka dengan kehangatan yang sama. Jika nilainya memuaskan, apresiasi kerja kerasnya. Jika nilainya belum sesuai harapan, duduklah bersama mereka, peluk bahunya, dan ajak mereka berdiskusi secara sehat, "Bagian mana yang bisa kita perbaiki bersama untuk hari esok?"
Mendidik dengan hati dalam bingkai parenting yang sehat adalah tentang kerelaan untuk melihat anak sebagai individu yang utuh, bukan sebagai piala berjalan untuk dipamerkan ke sekeliling kita. Mari kita kembalikan ruang belajar anak menjadi ruang yang merdeka, sehat, dan penuh dengan penghargaan atas setiap proses sekecil apa pun. Karena pada akhirnya, kemenangan sejati seorang anak adalah ketika dia berhasil melangkah lebih maju dari dirinya yang kemarin, di atas kakinya sendiri.
Semoga kita berhasil melewati dan terus menyertai langkah anak-anak kita dalam berproses dalam kehidupannya. Terima kasih yang sudah membaca sampai akhir, sampai jumpa lagi di cerita selanjutnya.





Bacanya ikut sejuuuuuk hati 😍👍.
BalasHapusAku pun lebih santai dalam mendidik anak mbak . Kalau banding2in ga pernah lah. Krn tahu masing2 anak berbeda. Semakin dibandingin yg ada mereka semakin tertekan dan malas nantinya.
Bagus juga cara di atas. Membiasakan anak untuk memperbaiki diri mereka sendiri terus menerus. Jadi ga ada kompetisi yg ga sehat dengan teman2nya. Serem kalau liat persaingan anak zaman skr.
Aku mau membiasakan anak2ku juga soal memperbaiki diri sendiri ini . Sehingga fokus mereka bisa berubah untuk improve skill dirinya sendiri