Drama Kisi-Kisi dan Mental Health, Ibu Lelah Sekali

    Dunia pendidikan anak-anak kita hari ini ternyata tidak hanya sebatas membaca buku, menghafal rumus, atau mengerjakan pekerjaan rumah. Di balik dinding-dinding kelas yang terlihat damai, ada dinamika sosial yang kerap kali menguras emosi—tidak hanya bagi anak-anak, tetapi juga bagi kita, para ibu yang berdiri di belakang mereka. Hari ini, hatiku rasanya benar-benar lelah. Tubuh dan pikiran seperti enggan berkompromi, ditambah lagi dengan siklus bulanan (PMS) yang membuat fluktuasi emosi terasa dua kali lipat lebih hebat. Rasanya ingin marah, ingin mengamuk menyuarakan ketidakadilan, tetapi di saat yang sama, energiku rasanya sudah habis dan mental ini ikut drop.

    Semua ini bermula dari sebuah kesalahpahaman yang terjadi di ruang kelas anakku. Sebagai orang tua, kita tentu ingin memberikan yang terbaik untuk menunjang pendidikan anak. Salah satu ikhtiar yang kami lakukan adalah memfasilitasi anak dengan bimbingan belajar atau les di luar jam sekolah. Tujuannya sederhana, bukan untuk pamer, bukan untuk bersaing secara tidak sehat, dan jelas bukan untuk menyaingi siapa pun—termasuk seorang anak perempuan di kelasnya, sebut saja namanya Mawar, yang memang dikenal pintar secara akademis. Anakku les semata-mata agar dia bisa memahami materi pelajaran dengan lebih baik, lebih siap menghadapi ujian, dan membangun rasa percaya dirinya.


drama-kisi-kisi-dan-mental-health


    Namun, situasi menjadi keruh ketika guru les anakku memberikan kisi-kisi soal. Bagi anak-anak yang mengikuti rombongan belajar (rombel) les tersebut, kisi-kisi ini adalah peta pemandu untuk memfokuskan apa yang perlu dipelajari. Sesuatu yang lumrah terjadi di dunia perlesan. Masalah besar muncul ketika si Mawar, yang kebetulan tidak ikut les, mengetahui hal ini. Entah bagaimana sudut pandangnya terbentuk, Mawar justru menyalahkan anakku dan teman-teman satu rombel lesnya. Hal yang membuat hatiku hancur adalah dampak psikologisnya pada anakku sekarang. Anakku, yang biasanya bersemangat, kini didera rasa takut yang luar biasa untuk sekadar belajar di dalam kelas. Dia trauma dan takut dituduh atau dikira menyontek oleh Mawar dan teman-teman lainnya hanya karena dia tahu apa yang harus dipelajari.

    Pada akhirnya, pihak sekolah atau guru mengambil jalan tengah. Kisi-kisi tersebut akhirnya disebarkan dan dibuat untuk umum agar bisa diakses oleh seluruh siswa. Secara logika, masalah teknis mungkin selesai sampai di sini. Semua anak mendapatkan hak yang sama. Namun, sebagai seorang ibu, rasa tidak adil itu tetap mengganjal di dada dan meninggalkan luka yang lumayan dalam.

    Hal yang paling membuat mentalku drop adalah narasi yang dilemparkan oleh ibunya Mawar. Beliau dengan lantang menyuarakan bahwa akibat kejadian ini, mental health atau kesehatan mental anaknya menjadi terganggu. Mendengar kata mental health dibawa-bawa, rasanya dada ini sesak. Mengapa? Karena tanpa sang ibu sadari, demi membela ego dan perasaan anaknya sendiri, dia sedang menyerang dan meruntuhkan mental health anak-anak lain—termasuk anakku—yang sudah bersusah payah membagi waktu antara sekolah dan les.

    Anakku harus beristirahat lebih sore, menahan kantuk, dan memeras otak di tempat les, sementara anak-anak lain mungkin sudah bisa bersantai di rumah. Apakah perjuangan, rasa lelah, dan keringat anak-anak yang les ini tidak berharga? Mengapa kerja keras mereka harus dilabeli secara negatif seolah-olah mereka melakukan kecurangan? Ini sungguh tidak adil. Tuduhan bahwa anakku "curang" atau "menyontek" secara tidak langsung telah membunuh karakter dan rasa percaya diri anakku yang sedang tumbuh.

    Saat ini, di tengah masa-masa PMS yang membuat badanku pegal dan emosiku sensitif, aku terjebak dalam lingkaran kelelahan mental. Di satu sisi, insting keibuanku berteriak ingin melindungi anakku, ingin meluruskan stigma, dan menuntut keadilan. Di sisi lain, aku merasa tidak punya energi lagi untuk berdebat dengan drama sekolah yang melelahkan ini.

"Bagaimana mungkin kita bisa mengajarkan sportivitas kepada anak-anak, jika orang tua sendiri masih sering terjebak dalam rasa iri dan salah paham terhadap proses belajar anak lain?"

    Merenungkan masalah ini terus-menerus di dalam rumah yang sumpek rasanya justru membuat kepalaku semakin pening. Mungkin, menetap di dalam kamar dan terus memikirkan ketidakadilan ini bukanlah solusi yang bijak. Pikiran ini tiba-tiba melayang pada salah satu temanku, Mbak Suci. Beliau adalah seorang travel blogger asal Medan yang selalu tampak bugar, berpikiran terbuka, dan penuh energi positif. Melalui tulisan-tulisannya, aku sering melihat bagaimana dia mengeksplorasi tempat-tempat baru dan menemukan ketenangan di tengah alam. Seperti temanku Mbak Suci yang seorang travel blogger medan, mungkin bepergian akan membuat hati lebih sedikit tenang kali ya?

    Melihat bagaimana Mbak Suci menyembuhkan kejenuhan lewat perjalanan membuatku sadar bahwa aku dan anakku mungkin butuh jeda singkat dari rutinitas dan drama sekolah ini. Menghirup udara segar di luar ruangan, menjauh sejenak dari grup WhatsApp sekolah, dan membiarkan mata memandang hamparan hijau tampaknya menjadi opsi penyembuhan yang realistis saat ini.

    Kami butuh melakukan outdoor activity. Mengajak anakku melakukan aktivitas luar ruangan—entah itu sekadar berjalan santai di taman kota, piknik kecil di tepi danau, atau menghabiskan akhir pekan di tempat terbuka—mungkin bisa menjadi obat penawar bagi kesehatan mental kami yang sama-sama sedang terluka. Melalui outdoor activity, aku ingin mengalihkan fokus anakku. Aku ingin menunjukkan kepadanya bahwa dunia ini sangat luas, jauh lebih luas daripada ruang kelasnya yang saat ini terasa mencekam. Aku ingin dia tahu bahwa di luar sana, ada udara bebas yang siap dihirup tanpa ketakutan, dan ada ruang untuk bergerak tanpa perlu takut dihakimi secara sepihak.

    Aktivitas di alam terbuka juga memiliki kekuatan magis untuk meredakan ketegangan fisik akibat PMS yang sedang kualami. Sentuhan angin, sinar matahari pagi, dan aroma tanah basah dipercaya mampu menurunkan hormon stres (kortisol) dan meningkatkan hormon kebahagiaan (endorfin). Dengan begitu, fisik yang lelah ini bisa sedikit pulih, dan pikiran yang tadinya penuh dengan amarah bisa perlahan-lahan mengendap menjadi sebuah keikhlasan.

    Pada akhirnya, aku harus belajar melepaskan apa yang tidak bisa kukendalikan. Aku tidak bisa mengendalikan bagaimana cara pandang orang lain, aku tidak bisa memaksa ibu Mawar untuk memahami perjuangan anakku, dan aku tidak bisa mengubah fakta bahwa kisi-kisi itu kini telah menjadi milik umum. Namun, yang bisa kukendalikan adalah bagaimana aku menjaga mental anakku dan mentalku sendiri.

    Kami akan mengambil jeda ini. Kami akan melangkah keluar rumah, menikmati outdoor activity, dan mungkin merencanakan sebuah perjalanan kecil seperti yang sering dilakukan Mbak Suci si travel blogger Medan itu. Drama sekolah biarlah berlalu bersama waktu, yang terpenting sekarang adalah memulihkan senyum anakku dan mengembalikan kewarasanku sebagai seorang ibu. Karena ibu yang bahagia dan waras adalah benteng terkuat bagi anak yang sedang mencari arah di dunia yang kadang terasa tidak adil ini.

3 komentar

  1. Waaah drama nya ribet juga ya mba, kalau menyangkut ibu2 lain ini. Paham kok, Krn aku pernah mengalami juga, walau case nya beda.

    Kalau aku memang tipe cuek sih. Dan anak2 aku ajarin utk cuek juga. Yg penting mereka belajar dan mengerjakan ujian secara jujur. Bukan Krn mencontek atau dpt soal diam2. Kisi2 kan hanya prediksi , bukan soal yg akan 100% kluar. JD buatku ga ada masalah. Makanya anak2 aku tekanin dlm hal itu. Ga usah dengerin temen atau jbu2 murid yg kayak tantrum sendiri hanya Krn iri anaknya ga dpt kisi2 dari les. Pada akhirnya sekolah JD turun tangan

    Tapi jeda yg mba lakuin, udah bener kok 😄👍. Kdg kala kalau memang udh stress banget dengan berbagai masalah, akupun ajak anak2 utk liburan sejenak. Yg Deket aja, atau yg sesuai keinginan mereka. Supaya ga kepikiran Ama hal2 yg ga penting di sekolah.

    BalasHapus
  2. Playing victim banget kan ibunya Mawar. Aslinya mbak Rani memasukkan anak ke tempat les agar dia lebih giat latihan soal dan belajar, jadi hasilnya bagus. Mengenai kisi-kisi kan guru les yang ngasih, bukan ortu yang request.
    Semoga anaknya lebih cool dan tak lagi takut belajar di sekolah yaa.

    BalasHapus
  3. Kalau buat Saya biarin ajalah apa kata Ibu itu, soalnya kita kan kasi yg terbaik buat anak sendiri. Selama tidak merugikan orang lain. Kalau dia merasa rugi sendiri, kebanyak orang tidak, itu masalah dia sendiri. Dan perlu istirahat juga dari berbagai rutinitas yang ada selama ini supaya lebih segar pikiran Kita.

    BalasHapus

Thank you for stopping by 🥰

Terima kasih untuk tidak berkomentar menggunakan URL ARTIKEL and please jangan tinggalkan link hidup ya, sayang 😘

Sharing is caring, tapi aku bakalan sedih banget kalau tulisanku di copy paste buat blogmu. So, klik tombol share aja ya
(゚▽^*)☆

Lalu.. Demi bisa berkomentarlah secara ksatria, silakan berkomentar menggunakan akun Google ya 😁😁😁