Apakah mungkin, menyatukan hobi menonton dan menulis dijadikan satu? Oh tentu saja bisa.
***
Assalamu alaikum Sahabat Ran.
Menonton drama Korea atau biasa disingkat drakor bagi sebagian orang merupakan proses healing, meskipun tidak sedikit yang mencibir hobi menonton drakor tersebut. Alih-alih saling mendukung, sebagian ada yang mengatakan, "Lebih baik membaca Al Quran dan hadist daripada menonton drama korea yang tidak berfaedah."
Ya kalau dipikir, ada benarnya juga sih, meskipun ya sebetulnya menonton drama Korea itu tidak sepenuhnya buruk juga.
Mungkin yang mengatakan hal tersebut, imannya sudah berlimpah ruah, sampai-sampai masih sempat mencibir orang, #eh.
Eh bukan mencibir sih kata mereka, tapi saling mengingatkan sebagai sesama muslim. Katanya begitu.
Alhamdulillah, sampai saat ini, aku tidak berada di dalam circle yang suka mencibirku tentang drama Korea. Komen paling menusuk yang pernah aku dapat itu sebatas, "Aku tuh nggak mudeng drama Korea, soalnya wajahnya hampir sama semua."
Alhamdulillah ya, komennya cuma sebatas itu. Ini pun sebenarnya tidak hanya terjadi pada sang komentator itu lho! Aku aja, kalau diajak nonton drama India, drama Turki, apapun lah drama berbau Timur Tengah, itu aku juga bingung lho bedain wajah aktor dan aktrisnya. Soalnya mirip-mirip semua. Untunglah, aku masih bisa membedakan wajah Arya Saloka dan Rayn Wijaya.
Semua berawal dari kebiasaan melihat kan?
Jangankan aktor, kadang kakak beradik aja, kita masih susah membedakan lho.
Halah, ini mau ngomongin drama dan literasi kok malah ke mana-mana. Jadi gini lho, aku tuh sebenarnya cuma mau cerita, bahwa menonton drama Korea itu tidak sepenuhnya buruk. Sebut saja 7 Alasan Suka Nonton Drama Korea. Bahkan, sekarang ini, semakin maraknya jumlah penonton drama Korea, hampir semua influencer perempuan suka membuat konten berbasis drama korea.
Ya, sebab dengan begitu, pesannya jadi lebih masuk, karena memang musimnya lagi begitu.
Hampir mirip-mirip dengan para influencer tersebut, akhirnya aku juga membuat konten berbau drama Korea. Meskipun, konten yang aku buat baru sebatas di blog. Belum sepenuhnya beralih ke Instagram apalagi TikTok. Untuk saat ini, aku masih menikmati menulis dalam blog.
Nanti saja kayaknya kalau jumlah subscriber blog ini sudah mencapai 1.000 orang, maka insya Allah, aku akan rajin membuat konten di Instagram. Xixixi..
Bicara lagi tentang drakor dan literasi, basisnya literasi kita itu kan (monmaaf) rendah ya, maka dari itu, ada baiknya menyisipkan drakor ke dalam konten-konten seperti Instagram, blog, ataupun media sosial lainnya. Sebetulnya, masyarakat kita itu pada pintar-pintar kan, kebanyakan dari kita lebih suka belajar dari video, microblog, ataupun hal teknik lainnya. Membaca buku? Duh, monmaaf, perpustakaan kita jarang yang penuh dengan orang. Mungkin kalau toko semacam Gramedia yang komiknya terkadang banyak yang sudah terbuka segelnya, itu banyak banget yang nongkrong buat baca. Udah literasi rendah, maunya modal gratisan baca buku yang sudah terbuka segelnya.
And then, I know, kenapa sekarang kebanyakan buku dijual secara Pre Order sama para penulisnya. Ya itu tadi, kalau dijual di toko buku dan kebuka segelnya, akhirnya tidak jadi dibeli deh. Jiahahaha.. Padahal aku yakin, alasan banyak penulis membuat sistem PO itu ya karena ada sebab dan akibatnya. Lebih yakin sih kalau sebenarnya semua penulis ingin bukunya berada di jajaran rak buku yang menjadi best seller.
Menyatukan drakor dan literasi pun juga bisa dijadikan berbagai macam jenis tulisan. Sebut saja ulasan drama, artikel tentang aktor dan aktrisnya, fakta mengenai sebuah drama, bahkan termasuk hikmah hidup dari menonton drama korea. Sementara aku sendiri, lebih mengambil jalur menyinggungkan drakor dengan bahasan yang akan aku bahas.
See, sebenarnya menonton drakor itu tidak selalu buruk, kan? Semua hal ada baik dan negatifnya. Kalaupun tidak suka dengan drakor, ya lebih baik tidak usah mencela, toh semua orang punya hobinya masing-masing.
Bagaimana denganmu? Apa hobimu? Ceritakan yuk di kolom komentar.





Tidak ada komentar
Thank you for stopping by 🥰
Terima kasih untuk tidak berkomentar menggunakan URL ARTIKEL and please jangan tinggalkan link hidup ya, sayang 😘
Sharing is caring, tapi aku bakalan sedih banget kalau tulisanku di copy paste buat blogmu. So, klik tombol share aja ya
(゚▽^*)☆
Lalu.. Demi bisa berkomentarlah secara ksatria, silakan berkomentar menggunakan akun Google ya 😁😁😁