Menjaga Diri dari Kekerasan Seksual pada Anak

Mbak Emma mengawali diskusi kali ini dengan sebuah cerita:

Saya sedikit mengawali mengenai kekerasan seksual pada anak..
Jika menilik pengertiannya, ternyata kekerasan seksual itu bisa saya simpulkan berasal dari hal2 kecil..



Misal : gemas pada anak, lalu menepuk pantatnya

Sepertinya sih tidak masalah, tapi jika anak sudah mulai besar dan itu sudah terlanjur dianggap biasa, maka itu bibit pelecehan.

Dan peran lingkungan adalah yang paling penting untuk kasus seperti ini.

Menghilangkan kebiasaan2 kecil yang tidak layak, harus dilakukan semua orang

Contoh lain : bersiul pada perempuan, memanggil dengan genit, memangku keponakan yg beda kelamin, dsb

Meskipun konteksnya bercanda, hal seperti itu tdk boleh lagi menjadi bahan candaan.

Lingkungan yg apatis merupakan sumber dari kesempatan menjadikan pelecehan berkembang subur

Saya sedikit cerita,

Salah satu dampingan saya, memiliki anak dengan keterbatasan mental. Dan bbrp wktu yg lalu, si anak diperkosa oleh tetangganya sendiri, di rumahnya sndiri.

Kok bisa???

Karena tidak ada yang peduli.

Ortu kerja, anak d rmh sndiri. Tetangga tidak peka.

Lingkungan dampingan saya sebagian besar merupakan kampung yang kumuh dan rapat, pun demikian, pemerkosaan tersebut tetap terjadi. Sang anak yg tdk mampu menyuarakan musibah yg dialaminya, menjadikan kesempatan sang penjahat menjadi leluasa. Sementara itu, tetangga yg menganggap si anak setengah gila, tidak tanggap dengan apa yg sedang terjadi. Sedih sekali...

Mbak Ety: Astaghfirullah, apalagi dg DS memiliki kendala dlm berkomunikasi. Terus ketahuannya gmn mbak ? Eh maaf menyela

Mbak Emma: Ya karena gelagat si anak yang makin mencurigakan mbak. Merasa sakit, gelisah, dsb..

Dan yang paling menyedihkan lagi, si ortu malah merasa malu. Dan tidak mau kasusnya diperpanjang. Bahkan meminta kami agar menutupinya dari orang lain di sektar mereka

Pusing tujuh keliling lah para pendamping waktu itu.

Pada akhirnya keluarga tetap memilih jalan kekeluargaan. Ironis. Inilah lemahnya mentalitas lingkungan kita. Yang tidak bisa kita tutup2i lagi.

Mbak Ety: Pendampingan yg dilakukan seperti apa dan brp lama ?

Mbak Emma: Kami selaku pendamping PKH memang memiliki akses untuk pendampingan baik fisik, mental bahkan sampai hukum. Namun, memang tidak bisa maksimal, karna kami tupoksi nya adalah pada penyaluran bansos dan edukasi saja. Masih belum berani lompat sampai tindakan hukum. Seharusnya aparat terkait yang bisa menangani. Namun jika yang didampingi tidak menghendaki, mau bagaimana lagi??

Kami sudah menyarankan dan mengarahkan untuk lapor ke kepolisian, mereka menolak.

Sedih benar rasanya.

Pertanyaan:
1. Hida

Pertanyaan:
Saya mau bertanya dan mohon solusi nih mba🙏🙏🙏

Ada kasus anak teman saya..
 Jadi anak nya laki-laki ni umurnya baru 3th.. karena ditinggal kerja ibunya dia kalo pagi dititipkan Mbah nya..tapi Mbahnya ini mohon maaf sedikit ada perbedaan perlakuan terhadap dia jika dibandingkan dengan cucunya yang lain.. terkadang sering dicubit dan sering dimarahi bahkan sering diancam kalo mau bereksplorasi..dilarang2..
Nah sekarang anaknya itu sulit untuk dikendalikan kalau udah tantrum..nangis dan mengamuk bahkan terkadang sering melukai dirinya dengan membentur2kan kepalanya..

Mohon saran dan solusinya sikap kita sebagai orang tuanya bagaimana y mba,?

Jawaban dan Tanggapan:
Mbak Emma: Kebiasaan balita suka membenturkan kepala bisa karena ia tidak tau caranya berkomunikasi. Keterbatasan bahasa membuat ia sering tak tau cara menyampaikan maksudnya. Ketika marah, ia bingung cara mengungkapkan perasaannya. Dari cerita mbak Hida, balita ini mungkin saja mengalami tekanan mental yang berat. Kebiasaan menyakiti diri sendiri ini merupakan tanda bahwa dia merasakan tekanan psikologis yang lebih menyakitkan daripada sakit fisik.
Menurut kami kebiasaan balita ini awalnya timbul karena perlakuan nenek yang kurang menyenangkan untuknya. Saran yang bisa diberikan pada ibu ini, diantaranya:
1. Beritahu ibu bahwa masalah ini harus segera diselesaikan agar tidak tambah parah. Memberitahu harus dengan sangat hati2, jangan terkesan ngadu atau "wadul" istilah jawanya. Karena bagaimanapun juga itu adalah masalah keluarga

2. Ibu ajak ayah berkomunikasi apa yang harus mereka lakukan selanjutnya

3. Ibu dan ayah mengajak nenek berdiskusi untuk mencari penyelesaian. Apakah ada yang menyebabkan sang nenek berbeda perlakuan. Apakah masalahnya di sang anak atau sang nenek. Atau bisa jadi masalahnya di ortu nya yg menyebabkan nenek begitu? Karena tak bisa dipungkiri di masa lansia itu, ortu sebenarnya ingin lebih santai, krn tenaga dan fisiknya nya sudah tdk sekuat dl, jadi lebih mudah sensitif. Jika sudah ketemu masalahnya , pasti bisa dicari jalan keluar.

4. Jika memang pekerjaan ibu tidak bisa ditinggalkan, cari pengasuh yang nyaman untuk anak

5. Jika sudah dilakukan dan tidak ada perbaikan, ayah dan ibu bisa mengajak anak berdiskusi ke psikolog untuk penanganan yg profesional

Saya adalah working mom separo stay at home mom separo 😅. Jadi saya cukup paham gimana susahnya nitipin bocah ke orang lain. Saya mengalami beberapa kali ganti pengasuh karena tidak cocok bagi anak. Sama eyangnya mereka cocok, tapi saya bersikeras tidak mau merepotkan mereka. Walhasil memang kudu selektif banget milih pengasuh. Sedikit tips dengan pengasuh, awalilah di hari anda off kerja. Jadi seharian ajari bagaimana anda mengasuh anak2. Jadi mereka bisa mencontoh, kebiasaan, problem solving dsb. Jangan meninggalkan pengasuh begitu saja tanpa ada arahan sebelumnya. Karena mereka bukan orangtua anak2 kita. Kita lah yg lebih tau bagaimana menghadapi anak2.

Mbak Putri: Betul ini mba karena pengasuh butuh arahan dari kita. Dan kalo kata teman saya. Seringlah jg berkomunikasi dengan pengasuh

Mbak Emma: Betul sekali mbak..saya pribadi selalu menganggap.pengasuh adalah rekañ. Jadi biar bisa memiliki gelombang yg sama. Jadi kita pun lebih nyaman dan plong, jika terpaksa harus menitipkan mereka

Mbak Ety: Kalo pengasuhnya lebih tua gmn ?  agar sinkron.. Krn mereka menganggap "sy tuh sdh pengalaman kerja dimana2

Mbak Emma: Saya pernah mbak dapet yg kyk gt 😅 Ya pada akhirnya saya cm kasih liat, bagaimana saya menyelesaikan masalah. Jadi dia mau tdk mau akan mencontoh cara saya menghadapi anak saya. Karena itu yg terbukti ampuh 😅

Pertanyaan 2:
2. Retno - Pekalongan

Pertanyaan:
Aku punya anak usia 6th 10bln nah dia sekarang udah mulai ngga senang kalo dicium-cium sama saudara-saudara (nenek, kakek, om, tante dll). Nah.. kami sih tidak mempermasalahkan, namun dr pihak saudara kadang belum bisa menerima. Bagaimana cara kami memahamkan mereka tanpa menyakiti perasaan mereka dan tetap menghargai anak kami.

Terimakasih 😘

Jawaban dan Tanggapan:
Mbak Emma: Bisa dijelaskan saja ke tiap orang yg mau cium misalnya, kita dengan sopan bilang: maaf ya om, tante..kakak malu kalau dicium. Salim saja ya, kak...
Jadi menggunakan istilah "malu" tidak masalah. Orang pasti paham dan tidak akan memaksa. Toh kita sudah kasih alternatif cara memberi hormat dengan salim

Mbak Putri: Betul ini, semakin besar umur anak. Semakin dia memiliki rasa "risih". Bisa dengan kata "malu" memang. Sy jg begitu. Saya suka bilang ke sodara kalo si kakak udah gede jadi malu.

Mbak Puji: He em bener mba Putri, anak saya jg sudah malu kalau dicium sama saudara

Mbak Putri: Iya dan itu wajar. Apalagi anak laki-laki.

Simpulan:
Dari diskusi hari ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa: kita sebagai orang tua harus selalu ekstra hati-hati dalam pengawasan anak. Sedikit saja kita lengah mengawasi mereka bisa jadi berdampak sangat buruk. Banyak kasus kekerasan pada anak justru terjadi karena ulah orang-orang terdekat. Selain itu, anak harus cukup dibekali dengan ilmu menjaga diri sendiri.

2 komentar

  1. Iya bener ya, tepuk pantat bahkan sampai cubit pantat, dan sedihnya lagi kadang sampai anak udah gedepun tanpa sengaja masih kebawa gemes tepuk pantat.

    Harus kestra lagi mengajarkan anak tentang seksualitas biar dia bisa bereaksi protes kalau ada yang melecehkan tanpa sengaja

    BalasHapus

Thank you for stopping by 🥰

Terima kasih untuk tidak berkomentar menggunakan URL ARTIKEL and please jangan tinggalkan link hidup ya, sayang 😘

Sharing is caring, tapi aku bakalan sedih banget kalau tulisanku di copy paste buat blogmu. So, klik tombol share aja ya
(゚▽^*)☆

Lalu.. Demi bisa berkomentarlah secara ksatria, silakan berkomentar menggunakan akun Google ya 😁😁😁